Tuesday, July 12, 2011

Waralaba Lele Makin Menggeliat


Potret terbaru bisnis waralaba restoran dengan menu andalan ikan lele

Gloria Natalia,
Mona Tobing, Kontan, 08 Januari 2011   

        LELE tidak lagi dianggap sebagai makanan pinggiran yang cuma dijual di warung kaki lima. Ikan berkumis ini sudah masuk ke restoran dan menjadi lezat yang diolah dengan pelbagai bumbu yang mengundang selera.
       Jumlah restoran yang mengangkat ikan lele menjadi menu andalan ternyata berkembang pesat. Hal ini, salah satunya lantaran pengolahan lele ikan bumbu dan kreativitas para pengusaha kuliner.Anda yang ingin menjadi mitra waralaba restoran yang menyajikan lele sebagai menu utama, tidak ada salah nya melihat kembali tiga pewaralaba yang pernah ditulis KONTAN sebelumnya.
*    Pecel Lele Lela

    Pecel Lele Lela menyediakan beragam menu lele. Seperti, lele fillet goreng tepung, lele saos padang, lele fillet kuah tom yam, dan lele fillet lada hitam. Mereka menjual seporsi makanan aneka ikan lele dengan haraga Rp 12.000.
   Dengan aneka menu serba lele itu, Rangga Umara berhasil mengibarkan bisnis Pecel Lele Lela. Kini ada 11 mitra dan 27 cabang berbendera Pecel Lele Lela di Jakarta hingga Bali. Dari 11 mitra itu ada yang berencana membuka gerai lagi. “Bahkan, ada seorang mitra lama kami yang punya empat cabang dan akan bukan lagi di Bali,” ungkap Rangga.Pecel Lele Lela juga memiliki mitra yang akan membuka gerai baru di Medan, Sumatera Utara. Sementara, di Purwokerto, Jawa Tengah, baru saja satu gerai berdiri.
   Rangga juga menggandeng konsultan usaha untuk menentukan indikatorindikator pemilihan lokasi dan performa mitra. “Jadi, ketika mitra ingin buka lagi gerai akan kami survey lokasi dan menganalisanya lewat konsultan itu,” papar pemilik Pecel Lele Lela itu. Dia juga bakal menganalisa strategi penjualan dan pemasaran.
   Bagi Anda yang ingin berkongsi dengan Pecel Lele Lela yang berdiri sejak 2006 ini,Rangga mendongkrak nilai investasi kemitraan. Awalnya, investasinya Rp 54 juta untuk kerjasama selama lima tahun. Tapi mulai tahun ini investasi naik menjadi Rp 75 juta untuk empat tahun. “Investasi naik karena nilai merek semakin tinggi dan sudah dikenal banyak orang,” katanya.
   Rangga menilai rasa masakan Pecel Lele Lela semakin akrab di lidah banyak orang. Ia bercerita, saat Pecel Lele Lela baru di Purwokerto, dalam satu hari saja omzetnya mencapai Rp 10 juta atau Rp 300 juta per bulan. Padahal
Rangga menargetkan omzet mitra baru yang baru buka minimal Rp 100 juta per bulan.
   Tak hanya di Purwokerto, banyak mitra yang baru buka di kota lain mampu mengantongi omzet Rp 150 juta hingga Rp 280 juta saban bulan.
    Itu sebabnya, Rangga optimis, Pecel Lele Lela juga dapat hidup di kota-kota kecil. Apalagi masyarakat melihat masakan lele sebagai sajian yang unik.
   Berangkat dari pandangan ini, ia menargetkan membuka 17 gerai baru tahun ini.
Bahkan, dia tengah mengkaji mitra yang hendak buka di Penang, Malaysia dan Jeddah Arab Saudi. “Kami menyapa
orang-orang Indonesia yang bermukim disana. Semoga saja tahun ini dapat buka,” kata Rangga.
*    Lele Saurus

