Friday, December 16, 2011

Tersengat Pedasnya Laba Pecel Bu Tari Menengok tawaran kemitraan Pecel Ponorogo Bu Tari asal Surabaya


Menengok tawaran kemitraan Pecel Ponorogo Bu Tari asal Surabaya
 Pecel adalah makanan tradisional asal Jawa Timur. Sajian ini terdiri dari berbagai macam sayuran, seperti bayam, tauge, kacang panjang, kemangi, kembang turi, kemangi, dan sayuran lainnya yang kemudian diguyur sambal kacang.

Menu sehat ini pun bisa menjadi bisnis yang menggiurkan. Maklum, makanan tradisional ini memang punya banyak penggemar. Tengok saja gerai Pecel Ponorogo Bu Tari. Selalu ada pengunjung yang datang untuk menikmati pecel beserta lauk-pauknya

Melihat peluang dari banyaknya pelanggan, Muhammad Agung Dwi Putra, pemilik yang juga anak Bu Tari pun menawarkan kemitraan Pecel Ponorogo Bu Tari. Nilai investasi untuk membuka gerai ini mencapai Rp 55 juta.

Dengan investasi ini, mitra sudah mendapatkan peralatan dan perlengkapan lengkap, termasuk promosi (papan nama) brosur 1.500 lembar, 12 pasang seragam, software keuangan dan komputer. "Jangka waktu perjanjian selama lima tahun," kata Agung.

Sayangnya, paket investasi belum termasuk biaya transportasi dan akomodasi untuk survei, biaya sewa tempat, pajak serta perijinan. Alhasil, calon mitra pun harus menyiapkan dana tambahan untuk berbagai keperluan itu. Agung pun berharap, mitra menyediakan lokasi gerai dengan ukuran 12x5 m2.

Balik modal 10 bulan

Nama ponorogo sengaja ditampilkan untuk menekankan kekhasan pecel ini. Apalagi, di Jawa Timur, sudah banyak orang yang mengenal gerai Pecel Ponorogo Bu Tari. Agung pun optimis, mitra bisa memikat banyak pengunjung dengan brand pecel ponorogo ini sudah terkenal.

Ada 15 menu yang disajikan di gerai Pecel Ponorogo Bu Tari. Selain dengan nasi, pengunjung bisa menyantap pecel berteman lontong, tepo ponorogo, sate ayam ponorogo, Menjanjikan omzet hingga Rp 1,5 jutaper hari.Karena peceladalah sajiantradisional, mitraharus melakukanadaptasi rasa.lontong tahu, dan lainnya. Di Surabaya, banderol harga berbagai menu ini berkisar Rp 6.000 hingga Rp 15.000.

Saban hari, Agung menjanjikan, mitra bisa memperoleh omzet hingga Rp 1,5 juta atau omzet sebesar Rp 45 juta per bulan. Diis, usaha kemitraan ini akan balik modal selama 10 bulan.

Saat ini, Pecel Ponorogo Bu Tari yang berdiri sejak 2003, sudah membuka dua cabang baru. Sedangkan, mitra yang bergabung sudah berjumlah lima orang. Mereka membuka gerai di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dan Medan.

Menurut Erwin Halim, Pengamat Waralaba, prospek gerai Pecel Ponorogo Bu Tari cukup bagus. "Mereka bisa berkembang hingga lima mitra, itu cukup bagus. Pasalnya, pecel adalah makanan tradisional," tutur Erwin.

Namun, Erwin mengingatkan, jika mitra ingin membuka gerainya di Jakarta atau kota besar lainnya, di luar Jawa Timur, sebaiknya melakukanadaptasi rasa. Soalnya, boleh jadi, tak setiap orang mengenal pecel.

Apalagi, di kota-kota luar Pulau Jawa Mitra perlu melakukan edukasi pasar terlebih dulu, supaya sajian ini dikenal masyarakat. "Seperti kalau buka di Papua, apakah pecel itu akan laku? Pecel ini berbeda dengan nasi padang yang sudah banyak dikenal masyarakat di seluruh daerah," ujar Erwin.

