Friday, March 2, 2012

Menggelembungkan Laba dari Balon Udara

Menimbang tawaran waralaba dari PT Balon Udara Media Unggul

DARI sekian banyak media promosi, balon udara termasuk salah satu media promosi yang paling banyak peminatnya. Media promosi ini diminati karena efektif menjangkau konsumen. Dengan kemampuannya terbang di ketinggian, tentu bisa dilihat orang dari berbagai sisi.

Maraknya penggunaan balon promosi ini membuat bisnis pembuatan dan penyewaan balon udara terus menggeliat. Salah satu pemain di bisnis ini adalah Hans Sebastian. Di bawah bendera usaha PT Balon Udara Media Unggul, ia menggeluti bisnis ini sejak 20 tahun silam.

"Saat itu balon udara merupakan media periklanan yang baru, unik, dan menarik perhatian," kata Hans.

Lantaran bisnis ini memiliki propsek cerah, sejak tahun 2006 ia resmi menawarkan waralaba. Selain balon iklan, ia juga mengembangkan produk lain, seperti balon bukti. balon udara pengangkut penumpang, balon permainan, hingga balon remote kontrol. "Produk terbaru kami balon tepuk buat acara-acara keramaian," imbuh Hans.

Saat ini, Hans sudah memiliki delapan mitra yang tersebar di berbagai kota, seperti Lampung, Jakarta, dan Manado. Paket investasi yang ditawarkan senilai Rp 31 juta. Investasi itu sudah termasuk pelatihan pembuatan balon dan penyediaan peralatan dasar, seperti pompa listrik.

Untuk sewa tempat, mitra harus menyiapkan biaya lagi. "Kalau ditotal modal awalnya sekitar Rp 50 juta," ujarnya.

Ia memperkirakan, omzet mitra berkisar antara Rp 30 juta sampai Rp 75 juta perbulan, tergantung kegigihan mendapatkan klien. Adapun laba bersihnya sekitar 40% dari omzet. Dengan laba sebesar itu, maka mitra bisa balik modal dalam waktu enam bulan sampai setahun.

Hans mematok tarif sewa berbeda untuk setiap produk balonnya. Balon pengangkut penumpang semisal. Hans mengenakan sewa Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per penumpang per lima menit.

Untuk menggelar pertunjukan balon pengangkut penumpang ini, ia biasa menggandeng pengelola mal. Selain itu, balon ini juga banyak disewa perusahaan-perusahaan hiburan yang tengah mengadakan pertunjukan

Omzet mitra diperkirakan Rp 30 juta-Rp 75 jutaperbulan, denganlaba bersih 40%.

Sedangkan balon buket, tarifnya dipatok sebesar Rp 200.000-Rp 1.000 per paket, tergantung desainnya. Balon buket merupakan balon dekorasi khusus untuk memberikan ucapan selamat, seperti ucapan selamat ulang tahun, ucapan cepat sembuh, perkawinan, kantor baru, dan lain-lain, "khusus balon buket ini sistemnya jual bukan sewa," jelas Hans.

Sementara balon iklan disewakan dikisaran Rp 8,5 juta per bulan. Dalam sebulan, ia mengaku mendapat pesanan hingga lima balon iklan.

Erwin Halim, pengamat waralaba menilai, prospek bisnis balon udara cukup bagus. Bisnis tergolong unik dan kreatif. Tapi segmen pasarnya memang terbatas. "Tapi kalau keterbatasan pasar tersebut bisa dikelola dengan baik, bisnis ini bisa membentuk pasar sendiri, terutama di kota-kota besar," katanya.

PT Balon Udara
Jl. Dr. Makaliwe 1/9 Grogol, Jakarta Barat 11450
Hp 0819 32618088
Telp 021-5637475, 5637476,
Fax 021 5637472

Sumber:  Kontan, Jumat 2 Maret 2012
Eka Saputra


Friday, February 17, 2012

Jalur cepat menjadi developer properti

Bisnis properti dalam beberapa tahun terakhir terus mengkilap. Ladang bisnis ini bukan hanya menjadi garapan pengembang raksasa, tapi masih terbuka bagi pemula yang ingin mencuil manisnya bisnis properti.