   Ketika KONTAN mengupas waralaba ini pada Agustus 2010, Lele Saurus baru memiliki tiga mitra. Saat ini, merek sudah punya enam mitra. Empat terbesar si Yogyakarta dan Jawa Tengah, dua di Jakarta dan Batam.
   Andreas Andi Banyu, pemilik Lele Saurus, mitranya bertambah karena minat masyarakat mengonsumsi lele semakin tinggi. Selain itu, Lele Saurus juga terus berinovasi di menu masakan lele.
    Rasa kedua makanan ala asing itu tentu saja disesuaikan dengan lidah orangIndonesia. Sekarang, jumlah menu Lele Saurus telah bertambah dari sebelumnya 32 menjadi 60 jenis. Menu baru andalannya, lele lombok hijau dan lele oseng mercon yang bercita rasa pedas.
   Meski rasa dan menu kian beragam, Andreas tidak mengerek harga jual. Jadi, masih terjangkau kantong, Rp 6.000 hingga Rp 50.000 per porsi.
   Andreas mengklaim, keenam mitranya mengambil paket restoran selalu bisa melewati target omzet Rp 60 juta per bulan. Bahkan, “Gerai di Jakarta bisa tembus Rp 130 juta per bulan dan Rp 70 juta di Jawa Tengah,” ujarnya.
   Pendapatan yang tinggi itu membuat Andreas kian semangat memasarkan waralaba Lele Saurus. Apalagi, banyak permintaan dari pulau seberang, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Andreas menargetkan, Lele Saurus bakal berdiri di tiga pulau itu di masa yang akan datang.
   Dia pun mengubah tipe gerai yang tadinya terbagi dalam tiga jenis, yakni mini resto, medium, dan resto, hanya menjadi konsep restoran. Dengan nilai investasi Rp 55 juta, mitra mendapatkan bahan baku, papan nama, seragam, karyawan dan brosur.
   Sedangkan penyediaan bahan baku ikan lele, pemilihan lokasi restoran, peralatan dapur dan makan, serta meja dan kursi ditanggung mitra. Si mitra juga akan mendapatkan pasokan bahan baku dari Lele Saurus. “Mitra tinggal memesan dan membayar bahan baku sesuai kebutuhan restoran tiap bulan,” kata Andreas. Dia membebankan ongkos kirim ke mitra.

*    Mbah Jingkrak

   Waralaba satu ini tidak hanya terkenal dengan pedasnya ayam rambut setan dan gurihnya ayam bakar. Menu andalan lain yang juga selalu jadi incaran konsumen adalah lele penyet dan lele kobong.
   Lelel kobong adalah lele yang diasap lalu dipenyet dengan sambal terasi. Masing-masing menu harganya cuma Rp 11.000 per porsi. “Kedua menu ini selalu dicari pembeli terutama lele kobong,”ujar Executif Chef Mbah Jingkrak Darmawan.
   Mbah Jingkrak yang menawarkan waralaba sejak 2006 ini memiliki 11 waralaba di Pulau Jawa. Darmawan mengungkapkan, pertengahan Januari ini, akan buka lagi gerai di Jalan Veteran, Jakarta Pusat dan di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan pada pertengahan Februari nanti.
    Di Maret 2011, Mbah Jingkrak bakal melebarkan sayap ke Bumi Serpong Damai (BSD) dan Palembang pada Juni 2011. Menyusul kemudian gerai baru di Bali.Dengan nilai investasi sebesar Rp 320 juta, Mbah Jingkrak akan menyediakan menu makanan, tiga sampai empat koki terlatih, pelatihan karyawan, pendampingan operasional selama sebulan pertama bagi para mitranya.