Kompleks Perkantoran
Bumi satria kencana
JL. KH Noer 4
Kalimalang, Bekasi
Telp. (021) 88950934

Sumber   : Kontan, 16/12/2011
Fitri Nur Arifenie

Thursday, December 15, 2011

Tidak Cukup Lagi Mengandalkan Rasa


Bisnis restoran dan kedai masih akan tumbuh seiring kondisi perekonomian yang stabil



Diantara sekian jenis bisnis, bisnis makanan adalah bisnis yang paling gampang ditemui. Selain karena makan adalah kebutuhan pokok, menyantap sesuatu ini juga berkaitan dengan selera bahkan budaya suatu masyarakat.
Sangking populernya bisnis makanan, Pengamat Waralaba dari Proverb Consulting Erwin Halim menyebut, waralaba bisnis makanan mencapai pertumbuhan paling tinggi tahun ini, yaitu antara 10%-15%. Setelah bisnis makanan, bisnis pendidikan menepati posisi kedua sebagai bisnis yang paling gencar pertumbuhan waralabanya. Tahun depan, Erwin masih optimistis bisnis makanan masih akan memimpin.
Hengky Eko Sriyanto, pemilik usaha Bakso Malang Kota Cak Eko, memperkirakan, bisnis kuliner di 2012 masih bakal bertumbuh pesat. Proyeksi Hengky yang juga salah satu pendiri Rhenald kasali School for Entrepreneur ini tak berbeda dengan Erwin. Menurut dia, bisnis kuliner 2012 bakal tumbuh sekitar 15%. “Ada 300 merek bisnis kuliner baru di 2012 dan di 2012 masih akan terus muncul merek baru. Persaingan bakal kian ketat,” tandas dia.
Setidaknya ada tiga faktor yang menopang pertumbuhan bisnis kuliner di tahun mendatang. Pertama,pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sehat alias tidak teroengaruh sentiment negatif dari krisis Eropa. Kedua, inflasi diproyeksikan bakal tetap rendah, kurang 4%. Alhasil daya beli masyarakat akan meningkat terhadap bisnis kuliner yang harganya cenderung tidak bergerak naik.
Ketiga, suku bungan yang mini akan memberikan dampak positif terhadap para pelaku usahanya. Seiring penurunan suku bunga acuan, bunga pinjaman di perbankan juga akan turun. Tentu, kondisi ini mnguntungkan pengusaha, terutama mereka yang ada di kelas kecil dan menengah. “Diharapkan makin memudahkan usaha,” papar Erwin yang juga mengelola situs 1000pengusaha.com.
Selain pemain lokal, peningkatan daya beli masyarakat dan jumlah penduduk yang besar menjadi indonesis pasar yang empuk bagi pemain asing Henky meramal, tahun depan pebisnis kuliner asing akan terus membanjiri pasar lokal. Ia menduga, kuliner asal Malaysia dan Thailand bakal menjadi competitor kuat bagi bisnis kuliner di tanah air.
Ketua Bidang Pembinaan Restaurant, Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia(PHRI), Soedihartono mengatakan, sepanjang 2011, kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, masih menjadi kantong-kantong utama pertumbuhan bisnis kuliner. Maklum, lantaran pendapatan lebih besar, masyarakat dimkota besar lebih gampang merogoh kocek untuk makan diluar rumah.
Meski begitu, bukan berarti wilayah luar kota besar dan luar Jawa tak potensial. Eka Agus Rachman, General Manager Communications PT pendekar Bodoh, pengelola jaringan restoran D’Cost menyebut Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Balikpapan, Samarinda, dan Manado termasuk kota yang potensial untuk bisnis kuliner. Diluar itu, daerah tujuan wisata, seperti Nusa tenggara Barat, Juga menarik.
Siapa Bertahan?
Meski sepakat tahun 2012 masih akan menjanjikan proses cerah, para pengamat entrepreneurship dan pelaku bisnis kuliner menilai, tak segampang membalik telapak tangan untuk bisa bertahan. Erwin menyebut, pebisnis kelas mengengah keatas dengan modal minimal Rp 300 juta paling mungkin mempertahankan eksistensi usahanya.
Alasan Erwin, dengan modal besar biasanya pebisnis sudah detail memikirkan standart operating procedur(SOP), pemberdayaan sumber daya manusia, serta pengemasan mereknya, serta pengemasan mereknya. Tiga hal itulah yang menurut Erwin kadang luput diperhatikan oleh pebisnis kelas menengah ke bawah.
Henky menimpali, perkara konsep masih menjadi titik lemah para pengusaha bisnis kuliner di tanah air. Secara kuantitas, jumlah pemain bisnis kuliner memang terus menjamur. “Sayang, para pemain baru tersebut cenderung menjadi pengkut (follower) tanpa mempersiapkan konsep bisnis kuliner yang matang,” kritik Hneky. Tak heran, bisnis yang mereka kelola tak bertahan lama.
Sementara Eka mengatakan, jumlah masyarakat dengan komposisi menengah ke bawah yang lebih besar menjadi jaminan bahwa pasar di kelas tersebut juga besar. Oleh karenanya, Eka yakin, pengusaha restoran yang menyasar masyarakat menengah ke bawah akan lebih eksis tahun depan.