Adalah PT Bangun Properti Indonesia, perusahaan developer yang bernaung dalam didA Group menawarkan sistem waralaba untuk menjadi pengembang kawasan perumahan di seluruh Indonesia. Perusahaan yang bermarkas di Jakarta dan berdiri pada pertengahan 2011 lalu itu mengusung brand Bahana Paramarta dan langsung diwaralabakan saat berdiri. 

Alvin Kurniawan, 
Business Development Manager Bangun Properti Indonesia, mengatakan bahwa tujuan mewaralabakan Bahana Paramarta agar bisa mempercepat pembangunan serta memenuhi kebutuhan masyarakat untuk memiliki rumah tinggal. Ia memperkirakan, tahun ini permintaan rumah tinggal bakal mencapai 12 juta unit.

Alvin menjelaskan, mitra Bahana Paramarta ini bukan sekadar menjadi broker untuk memasarkan properti ini, melainkan sebagai mitra Bangun Properti untuk mengembangkan kawasan perumahan, di wilayah milik mitra. "Mitra hanya menyiapkan tanah dan modal yang dibutuhkan untuk membangun, sementara proses pembangunan, aturan main, dan kontrol kontraktor menjadi tanggung jawab kami," ujarnya. 

Mitra bisa membentuk bendera usaha atau PT sendiri, namun tetap dengan brand Bahana Paramarta. Selain itu, mitra tetap mengontrol sepenuhnya soal keuangan. Kalau Anda beruntung menjadi mitra, maka kurang dari tiga tahun bisa balik modal. 

Sebagai gambaran, dalam proyeksi Bangun Properti, mitra bisa membangun perumahan yang tipe sederhana seharga Rp 60 juta-Rp 100 juta per unit, atau rumah dengan tipe menengah dengan harga Rp 300 juta-Rp 500 juta per unit. "Omzet yang bisa diraih adalah Rp 35 miliar-Rp 70 miliar dalam lima tahun masa kerja sama ini," ungkapnya.


Tiga syarat kemitraan

Nah, untuk menjadi mitra Bahana Paramarta, Anda harus memenuhi tiga persyaratan. 
Pertama, tentu saja punya lahan atawa tanah yang akan dibangun properti. Kedua, modal awal. Ketiga, membayar franchise fee.

Luas tanah yang harus disediakan oleh calon mitra, minimal 1,5 hektare (ha). Adapun modal awal dan
franchise fee sekitar Rp 1 miliar. Memang karena waralaba ini baru seumur jagung, Alvin mengakui hingga saat ini belum memiliki mitra. "Tapi sudah ada calon mitra prospektif di Kendari, Sulawesi Tenggara dan di Depok, Jawa Barat," ungkapnya.

Belum adanya minat masyarakat untuk menjadi mitra, bisa jadi karena modal yang harus dikeluarkan cukup tebal. Erwin Halim, pengamat Waralaba dari Proverb Consulting bilang, meski tawaran Bangun Properti ini menarik, namun investasi yang harus disediakan sangat besar. 

Untuk itu, Erwin menyarankan agar mitra mempelajari dengan cermat tawaran 
franchise ini. "Detail kerja samanya harus benar-benar mengarah ke win-win solution dan tak ada celah untuk saling merugikan satu sama lain," saran Erwin. 

PT Bangun Properti Indonesia, 
Business Park Kebon Jeruk, Blok C1/1
Jl. Meruya Ilir Raya No. 88, Jakarta Barat 
Telp. 021-30061567/68
  
Sumber : Kontan, 15 Februari 2012
                     Fahriyadi

Friday, February 10, 2012

Bobotnya Ringan, tapi Labanya Berat

Menimbang tawaran waralaba dari Eka Karya Graha asal Bandung

RANGKA atap baja ringan kini semakin disukai. Selain lebih ringan, rangka atap baja ringan juga lebih tahan rayap ketimbang rangka dari kayu. Tak heran, kalau permintaan rangka atap baja ringan juga kin meningkat.