Tak Cuma Soal Rasa, Tapi Juga Penyajian

IKAN lele sudah menjadi salah satu menu favorit sebagian masyarakat Indonesia. Selain harganya yang murah, rasa ikan berumis ini gurih serta mengandung protein dan lemak yang tinggi yang tinggi. Tak heran, banyak bertebaran warung-warung pecel lele di pinggirpinggiran jalan, mulai kota-kota besar hingga kota-kota kecamatan.
   Tak hanya menjadi menu warung kaki lima, lele juga hadir di restoran besar. Imaji ikan bernama Latin Clarias Gatiachus ini naik kelas. Erwin Halim dari proverb consulting mengatakan, masuknya ikan lele menjadi menu utama di restoran besar telah membuktikan, bahwa minat mengkonsumsi ikan berwarna hitam keabu-abuan itu terbilang tinggi.
   Menurut Erwin, ikan lele memang telah menjadi pilihan lauk bagi sebagian masyarakat, sehingga peluang bisnis kuliner ikan ini cukup menjajikan.Mitra-mitra baru yang tumbuh dari restoran-restoran yang menjual menu utama ikan lele juga membuktikan, pasar kuliner ikan ini terbilang cerah.
   Apalagi, para pelaku usaha pintar membuat variasi menu baru dari ikan lele. Tentu saja, “Ini akan menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri untuk me-menangkan pasar kuliner di Indonesia,” ungkap Erwin.
   Hanya saja, Erwin menambahkan, meski telah banyak menumbuhkan mitra-mitra baru, para pengelola waralaba restoran dengan menu utama ikan lele harus tetap memperhatikan kualitas rasa, pelayanan yang baik, dan mampu mengubah imaji ikan lele yang dikenal sebagai ikan pemakan kotoran ini menjadi makanan favorit, “Misalnya, perlu ada variasi dari menu-menu ikan serta pengemasan, penyajian, dan pengolahan ikan lele tersebut.” Ujarnya.

Usaha Es Krim Makin Maknyuss

Melongok kembali tawaran kemitraan es krim Mr Cool, Baltic Ice Cream, dan Revo Ice Cream

Rivi Yulianti
Ragil Nugroho, Kontan, 12 Februari 2011                     

CAMILAN beku berbahan dasar susu ini memang banyak peminatnya. Seiring dengan citra produk yang makin umum untuk semua usia, para pemain bisnis baru di usaha es krim pun makin banyak bermunculan.
      Mereka pun mengaku persaingan kian sengit. Oleh karena itu, inovasi rasa dan patokan harga murah menjadi strategi untuk menggapai pasar yang lebih luas.
      Melalui tulisan ini, KOTAN mencoba mengulas bisnis es krim dengan membandingkan kondisi
saat kami wawancara setahun lalu dengan perkembangan sekarang.
  


§         Mr cool

      PT Mudamas Intan Samudera mulai menawarkan waralaba Mr Cool sejak September 2009. KONTAN pernah meliputnya pada juli 2010.


      Saat itu, sudah berdiri ratusan gerai yang tersebar di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Di tiap kota juga berdiri agen yang berfungsi sebagai master franchise.
      Meski master franchise belum bertambah, jumlah mitra di tiap kota terus meningkat. “Rata-rata ada lima baru di tiap kota,” kata Adhitya Susilo, Marketing Mudamas Intan Samudera tanpa memerinci.
      Bahan dasar es krim ala Mr Cool berbentuk instant dalam kemasan dengan metode water injection. “Produk es krim ini dibuat dalam bentuk bubuk instant agar mudah dalam pendistriubusiannya," ujar Adhitya.
      Biaya kemitraan Mr Cool cukup murah, yakni Rp 1.050 Juta saja. Mitra akan mendapatkan paket perdana sebanyak 10 pak bahan baku es krim. Bahan baku sebanyak 2.400 bungkus es krim.
      Selain itu, mitra juga akan memperoleh fasilitas dua buah alat suntik dan satu alat pengelem plastik. Sementara, peralatan seperti reezeer atau kulkas harus di siapkan sendiri oleh mitra.
      Karena menggunakan konsep kemitraan, Mr Cool tidak mengenakan biaya tambahan apa pun. Tak ada franchise fee maupun royalty fee. Namun, selama menggunkan merek dagang itu, mitra usaha wajib membeli bahan baku dari Mudamas Intan Samudera. Pengiriman akan dilakukan sebulan dua kali.
      Balik modal diperkirakan dalam waktu dua bulan. “Namun, belum memperhitungkan investasi peralatan produksi,” ujar Adhitya. Asumsinya, mitra mampu menjual 100 bungkus per hari.
      Mudamas Intan mematok harga setiap bungkus es krim Mr Cool Rp 437. Mitra menjual ke
konsumen Rp 1.000 per bungkus. Dari harga tersebut, mitra mendapat margin lebih dari 50 %.