Kontan edisi Khusus Desember
Anastasia Lilin Yuliantina,
Dessy Rosalina pasaribu






                                                                                                                       

Wednesday, December 14, 2011

Jadi Pengusaha Sekolah Wirausaha


Menimbang waralaba sekolah wirausaha Diploma British International

Kontan, 14 Desember 2011, Ragil Nugroho
Anda mungkin sudah sering mendengar kursus atau lembaga pendidikan yang memberikan persiapan untuk memasuki dunia kerja. Namun bagaimana dengan pendidikan yang memberikan pendidikan dan pelatihan untuk menjadi pengusaha?

Tingginya minat untuk menjadi enterpreneu r ini memikat Diploma British International (DBI) untuk membuka kampus bagi calon pengusaha. DBI yang berpusat di Denpasar, Bali, ini berdiri sejak tahun 2009 dan mengusung kurikulum berbasis bahasa Inggris, entreprenetirship dan komputer.

Menurut Raul Haidin, Manajer Franchise DBI, kemampuan berbahasa Inggris, en-tvepreneurship dan komputer harus dimiliki seorang wirausaha muda agar bisa bersaing. Bahkan, ia mengklaim, mahasiswa yang mengikuti program ini dijamin dalam waktu sembilan bulan sudah bisa menguasai bahasa Inggris.

Untuk kurikulum entrepre-neurship atau kewirausahaan, DBI akan mengajarkan konsep kewirausahaan, perencanaan, tip menjalankan usaha hingga teknik bagaimana merangkul konsumen. DBI juga mengajarkan teknik pho toshop yang meliputi desain produk usaha, brosur, spanduk, dan logo.

Harus ada keunikan

Saat ini DBI sudah memiliki tiga kampus yang ada di Denpasar, Surabaya, dan Malang. Peserta didiknya merupakan mahasiswa yang sedang kuliah di jenjang Sl atau yang sudah menyelesaikan jenjang pendidikan tersebut.

Biaya pendaftaran di sekolah ini Rp 150.000. Selain itu, mahasiswa juga harus membayar uang buku sebesar Rp 300.000, seragam Rp 200.000, biaya gedung dan praktikum sebesar Rp 2 juta, serta uang SPP per bulan sebesar Rp 250.000.

Untuk memperluas jaringan, mulai tahun ini, DBI menawarkan konsep kerjasamaPersaingan ketat, usaha ini sulitmasuk Jabodetabek dan Jawa Barat.berupa/ra ncftise atau waralaba. Mitra yang berminat harus menyiapkan modal investasi awal sebesar Rp 330 juta untuk kerjasama selama lima tahun.

Biaya tersebut mencakup franchise fee sebesar Rp 70 juta, Rp 30 juta untuk biaya pra-operasional dan Rp. 230 juta digunakan untuk sewa gedung serta membeli perlengkapan, mulai dari desain bangunan hingga peralatan komputer. Mulai bulan ke tujuh, DBI juga menarik royalty fee sebesar 7% dari omzet per bulan. DBI Pusat akan menyediakan semua kurikulum dan fasilitas pengajaran.

Raul bilang, kalau mitra bisa menjaring sekitar 50 mahasiswa dalam satu tahun, maka akan memperoleh omzet Rp 282,5 juta per tahun. Jadi, "Waktu kembali modal sekitar dua tahun," ujarnya. Menurut Erwin Halim, Konsultan Waralaba dari Proverb Consulting, konsep kampus seperti ini untuk wilayah Jawa Timur dan sekitarnya memang masih cukup menarik. Namun, untuk bisa masuk ke Jabodetabek dan Jawa Barat akan sulit. "Kompetitor di Jakarta lebih banyak, salah satunya Entrepreneur University (EU)," ujarnya

Erwin juga bilang, jangka waktu satu tahun dalam pendidikan ini terlalu lama. Ia lebih setuju dengan konsep praktik langsung seperti yangditerapkan beberapa pendidikan dan pelatihan kewirausahaan yang sudah ada.