Menunit Joni Lau, pemilik Eka Karya Graha (EKG) yangsutiah menggeluti bisnis inik 2004, rangka atap bajaringan merupakan materialpengganti kayu yang sangatefisien dan kuat terhadap cua-kelebihan lain, produk ini

didaur ulang, harganyajuga terjangkau, tahan rayap,anti karat, serta bobot yangtig. Joni mengklaim, saat ini EKG termasuk market leader i mt nk bisnis rangka atap baja ringan di Jawa Barat. Hal ini karena EKG selalu menjaga kualitas produk. Selain itu, mereka juga mengutamakan faktor keamanan dalam mem-buat konstruksi rangka atap.

Agar bisnisnya makin berkibar, sejak Desember 2011 lalu, Joni mewaralabakan usahanya itu. Tak percuma, karena banyak patner bisnisnya yang berminat menjadi mitra. Saat ini, EKG telah memiliki lima mitra di Cirebon, Bekasi, Tangerang, Cianjur, dan Malang.

Sementara yang sedang dalam tahap persiapan pembu-kaan ada delapan calon mitra. Yakni di Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Bogor, Manado, Tangerang Selatan, Semarang, dan Kediri. "Kalau di Lampung, Surabaya, Balikpapan, dan Jakarta Timur, masih dalam tahap negosiasi. Tahun ini kami targetkan ada 16 mitra yang bergabung," katanya.

Menurut Joni, bisnis EKG bukan sebatas menjual pro-duk rangka atap baja ringan saja Tetapi juga pemasangan dan aneka kebutuhan lain untuk atap. EKG menjual baja ringan seharga Rp 90.000-Rp 125.000 per meter persegi.

Ia juga menyediakan genting metal dengan harga Rp 60.000-Rp 110.000 per meter persegi, aluminium foil dibanderol seharga Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per meter persegi. Lalu spandeck mulai Rp 60.000 hingga Rp 130.000 per meter persegi, dan floordeck Rp 125.000 per meter segi.

Nah, kalau berminat menjadi mitra, Joni menyediakan paket investasi senilai Rp 180 juta. Paket investasi tersebut sudah termasuk franchise fee. Selain itu si mitra juga akan memperoleh peralatan perlengkapan toko, dan mendapat bahan baku untuk proyek sekitar 600-800 meter persegi pada bulan pertama

Bukan cuma itu. Mitra juga akan mendapatkan satu line telepon dan koneksi internet, pemasaran ke toko material, promotion set, perlengkapan administrasi, buku panduan.Joni memperkirakan, mitra bisa mendapatkan omzet Rp 100 juta per bulan pada dua bulan pertama. Pada bulanketiga dan seterusnya omzet bisa naik menjadi Rp 300 juta sampai Rp 500 juta per bulan. Ini dengan asumsi mereka mendapatkan minimal 20 proyek per bulan. Adapun laba bersishnya sekitar 10%-20%. "Pada bulan kelima, profit mungkin sudah bisa sekitar Rp 42,5 juta dengan asumsi proyek bertambah," ujarnya

Joni bilang, harga produk komponen rangka atap baja ringan EKG terbilang murah. Sebab, EKG membuat produk sendiri. "Kamijuga menguasai distribusi sehingga harga bisa ditekan," katanya

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting mengatakan, prospek bisnis rangka atap baja ringan ini memang masih bagus. Soalnya, kebutuhan akan baja ringan masih tinggi, khususnya di kota-kota besar.

"Harga atap baja ringan juga lebih murah dari kayu," ujarnya Dia menyarankan, bisnis ini mesti satu paket. Jadi bukan menjual produknya saja tetapi juga pemasangan. 

Eka Karya Graha Jalan Pajajaran No 122C, Bandung, 
Jawa Barat Telp. 022-700175517

Sumber : Kontan, 10 Februari 2012
Eka Saputra, Noverius Laoli


Saturday, February 4, 2012

Lezat Dagingnya, Mantap pula Labanya



Menimbang tawaran kemitraan Steak Kiloan

DAGING bakar alias steik (steak) kini termasuk santapan favorit masyarakat. Lihat saja warung-warung steik yang tak pernah sepi diserbu pembeli. Rasa yang enak dan gurih membuat hidangan ini cepat mendapat tempat.