§         Baltic Ice Cream
     Produk es krim merek Baltic es krim berbeda dengan produk es krim merek lain. Semua bahan baku bersifat alami. Misalnya, Baltic Ice Cream selalu memakai susu sapi  murni sehingga tekstur nya es krimnya lembur, tapi tak cepat lumer.
      Baltic Ice Cream menawarkan tiga jenisa kemitraan. Yakni, bentuk booth, mini kafe, dan kafe. Saat KONTAN mengupas tawaran kemitraan Baltic Ice Cream pada Mei 2009, jumlah gerai mereka baru di empat lokasi si seputaran Jakarta dan Tanggerang, 75
kni di Kramat Raya, Meruya, Cibubur dan BSD City. Rata-rata omzet gerai-gerai itu Rp 102 juta sebulan.
      Sejak membuka sistem waralaba April 2009, perkembangan bisnis Baltic Ice Cream cukup baik  lantaran namanya sudah dikenal, mereka pun berhasil menjaring lima terwaralaba baru.
      Dengan sistem waralaba investor juga punya kewajiban membayar biaya royalty sebesar 5 % dari total omzet saban tahun. Adapun, investasi awal usaha ini sudah termasuk franchise fee untuk lima tahun.
      Dari biaya investasi, terwaralaba akan mendapatkan perlengkapan pembuatan es krim, seperti freezer, booth untuk usaha, dan bahan baku pembuatan es krim, Baltic Ice Cream juga membolehkan para mitra untuk menjual kopi, the bahkan kentang goreng dirombongnya.
      Dalam hitungan Baltic Ice Cream, terwaralaba bisa balik modal dalam waktu 10 bulan. Ini dengan asumsi
sekitar 80 hingga 125 cup es krim  yang harganya mulai dari Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per cup. “Jika omzet per hari 1 juta, mereka bisa balik modal kurang dari setengah tahun, kata Janto Tan, Manajer Pemasaran Baltic.
      Namun, mitra barunya di Radio Dalam, Jakarta Selatan mampu merau
omzet perbulan sebesar Rp 150 juta. Sedangkan, omzet di Meruya Rp, Jakarta Barat Rp 250 juta sebulan.
      Hanya saja, hingga saat ini, Baltic Ice Cream belum memutuskan untuk memperluas waralabanya ke daerah luar Pulau Jawa. “Kai masih fokus menggarap di Jabodetabek.”ujar Janto.