Namun, ia tetap melihat, prospek waralaba ini untuk berkembang tetap ada."Kuncinya harus ada konsep pembeda yang unik," tegasnya. Diploma British

International
Jl Kapten Agung No 17
Denpasar Pusat, Bali Telp. (0361)237367

Saturday, December 10, 2011

Jika berinovasi, aroma bisnis martabak akan tetap semerbak


Jika mampu melakukan inovasi produk, bisnis waralaba martabak tetap bisa merebak

Kontan, 10 Desember 2011, Hafid Fuad, Dea Chadiza Syafina

Siapa, sih, yang tak kenal kudapan bernama martabak? Penganan yang terbuat dari adonan telur, terigu, dengan isi daging atau sosis ini memang banyak penggemarnya di Tanah Air.

Biasanya penganan ini dijajakan bareng dengan kue terang bulan, jajanan khas Pulau Bangka. Oh, ya, kue terang bulan di Jakarta ini dikenal juga dengan nama martabak manis. Itulah sebabnya, pedagang martabak di Jakarta biasanya menjual dua menu: martabak telur dan martabak manis.

Citarasa martabak, baik telur maupun manis, memang cocok di lidah siapa saja. Baik itu anak-anak hingga orang dewasa. Karena popularitas martabak itu pula, banyak investor yang tertarik untuk menekuni usaha ini.

Nah, cara cepat untuk berbisnis kudapan ini tentu menggunakan "jalur" waralaba atau kemitraan. Jadi, tak perlu heran, kalau belakangan ini banyak pengusaha martabak yang menawarkan kemitraan atau waralaba untuk mengembangkan usaha.

Dari tiga waralaba martabak yang dihubungi KONTAN, mereka mengklaim menikmati pertumbuhan jumlah gerai. Memang ada yang bertumbuh dengan cepat, namun ada pula yang lambat. Dalam tulisan ini, KONTAN akan mengulas lebih dalam lagi tentang perkembangan tiga waralaba martabak.


• Martabak Alim

Waralaba martabak asal Bekasi terbilang superior dalam menambah jumlah gerainya tahun ini. Tahun lalu KONTAN menulis waralaba ini sudah memiliki 103 gerai. Namun pada Desember 2011 ini, gerai Martabak Alim naik 101% atau menjadi sebanyak 208 gerai.

Mayoritas penambahan gerai milik Martabak Alim ada di Jabodetabek. Berbeda dengan tahun lalu, terwaralaba baru rata-rata memiliki satu gerai saja. "Saya sengaja batasi gerai untuk terwaralaba baru," kata Suhanto, pemilik waralaba Martabak Alim.

Kondisi itu berbeda dengan tahun lalu. Ketika itu, banyak terwaralaba Martabak Alim memiliki lebih dari satu. Suhanto mengakui, pembatasan kepemilikan gerai untuk menjaga investasi terwaralaba agar tetap aman.

Dari seluruh gerai itu, Suhanto bisa mencatat kenaikan omzet menjadi Rp 400 juta per hari. Padahal, tahun lalu, dari seluruh gerai Martabak Alim ia hanya mengantongi omzet antara Rp 100 juta sampai dengan 200 juta per hari.

Untuk mendapatkan terwaralaba baru, Suhanto menggaet dengan inovasi produk martabak. Tahun ini ia membuat inovasi dengan membuat martabak mini yang dijual Rp 1.000 per porsi hingga Rp 4.000 per porsi. Martabak mini mempunyai empat varian rasa.

Adapun inovasi untuk tahun depan, Suhanto akan membuat martabak dengan tepung kentang. Ia mengaku, martabak dengan tepung kentang akan memberikan pilihan baru bagi konsumen yang mulai jenuh mengonsumsi martabak dari tepung gandum atau terigu.

Yang menarik, besaran investasi di Martabak Alim tak berubah dari tahun lalu. Suhanto tetap mematok paket investasi sebesar Rp 125 juta. Paket kelas outlet itu akan mendapatkan peralatan memasak, bahan baku, desain interior serta pelatihan karyawan. "Investor tinggal cari lokasi," terang Suhanto.

Suhanto menghitung, balik modal usaha akan terjadi dalam jangka satu tahun, dengan catatan, investor mampu meraup omzet Rp 2 juta per hari.


• Martabak House

Martabak House yang berdiri Juni 2007 mulai menawarkan konsep waralaba pada 2009. Waralaba yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah ini tahun lalu baru memiliki tiga gerai. Namun, tahun ini akan ada penambahan dua gerai baru di Malang dan Yogyakarta. "Akhir Desember akan terealisasi," kata Paulus Gunawan, pemilik waralaba Martabak House.