        Tak heran, bila bisnis makanan steik semakin marak. Terbukti, rumah makan, kafe atau restoran yang menawarkan steik kini makin menjamur. Meski sudah disesaki banyak pemain, toh pebisnis yang mengusung menu steik terus bertambah.

        Salah satu pebisnis steik adalah pasangan suami isteri Ronny Wazier dan Early Riza Marini. Mereka menjalankan usaha Steak Kiloan sejak awal tahun 2011 di Duren Sawit, Jakarta Timur. Sejak akhir tahun lalu, pasangan ini menawarkan kemitraan. 

        Mereka mencoba mengembangkan usah steik dengan mengusung slogan “sensasi makan steik nikmat namun hemat”. Untuk menghasilkan citarasa steik yang enak di santap, mereka mengandalkan suplai daging standar internasional dari Indoguna Meat Shop.”Sementara bumbunya kami pakai citarasa lokal,” kata Early Riza Marini, pemilik Steak Kiloan.

        Soal harga, steaj Kiloan membanderol Rp 18.000 untuk steik daging lokal per 100 gram. Sementara steik daging impor Rp 24.000 per 100 gram. “ Harga sudah  termasuk kentang, sayuran dan the manis. Dengan harga sebesar itu, kami menyasar segmen menengah kebawah, “ ujar wanita yang akrab disapa Rini tersebut.

        Sebagai pendatang baru, Rini Optimis mampu bersaing dengan warung steik yang telah lebih dulu bercokol. Steak Kiloan menawarkan paket investasi sekitar Rp 150 juta kepada calon mitranya. Tawaran kemitraan ini tidak memungut royalty fee. Dengan membayar investasi sebesar itu, mitra akan memperoleh peralatan membuka warung steik serta kerjasama selama lima tahun.” Invesati ini belum termasuk sewa tempat,” tuturnya.

        Rini menjanjikan, mitra bisa meraih omzet sekitar Rp 2,5 juta-Rp 3 juta per hari. Syaratnya, lokasi berjualan harus strategis. Dengan mengantongi omzet sebesar itu, mitra bakal balik modal selama kurun waktu enam bulan dengan keuntungan minimal 20%.

        “ Kami menyarankan lokasi yang dipilih mitra, hendaknya ada competitor steik yang lain guna membuktikan bahwa lokasi itu strategis untuk berjualan steik,” ucapnya.
        Rini mengklaim, kini sudah ad 18 calon mitra yang tertarik bergabung. Ia menargetkan, sampai akhir tahun ini memiliki 20 cabang kemitraan. “Saat ini kami baru memiliki satu cabang dan akan menambah dua lagi, nah sisanya milik mitra,” paparnya.

        Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting mengatakan, sebagai pemain baru, sebaiknya cabang sendiri dulu. Dengan begitu, calon mitra bisa mendapatkan gambaran nyata tentang prospek usaha Steak Kiloan ini. “ Perlu dua atau tiga cabang dulu, kalau ber hasil silakan dimitrakan,”ujarnya.

Steak Kiloan – Jln. Rawa Domba No.17 Duren Sawit, Jakarta Timur, telp : 081-1889-2086/(021)9346-1965

Sumber : Kontan, 03 Februari 2012
                Fahriyadi, Eka Saputra

Friday, January 13, 2012

Mencicipi Manisnya Laba Martabak Bolu


Menimbang tawaran waralaba martabak terang bulan
Martabak merupakan salah satu jenis kudapan paling digemari di Indonesia Citarasanya yang manis dan gurih membuat kudapan ini sangat nikmat disantap saat santai.

Makannya, meskipun penjaja martabak bertaburan, bisnis ini tetap hidup. Malah, ada beberapa pengusaha yang menawarkan bisnis ini secara waralaba. Ambil contoh, tawaran waralaba dari PT Madani Jaya Abadi.