§         Revo Es Krim

      Pertumbuhan yang baik terlihat dari waralaba es krim PT Revo Indonesia. Lantaran menyasar kelas menengah ke atas, hendra Barokah, pemilik Revo Es Krim, mengaku usahanya bisa cepat berkembang sangat cepat.
      Sejak awal berdiri pada 2008 dan mulai menawarakan waralaba Mei 2009, Revo Es Krim lebih fokus di pasar ini dengan menawarkan harga jual mulai Rp 2.500 hingga Rp
6.000. Kurang dari setahun, gerai mereka bertambah menjadi 125 outlet dan tersebar diseluruh Jabodetabek.
      Usaha ini hanya bermodalkan booth kecil sebagai tempat berjualan. Peralatannya juga tak beda dengan gerai usaha minuman lain, yakni teko listrik, shaker minuman, termos, freezer, penyimpanan es, serta es krim.
      Konsepnya cukup sederhana, calon mitra cukup menyediakan tenaga kerja serta tempat usaha. Khusus untuk tempat hendra menyarankan agar mitra memilih tempat-tempat yang ramai dilalui orang. Seperti mal, pasar, lokasi sekitar kampus, kantin perkantoran. Stasiun kereta api, serta terminal bus.
      Menurut Hendra, lokasi menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis ini. “Harus dekat dengan dengan tempat bermain anak-anak dan orang tua yang menunggunya,” ujarnya.
      Mitra tentu harus menyetorkan modal sebagai pengganti biaya peralatatan dan perlengkapan usaha dan bahan baku serta pelatihan pembuatan minuman. Adapun modal awal Revo Es Krim mencapai Rp 7 juta. Khusus untuk bahan baku selanjutnya, mia harus  membeli di Revo Es Krim pusat. “Bahan dasar kami berbeda dan tidak dijual ditempat lain,” tegas Hendra.
      Revo Es krim berani menjamin mitra bakal balik modal dalam e\waktu dua bulan. Dengan catatan, mitra bisa menjual 50 hingga 60 cup per menu atau sekitar 150 sampai 200 cup sehari. Hebatnya,               dalam menjalankan usahanya, hendra tidak membutuhkan promosi besar-besaran. “Lebih mengandalkan promosi antar mitra saja,” ujar dia.
      Agar promosi dari mulut ke mulut efektif, Hendra menawarkan hadiah Rp 500.000 serta potongan 20% dari pembelian bahan baku saban bulan bagi mitra yang behsil mengajak investor.
      Ketika KONTAN terakhir meliput Revo pada Juni 2009, ada 65 calon terwaralaba yang mengajukan tawaran. “Saat ini sudah ada tambahan 50 waralaba,” ujarnya. Mereka tersebar di Jabodetabek, Riau, Palembang, dan Medan.
      Menurut Hendra, perkembangan waralabanya lebih diakibatkan harga es krimnya terjangkau tapi kualitasnya tak kalah. “Karena secara umum, daya beli masyarakat cenderung melemah dua tahun belakangan,” ujarnya.

Lebih Gampang Pilih Merek Populer
ANDA berminat menjadi mitra waralaba es krim ? Ada baiknya Anda menyimak dulu saran Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb. Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian calon mitra sebelum berinvestasi di usaha es krim.
     Pertama, pastikan merak waralaba es krim cukup populer di kalangan masyarakat. Sebab, “Agak sulit bagi produk-produk es krim baru untuk bersaing dengan brand yang sudah populer,” kata Erwin.
     Kedua, pastikan soal ketersediaan produk secara kontinyu. kenapa ? Soalnya, “Saya perhatikan ada bebarapa produk es krim home made yang distribusinya jelek, sehingga produknya sulit ditemui. Padahal, peminatnya cukup tinggi.” Ujar Erwin.

     Ketiga, yang selalu harus menjadi pertimbangan dalam berusaha : lokasi. “Lokasi gerai usaha harus berada dalam keramaian,” saran Erwin. Misalnya, dipusat pembelanjaan atau mall, sekolah, dan tempat rekreasi.
     Keempat, cermati betul proyeksi keuangan yang menggambarkan kestabilan usaha yang ditawarkan pewaralaba. Sementara, bagi pewaralaba, Erwin berpesan, hendaknya memperhatikan life cycle produknya. Salah satu caranya, dengan tetap meningkatkan permintaan. Karena itu, perbanyak mitra atau agen distribusi di daerah-daerah. Makin banyak gerai makin bagu. Dengan begitu produknya akan makin dikenal masyarakat. “Daerah merupakan pasar yang bagus dan potensial untuk produk es krim. Asalkan, perhatikan betul soal daya beli masyarakat,” kata dia. Penting juga menjaga kualitas, keseragaman rasa tiap gerai, dan kesegaran bahan baku. Dan, teruslah berinovasi melahirkan aneka rasa es krim baru.