Soal lambatnya pertumbuhan waralaba itu, Paulus berkilah bahwa hal ini buah keputusannya yang selektif memilih investor. "Yang mengajukan penawaran sebenarnya banyak," klaim Paulus.

Mengenai nilai investasi, Paulus tidak melakukan perubahan alias sama dengan tahun lalu. Paulus menawarkan paket investasi mini resto sebesar Rp 150 juta. Dengan paket ini, waktu kerja sama selama lima tahun. Dan tentu saja, terwaralaba juga berhak mendapat peralatan lengkap, pelatihan karyawan, dan bahan baku senilai Rp 10 juta. Selain itu, terwaralaba wajib membayar royalty fee sebesar 5% dari omzet bulanan.

Paulus menghitung, terwaralaba akan balik modal dalam jangka satu tahun jika mendapat omzet Rp 4 juta per hari. Martabak House membanderol harga jual martabak mulai dari Rp 8.000 sampai Rp 12.000 per loyang. Harga jual ini naik Rp 2.000 dibandingkan dengan harga jual tahun lalu.


• Martabak Mr Black

Martabak Mr Black berdiri sejak 2006 di Bandung, Jawa Barat. Usaha martabak yang didirikan oleh Gunawan ini resmi menjadi waralaba pada 2010 lalu. Namun, hingga November lalu, baru mendapatkan satu terwaralaba.

Gunawan saat ini mengendalikan enam gerai miliknya ditambah dengan satu gerai milik terwaralaba. Ia bilang, tahun ini tidak terlalu fokus mencari terwaralaba karena sedang melakukan pembenahan internal. "Kami sedang memikirkan konsep baru gerai kami," jelas Gunawan.

Namun begitu, tahun ini Gunawan tidak mengubah nilai investasi waralaba martabaknya. Sama dengan tahun lalu, ia hanya memiliki satu paket investasi senilai Rp 100 juta. Investor yang mau bekerja sama mendapatkan satu unit sepeda motor, pembelian bahan baku untuk 400 loyang, serta training karyawan.

Beda dengan konsep waralaba martabak sebelumnya, Martabak Mr Black dikonsep menjadi gerai yang bisa bergerak alias mobile.

Gunawan menyebutkan, gerai martabak bisa bergerak dengan sepeda motor dan bisa menjangkau pusat keramaian. Saat ini, enam gerai Martabak Mr Black mangkal di kota Bandung dan satu gerai mangkal di Pesanggrahan, Kedoya, Jakarta Barat.

Dalam menawarkan waralaba, Gunawan mengutip royalty fee sebesar 2,5% sampai dengan 3% dari omzet bulanan. Ia menghitung balik modal dari Martabak Mr Black kurang dari satu tahun. Namun hal tersebut bisa tercapai jika investor mampu meraih omzet Rp 25 juta per bulan. "Jika omzet mencapai target, margin laba bisa 50%," klaim Gunawan.

Menurut Gunawan, untuk mencari terwaralaba baru ia biasanya berpedoman pada jangkauan pasar yang akan menjadi target calon investor. Ia memberi syarat, calon terwaralaba harus mencari lokasi yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan, kampus atau permukiman.

Gunawan memiliki tiga varian martabak di setiap gerai Martabak Mr Black. Mulai dari rasa original, yang terdiri dari rasa capucino dan cokelat. Kemudian, varian martabak original isi daging sapi serta martabak bumbu teriyaki. Selain itu ada martabak asin spesial cordon blue yang mengandung keju.

Martabak Mr Black memiliki ukuran martabak rata-rata sebesar 22 centimeter (cm) dengan harga jual mulai Rp 27.000 sampai Rp 31.000 per porsi. Martabak Masih Potensial di Kota Besar
Bisnis martabak masih potensial di kota-kota besar di Jawa. Namun karena persaingan penjualan martabak semaki ketat, diperlakukan beberapa kiat khusus agar bisnis ini tetap mampu bertahan dan berkembang. “Khususnya di Jabodetabek, usaha martabak sangat potensial,” ujar pengamat waralaba Erwin Halim.

Menurut Erwin, martabak sangat disukai oleh kalangan menengah masyarakat Indonesia. Itulah sebabnya, pertumbuhan jumlah kelas menengah di kota-kota besar membuat potensi bisnis martabak menjadi semakin moncer.