Perusahaan yang berpusat di Solo, Jawa Tengah ini mencoba menciptakan warian baru dari jenis martabak manis yang dinamakannya martabak terang bulan bolu atau biasa disebut martabak bolu. “kami menawarkan waralaba martabak bolu sejak tahun 2009,” kata Indra Kurniawan, pemilik PT Madani.
Indra telah memiliki Sembilan gerai yang tersebar di Jakarta, Balikpapan, dan Medan. Ia mengklaim , martabaknya diminati karena memiliki cita rasa khas dengan variasi isi cokelat, keju, blueberry, daging sapi asap dan abon. Selain unggul soal rasa, martabak buatannya juga tidak berminyak dan dapat bertahan selama tiga hari. Harga jual martabak juga masih terjangkau kantong konsumen.
Untuk martabak Loyang kecil berdiameter  12 centimeter (cm) dibanderol Rp 4.000 hingga Rp 12.000. sementara Loyang besar ukuran 25 cm dibanderol mulai dari Rp 15.000 sampai Rp 43.000 “harga tergantung isi martabak,” jelas Indra.

Bagi yang berminat, Indra mengutio biaya investasi Rp 75 juta. Dengan membayar sebesar itu, mitra mendapat fasilitas peralatan masak, meja kursi  untuk konsumen, serta branding.
Selain tiu, mitra juga akan mendapat pasokan bahan baku martabak untuk keperluan selama sebulan. “Selama sebulan-pertama, kami juga menempatkan seorang supervisor yang gajinya dibayar kantor pusat,”kata indra.

Sistem bagi hasil

Dalam kerjasama ini, tidak dipungut Franchise fee. Hanya saja, PT Madani akan menerapkan sistem bagi hasil kepada mitra yang telah balik modal. Besarnya bagi hasil dihitung berdasarkan laba bersih mitra. Biasanya berkisar 35% - 45% dari total laba bersih.

Menurut Indra, jika lokasi strategis, mitra bisa meraup omzet Rp 45 juta – Rp 50 juta perbulan. Dengan asumsi laba 30%-40% dari omzet, mitra bisa balik modal enam hingga tujuh bulan.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting  bilang, martabak masih menjadi makanan favorit masyarakat. Maka, prospek usaha ini masih cerah. 

Namun, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan melakukan penetrasi pasar, mengingat persaingan bisnis ini cukup ketat. “Lokasi juga perlu diperhitungkan oleh mitra,”tandasnya.
Agar dapat diterima pasar, produseb harus rajin berinovasi . Menurut Erwin, melakukan inovasi tak cukup mengandalkan keyakinan. Tapi juga harus melalui riset pasar.

PT Madani Jaya Abadi
Jl. Dr. Ciptomangunkusumo No. 14 Purwonegaran
Sriwedari, Solo 57141
Telp : 0271-5852569

Sumber : Kontan, 13 Januari 2012
              Muhammad Yazid, Fahriyadi

Monday, January 2, 2012

Karaoke semakim merdu didaerah




Gerai waralaba karaoke kian menjamur di pulau Sumatra, Kalimantan, dan papua



Sebagai bagian dari bisnis hiburan, bisnis jasa tempat karaoke masih menjadi  pilihan untuk membiakkan duit. Tidak hanya di kota besar, tempat karaoke juga sudah merambah hingga ke kota-kota kecil di penjuru Nusantara.

Kian merdunya bisnis rumah karaoke itu juga dirasakan pebisnis waralaba karaoke. Gerai mereka tidak hanya bertambah di kota-kota besar, tapi juga merambah ke berbagai kota kecil di daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Dengan semakin berkembangnya tempat karaoke hingga ke daerah, para pemilik waralaba tempat karaokepun yakin, prospek bisnis waralaba karaoke di tahun ini akan lebih baik ketimbang tahun lalu.
Bagi investor waralaba karaoke, ada tiga aspek yang mesti menjadi rujukan mereka untuk investasi. Pertama, pelayanan yang baik, kedua penerapan teknologi mutakhir, dan ketiga adalah suasana tempat karaoke yang nyaman untuk pelanggannya.