Monday, July 11, 2011

Sim Salabim, Untung dari Sekolah Sulap


Menimbang peluang kemitraan sekolah sulap Demian’s Magic Acedemy

Ragil Nugroho, Kontan 10 Februari 2011

KEAHLIAN memainkan sulap bisa menjadi tambahan. Inilah yang mendasari Adjie Santoso Putro mendirikan sekolah sulap Demian’s Magic Academy (DMA), Agustus 2009 lalu.
      Adjie yang lulusan psikologi Universitas Gajah Mada ini melihat kebutuhan anak tidak hanya pendidikan di sekolah. Kemampuan non akademis seperti life skill meliputi komunikasi dan skill interpersonal, kemampuan membuat keputusan , berfikir kritis dan manajemen juga dibutuhkan.
      Sekolah sulap yang didirikan menurut Adjie, diperuntukan untuk anak muda dan remaja dengan menekanan kemampuan life skill selama 3 bulan.
      Dengan dua pilihan kelas itu berarti anak yang tidak ingin menjadi pesulap, juga tetap bisa masuk ke DMA. “Salah satu yang akan diajarkan adalah kemampuan limengatasi demam panggung dan berbicara didepan public,” uajr Adjie yang menjadi finalis Wirausaha Mandiri 2010 itu. Salah satu tujuan DMA adalah mengubah imej masyarakat tentang sulap menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menghibur.
      Untuk menarik siswa, setiap enam bulan, Demian Aditya, pesulap terkenal, akan memberikan coaching clinic. Dengan Demian juga tergabung bersama tim perumus kurikulum, dan sistem manajemen bekerja sama dengan Primagama.

INVESTASI Rp 260 juta

      Untuk mengembangkan usaha, pada akhir tahun 2009, DMA menawarkan kerjasama kemitraan. Untuk menjadi mitra, diperlukan investasi sebesar Rp 260 juta. Dana itu untuk biaya joining and opening fee, branding dan renovasi, pembelian alat-alat kantor hingga operasional awal. “DMA menyediakan satu mentor bersertifikat dan profesional kata Adjie.
      Adjie mengaku hingga saat ini sudah ada empat mitra yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Batam dan Medan. Keuntungan mitra didapatkan dari biaya pendaftaran siswa sebesar Rp 100.000. Selain itu juga ada uang kursus Rp 12,3 juta per tahun untuk kelas sulap dan Rp 500.000 untuk kelas life skill.
      Namun uang pendaftaran dan biaya kursus harus dipotong 10% untuk royalti. “Royalti dibayar setelah usaha berjalan tiga bulan, “kata Adjie. Dengan asumsi 72 siswa, mitra akan mendapat laba Rp 170 juta per tahun.
      Untuk meringankan calon mitra, joining fee sebesar 150 juta bisa diangsur. Pertama pembayaran uang muka 20%, lalu 75% sebulan kemudian, dan pelunasan tiga hari sebelum penandatanganan akta notaris. Grand Opening dilakukan minimal 45 hari setelah pelunasan joining fee.
      Agar asumsi jumlah siswa dapat tercapai maka DMA menerapkan standar lokasi strategis dan mudah dijangkau. Ruangan yang diperlukan minimal 3 m x 6 m, satu ruang tunggu, satu ruang manajemen, satu ruang ibadah dan toilet.

     Pengamat waralaba Erwin Halim berpendapat kemitraan ini cukup prospektif. “Kombinasi keunikan yang bisa dikatakan pertama kali di Indonesia,” katanya. Namun calon mitra harus betul-betul diperhatikan lokasi sekolah apalagi segmennya sebagian besar kelas menengah atas sehingga hanya akan banyak diminati di kota besar.