Untuk menghadapi persaingan yang ketat, Erwin menyarankan agar pengusaha martabak memperhatikan kemampuan sumber daya manusia(SDM) yang dimiliki. SDM yang menjadi tulang punggung penjualan di lapangan harus kreatif, lincah, dan menarik. “Dengan pelayanan yang bagus maka pelanggan akan tertarik untuk datang dan membeli,” katanya.
Selain itu, penguatan merek juga penting. Pengutan merek bisa dilakukan dengan memperbanyak gerai penjualan. Menurut Erwin, untuk bisnis martabak, semakin banyak jumlah gerai kian menguntungkan. Sebab, hal itu akan meningkatkan kepercayaan bagi calon investor waralaba maupun kemitraan dan juga konsumen.

Tentu saja, penambahan gerao tetap harus memperhatikan lokasi untuk mengejar segmen pasar yang dituju. Sebab, martabak merupakan makanan dengan karakter enak dikonsumsi selagi hangat. Karena itu penempatan gerai sebaiknya tidak jauh dari kawasan perumahan.Inovasi rasa perlu dilakukan terutama untuk mengubah image martabak sebagai makanan malam hari. Perlu juga dicoba mengembangkan martabak untuk sarapan.

Thursday, December 8, 2011

Kepingin Laba Surabi dari Kabitha Soerabi


Kabitha Soerabi menawarkan paket investasi Rp 30 juta-Rp 120 juta

JAKARTA. Mungkin Anda pernah dengar makanan bernama surabi? Itu, lo, jajanan khas sunda yang terbuat dari tepung terigu. Bentuknya menyerupai pancake dengan perpaduan rasa manis, asin, dan tentunya gurih.

Meski termasuk menu tradisional, tapi dengan sentuhan variasi dan tampilan menarik, surabi bisa menjadi bisnis yang berprospek cerah.Salah satu pengusaha jajanan surabi yang melihat peluang itu adalah Akhmad Yunus asal Cirebon, Jawa Barat. Ia membuka gerai surabi sejak 2005 silam. Hingga saat ini, Yunus telah mengembangkan aneka rasa, seperti surabi coklat keju, pisang coklat keju, sosis keju hingga telur oncom.

Yunus mengklaim, produk surabi buatannya memiliki bentuk dan rasa yang berbeda dari surabi lain. Dengan mengusung nama Kabitha Soerabi, Yunus berharap pengunjung yang mencicipi surabinya bakal ketagihan. Kabitha memang berarti kepingin terus.

Untuk menggaet pelanggan, Yunus membanderol surabi itu seharga antara Rp 4.000-Rp 6.000 untuk gerai di Jawa Barat. Sedangkan untukgerai di Jakarta, ia membanderol harga serabi Rp 5.000-Rp 7.000 per buah. Agar pengunjung betah, Yunus mendesain gerai Kabitha Soerabi itu ala lesah-an kampung.

Setelah berjualan lima tahun, tepatnya pada 2010 lalu, Yunus memutuskan menawarkan kerjasama kemitraan kepada khalayak. Hanya dalam waktu setahun ia berhasil menjaring empat mitra. Dua mitra ada di Kuningan, sisanya ada di Cirebon dan Ciamis.

Yunus menawarkan dua paket kemitraan, yakni paket kemitraan master dengan nilai investasi Rp 120 juta serta paket kemitraan outlet dengan nilai investasi sebesar Rp 30 juta. "Kerjasama ini untuk lima tahun," kata Yunus Untuk mitra yang mengambil paket master itu berhak mengelola usaha Kabitha Soerabi untuk satu kota. Untuk paket ini, ia memberi empat

Kabitha Surabi harus melindungimereknya agar bisa berkembangke luar daerah.booth, bahari baku berupa tepung 400 kilogram (kg) untuk empat booth, arang, piring, meja lesehan, serta biaya promosi sampai lm ini ikj karyawan. "Mitra master berhak mengajak mitra lain untuk bekerjasama dengan syarat satu kota,1 kata Yunus.

Sementara paket kemitraan outlet hanya berhak mendapat satu booth dengan perlengkapan 1 ulum baku tepung sebanyak 100 kg, arang, piring, dan meja lesehan. Sementara untuk lokasi jualan jadi tanggungan investor.