Dalam revieiw ini, KONTAN akan menyajikan perkembangan waralaba karaoke yang pernah ditulis sebelumnya. Pertama  adalah waralaba Inul Vizta KTV yang kini memiliki 72 gerai, kedua waralaba karaoke Happy Puppy yang kini memiliki 52 gerai. Sementara waralaba ketiga, Lime Light masih memiliki satu gerai.
  • Inul Vizta KTV
Pada tahun 2007 lalu, KONTAN pernah menulis tawaran waralaba karaoke ini. Saat itu, waralaba karaoke milik penyanyi dangdut Inul Daratista baru punya delapan gerai saja.
Namun kini, jumlahnya gerai waralaba Inul Vista sudah mencapai 70 gerai. Artinya, selama empat tahun, waralaba Inul Vizta berhasil menambah 62 gerai baru. “Gerai-gerai itu tersebar di banyak daerah,” kata Andersen Tjok, Franchise & marketing manager PT Vista Pratama, pengelola waralaba Inul Vista.
Andersen bilang, penambahan gerai itu selain di kota-kota di ibukota provinsi juga di kota-kota kecil hingga kawasan Indonesia Timur.”Gerai kami ada di Pare-pare sampai Jayapura,” ungkap Andersen.
Selain penambahan jumlah gerai, tempat karaoke milik ratu goyang ngebor itu juga menaikan nilai investasi untuk calon investor. Jika empat tahun lalu investasi waralaba karaoke Inul Vista hanya Rp 2,6 miliar sampai Rp 3,2 miliar, maka tahun ini nilai investasi naik menjadi Rp 4 miliar. “Investasi sengaja kami naikan karena faktor inflansi tahunan, “ jelas Andersen.

Untuk setiap gerai karaoke yang menjadi terwaralaba, Andersen menargetkan omzet Rp 400 juta per bulan. Omzet itu akan tercapai jika lokasi gerai ada di pusat perbelanjaan. 

Untuk 2012, Inul Vista memiliki target menambah 100 gerai lagi. Andersen bilang, target gerai lebih banyak karena peluang bisnis karaoke lbih baik di 2012. “Target ini realistis melihat permintaan tempat karaoke ,”jelasnya.

Selain menambah gerai di dalam negeri , waralaba Inul Vista berencana untuk ekspansi ke luar negeri, salah satunya ke Malaysia dan Singapura. Andersen bilang, mereka tertarik buka gerai di negeri jiran itu karena adanya permintaan di sana. “Terlebih merek kami dan figure Inul Daratista terkenal di Negara itu,” tambahnya.

Andersen menambahkan prospek bisnis karaoke tetap potensial beberapa tahun kedepan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya artis lain yang menjajal peruntungan sama dengan cara membuka bisnis karaoke.

Selain itu, bisnis tempat karaokenya semakin menarik karena bisa menyasar kelompok masyarakat kelas atas hingga kelas menengah. “Harga sewa karaoke kami terjangkau dengan tariff mulai Rp 50.000 per jam hingga Rp 250.000 per jam,”jelas Andersen.
  •   Happy Puppy
Waralaba karaoke Happy Puppy juga menikmati bertambahnya gerai. Happy Puppy memang bukan pemain baru di bisnis karaoke di Tanah Air. Tempat karaoke ini sudah berdiri sejak 1992.
Pemilik Happy Puppy , santoso Setyadji, mulai mewaralabakan bisnisnya ini pada 2000. Hingga kini, gerai happy Puppy telah berbiak sebanyak 52 gerai. Jumlah gerai ini naik ketimbang jumlah gerai pada 2007, yang masih 21 gerai.

Sepertinya halnya Inul Vizta, penambahan jumlah gerai Happy Puppy tidak hanya di kota besar, tetapi juga merambah ke kota-kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Nah, yang menarik, bagi anda yang ingin menjadi terwaralaba Happy Puppy, tahun ini pengelola tidak menaikan nilai investasi. Danang Prasetyo, manager Happy Puppy bilang nilai investasi itu tidak naik sejak 2010 lalu.” Investasi terkecil Rp 2,6 miliar untuk 15 ruangan ,” kata Danang.

Selain itu, ada paket investasi sebesar Rp 3,5 miliar untuk 20 ruangan. Ia bilang, nilai investasi sudah termasuk franchise fee dan perlengkapan, seperti partisi, televise 42 inchi, dan interior ruangan karaoke.
Menurut Danang, untuk mendirikan Happy Puppy berkapasitas 20 ruangan, setidaknya butuh dua unit ruko dengan luas keseluruhan 600 meter persegi (m2) sampai dengan 900 m2.
Danang mengklaim, keunggulan dari waralaba Happy Puppy terletak pada konsepnya sebagai waralaba karaoke keluarga yang cocok untuk semua kalangan.