Menurut Yunus, dengan omzet Rp 12,6 juta per bulan, investor yang mengambil paket kemitraan outlet bisa balik modal 14 bulan. Sedangkan pemegang paket master bisa balik modal setelah 14 bulan dengan omzet sekitar Rp 50,4 juta per bulan.Yunus bilang, pasar Kabitha Soerabi adalah kelompok anak muda, termasuk pelajar dan mahasiswa. Oleh karenaitu, ia mengusulkan calon mitra mencari lokasi yang berdekatan dengan kampus atau sekolahan.

Erwin Halim, Konsultan Waralaba dari Proverb Consulting menilai, kemitraan Kabitha Soerabi butuh penambahan varian untuk berkembang. "Varian rasa harus ditambah agar masuk ke pasar Jawa Timur," usul Erwin.

Selain itu, Erwin juga menyoroti penggunaan nama "Kabitha". Ia berharap penggunaan nama itu telah terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) agar terhindar dari tuntutan hukum. "Jangan sampai seperti rumah makan tegal yang banyak memakai nama Sederhana," jelasnya. 

KABITHA SOERABI 
Jl Pilang Raya No 3 Cirebon, Jawa Barat 
Telp (0231) 236919


Sumber: Harian Kontan
Ragil Nugroho

Saturday, November 26, 2011

Renyahnya Laba Ayam Goreng Krispi

Mencermati tawaran kemitraan di'besto Ayam Goreng Crispy dan Burger



24 November 2011, Dea Chadiza Syafina, Fahriyadi

Makanan cepat saji seperti ayam goreng krispi serta burger makin diminati banyak orang. Sisi kepraktisan dianggap menjadi magnet dari kedua jenis makanan tersebut. Cukup duduk sebentar, pesanan makanan pun segera datang.

Walau persaingan kedai cepat saji sudah sangat ketat, tawaran kemitraan atau waralaba makanan jenis ini tak pernah surut. Salah satu pebisnis yang menawarkan kemitraan gerai cepat saji ini adalah Setyajid. Dari Ciganjur, Jakarta Selatan, ia menawarkan kemitraan d'Besto sejak awal 2011 lalu.

Kemitraan d'Besto sebenarnya adalah pengembangan pasar dari Kentuku Fried Chicken (KUFC). Setyajid sendiri telah merintis KUFC sejak 1994 lalu. Setelah berjalan selama 16 tahun, KUFC ingin menyasar pasar medium dengan membuka gerai ayam goreng krispi dan burger.

Tingginya konsumsi ayam goreng krispi dan burger menjadi jaminan kemitraan ini memiliki prospek yang cerah ke depannya. "Apalagi, kami telah mengembangkan produk yang sama selama 18 tahun dan tetap eksis hingga sekarang," kata Achmad Haris, Bagian Divisi Pengembang Mitra d'Besto.

Kemitraan ini menawarkan dua paket investasi, yakni paket d'Besto berupa paket booth dengan nilai investasi Rp 55 juta dan paket mini resto sebesar Rp 100 juta. Untuk paket Rp 55 juta, mitra akan mendapatkan booth d'Besto lengkap dengan peralatan dan pelatihan karyawan.

Adapun untuk paket investasi sebesar Rp 100 juta, mitra memperoleh semua peralatan dan perlengkapan serta pengelolaan manajemen. "Mitra tak perlu repot karena manajemen pusat yang akan menjalankan usaha ini," lanjut Haris. Kerja sama ini berlaku selama lima tahun.

Manajemen pusat d'Besto akan membagi keuntungan bersih sebesar 35% kepada mitra dan sisanya 65% menjadi milik manajemen pusat. Haris bilang, porsi keuntungannya lebih besar karena perusahaan harus menanggung risiko lebih besar. "Kami berusaha keras agar bisnis ini tidak rugi," tandasnya.

Khusus paket booth, mitra dapat memilih menjalankan usaha secara mandiri atau menyerahkan sepenuhnya kepada manajemen pusat d'Besto. Jika mitra menjalankan sendiri usaha ini, maka mitra bisa memperoleh keuntungan penuh dan hanya dikenakan royalti fee 3,5% dari omzet setiap bulan.

Saat ini, d'Besto telah memiliki dua gerai mini resto milik sendiri dan tiga gerai milik mitra yang tersebar di Lampung, Parung, dan Bintaro. Harga menu ditawarkan cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp 6.000-Rp 11.000. Omzet yang diraih pun bisa mencapai Rp 45 juta per bulan untuk booth dan Rp 72 juta setiap bulan untuk gerai mini resto. Mitra dapat balik modal dalam 12 hingga 15 bulan, tergantung paket yang dipilih.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting menilai, pengalaman manajemen lebih dari 16 tahun, bisa jadi bukti produk mereka sudah memperoleh pengakuan. Namun, Erwin berpesan, calon mitra tetap perlu mendalami usaha ini sebelum mengambil paket investasi.

Hal yang patut diperhatikan adalah soal lokasi berjualan dan proyeksi omzet yang terlalu optimistis. "Berjualan dengan booth di depan minimarket agak sulit untuk mendapat omzet hingga Rp 1,5 juta per hari, kecuali produk itu memang fenomenal," ujarnya.


d'Bbesto
Jl. M. Kahfi I, Gg. Pembangunan No. 55 RT 02/02,
Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telp (021) 78885759

Wednesday, November 2, 2011

Bisnis Unik Waralaba Kursus Robotik

Menimbang tawaran waralaba Super Champ Education Robotics

Kontan, 2 November 2011
Ragil Nugroho, Fahriyadi

JAKARTA, Kreativitas sangat diperlukan dalam perkembangan individu. Oleh karena itu, setiap orang tua pasti ingin menumbuh jiwa kreatif dalam diri buah hatinya.

Berapa cara pun ditempuh oleh orang tua untuk membangun jiwa kreatif anak-anak mereka. Salah satunya adalah dengan mengikuti pelatihan keterampilan merakit robot, yang kini sedang menjadi tren di kalangan anak-anak.

Super Champ pun menawarakan kursus merakit robot sejak 2010. Selain kursus robotic, lembaga pendidikan yang berdiri sejak tahun 2003 ini juga menawarkan beragam kursus lainnya yang berbasis information & communication technology (ICT) sebagai bagian dari pengembangan potensi anak.

Dalam menjalankan bisnisnya, Super Champ Education membidik peserta kursus dari usia tiga tahun hingga 17 tahun. Program pendidikan setiap tingakat, beralngsung selama enam bulan hingga satu tahun.

Selain dilatih oleh trainer handal, peserta juga mendapat sertifikat nasional. Meraka pun punya kesempatan untuk mengikuti lomba robot hingga tingkat internasional.

Super Champ juga sudah memproduksi berbagai robot, seperti robot pendeteksi gas emisi di jalan, robot penangulangan bencana alam yang memenangkan lomba robot tingkat nasional tahun 2010 dan robot Banyu Boot yang berfungsi mengubah air laut menjadi air tawar.

Untuk mempercepat perluasan usaha kursus robot, Super Champ Education pun tahun lalu menawarkan waralaba. Kini, mereka sudah merangkul 12 terwaralaba. Selain perseorangan, Super Champ Education juga menjalin mitra dengan sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Bagi yang tertarik membuka kursus perakitan robot, Super Champ menawarkan paket investasi senilai Rp 230 Juta. Massa waralaba ini berlangsung lima tahun.

Dalam paket ini, terwaralaba akan memperoleh perlengkapan dan peralatan usaha seperti sampel peralatan untuk merakit robot, materi, dan kurikulum pendidikan serta standard an prosedur menajlankan usaha. Super Champ juga menyiapkan sarana promosi, seperti banner, brosur, dan leaflet.

Untuk peralatan merakit robot, mitra wajib pesan ke pusat. Mitra juga harus member royalty feesebesar 10% perbulan. “ Untuk tiga bulan awal masih belum dipungut biaya,” tegas Mei Setyawati, Marketing Manager Super Cham Education.

Biaya kuruses di sini ditetapkan sebesar Rp 300.000 per bulan, biaya registrasi Rp 200.000 dan biaya perlengkapan Rp 14.000. dengan perkiraan bisa menggaet 75 siswa pada awal berdiri, maka mitra bisa balik modal dalam waktu dua hingga tiga tahun.

Erwin Halim, pengamat Waralaba dari Proverb Consulting menilai, kursus robotic masih menarik. Namun, mungkin pesertanya belum sebesar kursus bahasa inggris atau bimbel pelajaran. “ Tren robotic masih musiman, belum berkelanjutan seperti Jepang,” ujarnya.

Oleh karena itu, Erwin berharap para pelaku usaha di bisnis ini bisa lebih gencar melakukan sosialisasi dengan baik. “ Supaya target pasar usaha kursus ini terus berkmbang,” tuturnya.

Super Champ Education
Jl Mampang Prapatan No 96 Lantai 4
Jakarta Selatan
Telp (021) 3404-8999