Selain itu, Happy Puppy juga memberikan fasilitas teknologi mutakhir, seperti televise layar sentuh, pelindung mikrofon sekali pakai, dan kelengkapan keamanan ruangan jika terjadi musibah kebakaran atau bencana lain. “Kami juga mempunyai fasilitas lampu darurat dan masker asap jika ada musibah kebakaran,” ujar Danang.
  •   Lime Light

Waralaba karaoke Lime Light berdiri sejak 2007 namun baru diwaralabakan pada 2009. Sayangnya, setelah tiga tahun diwaralabakan, waralaba ini tak kunjung mendapatkan terwaralaba.
Kartini, Staf Manajemen Lime Light bilang calon investor mereka banyak datang datang dari luar Jawa. “Sementara kami masih fokus mencari terwaralaba di Jabodetabek ,”terang Kartini.
Kartini menjelaskan untuk menggarap karaoke di Jawa setidaknya butuh manajemen yang handal. Sementara ini, pihak manajemen Lime Light baru mengelola satu gerai saja di Jakarta.

Namun begitu , karaoke Lime Light berencana untuk menambah investasi lagi. Mereka akan menambah gerai atau kantor cabang baru dalam waktu dekat.”Bulan Januari ini kami akan membuka cabang baru di Bekasi,” Jelas Kartini.

Waralaba ini menawarkan paket investasi Rp 2,1 miliar untuk 15 ruangan, termasuk sistem operasional , peralatan , dan fasilitas penunjang. Tempat ideal untuk paket adalah ruko seluas 500 m2.” Modal bisa balik dalam jangka waktu 18 bulan,” terang kartini.

Saat ini, Lime Light fokus memberikan layanan untuk remaja. Itulah sebabnya, Lime Light terus menambah koleksi lagu korea. Soal tariff layanan karaokenya, Lime Light menawarkan tarif sewa mulai Rp 50.000 per jam sampai dengan Rp 140.000 per jam.

KARAOKE sudah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat . tidak hanya di perkotaan saja, bisnis karaoke juga sudah merambah dan berkembang di sekuruh Indonesia. 

Erwin Halim, konsultan warlaba dari proverb Consulting  percaya, bisnis karaoke masih akan eksis dalam beberapa tahun kedepan . Namun, “Untuk bisa mendapatkan laba maksimal , maka pebisnis tempat karaoke harus mampu memainkan segmen pasar secara optimal, “ujarnya.

Menurut Erwin, kesan mewah dari berkelas bisa menjadi pemilih segmentasi , sehingga pebisnis karaoke bisa fokus jika segmentasi sudah terbangun dan konsumen sudah terbentuk, maka investasi dalam jumlah besar menjalankan bisnis tempat karaoke ini.

Bahkan, bisa menjadi keniscayaan jika bisnis karaoke yang terus berkembang sejak 2008 akan menjadi salah satu unit bisnis andalan seperti juga usaha makanan dan minuman. “Bisnis tempat karaoke mengarah terciptanya unit bisnis baru yang tak kalah menjanjikan. Dia bisa menjadi satu kesatuan dengan restoran ataupun food & beverage,” kata Erwin

Walaupun bukan merupakan bisnis inti tempat karaoke, restoran ataupun food & beverage akan membantu mendongkrak usaha dari sisi pendapatan. Dengan menawarkan makanan dan minuman yang enak dan terjangkau maka akan menjadi salah satu faktor keberhasilan pengelolaan bisnis karaoke.
Selaintiu, yang penting diperhatikan dari bisnis karaoke adalah pengembangan teknologi, komposisi, serta daftar ;agu yang menjadi suguhan utama bisnis karaoke.”Bisnis  tempat karaoke tak boleh kaku dalam inovasi teknologi,” pungkasnya.

Sumber: Kontan, 2 Januari 2012
   Fahriyadi, Hafid Fuad