Simulasi Usaha Demian’s Magic Academy
Investasi Awal
Joining fee
Rp  150.000.000
Biaya Perlengkapan
Rp  110.000.000
Total Investasi awal
Rp  260.000.000
Pendapatan tahunan
-Biaya pendaftaran (Rp 100.000 x 72)
Rp       7.200.000
-Biaya kursus (Rp 12.300.000 x 72)
Rp   885.600.000
Total pendapatan tahunan
Rp   892.800.000
Pengeluaran tahunan

Royalti fee (10%)                                 Rp    88.560.000
-Gaji mentor (30%)
Rp    193.212.000
-Modul dan sarana belajar (Rp 2.125.000 x 72)
Rp   153.000.000
-Gaji 4 pegawai
Rp   156.000.000
-Sewa Gedung
Rp     50.000.000
-Operasional (konser dan marketing)
Rp     81.600.000
Total pengeluaran tahunan
Rp   722.372.000
Laba bersih per tahun
Rp   170.428.000
Balik Modal Rp 260  juta : 170.428.000 = sekitar 1,5 tahun
Sumber : DMA dan riset KONTAN


Alamat DMA
Graha Primagama
Jl Diponegoro No 89
Yogyakarta
Telp : 0274-520418
Hp : 081802550247




Usaha Tela Belum Sepenuhnya Bantut


Tetapi, ada pewaralaba makanan berbasis ketela yang jumlah agennya menyusut dan membuka usaha baru

Gloria Natalia
Mona Tobing, Kontan, 5 Februari 2011

PERSAINGAN waralaba berbahan baku ketela kian ketat. Makin banyak pengusaha yang melirik singkong sebagai bahan baku utama produk-produk ma-kannya.
   Para pemain yang telah di-temui KONTAN pun mengamini tingginya tingkat persaingan usaha kuliner ini. Bahkan, salah satu pemain yang telah empat tahun bergelut di bisnis ini, harus rela kehilangan separuh agennya.
   Oleh karena itu, mereka melakukan beragam inovasi dan
menerapkan strategi bisnis baru. Contohnya, mempercantik masa balik modal dan mempercantik penampilan gerobak atau gerai.
   Melalui tulisan ini, KONTAN mencoba mengulas perkembangan kemitraan ketela ini dengan membandingkan kondisinya saat kami pernah liput mereka dulu.

*       Tela – Tela
   Meski penambahan gerai tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, Tela-Tela tetap menjaring mitra. Sejak menawarkan kemitraan pada 2005 hingga 2008, Tela-Tela telah membuka 1.200 gerai.
   Awal 2011, mereka sudah  memiliki 1.800 gerai yang tersebar di seluruh kabupaten di Indonesia. Pertambahan gerai  ini berkat upaya Tela-Tela yang tak berhenti melakukan beragam inovasi.
   Eko Yulianto, pemilik Tela-Tela, mengatakan, konsep bisnis Tela-Tela sudah berubah lantaran persaingan usaha kian ketat. Kini, Eko fokus untuk mengingatkan pendapatan mitra.
   Caranya, dengan menggenjot penjualan para mitra. “Jika satu gerai menjual tela 300 bungkus, kami memasang target 500 bungkus bisa terjual,” ujar Eko. Padahal, sebelumnya, ia lebih berkonsentrasi untuk menjaring mitra sebanyak-banyaknya lewat pelbagai promosi.
   Eko mematok target tinggi itu dibarengi dengan penyajian ragam menu yang kian enak di lidah. “Soal kualitas, kami tidak main-main, tidak boleh berkurang dari standar Tela-Tela,” tegasnya.
   Selain itu, Eko juga mengurangi porsi Tela-Tela yang dijual. Cara ini ternyata jitu. Mitra bisa meraih pendapatan lebih besar. Bila dalam sehari mitra bisa mengantongi penda-patan Rp 300.000, dengan strategi baru mereka bisa meraup omzet Rp 500.000.
   Dengan pencapaian omzet yang lebih besar, perkiraan waktu balik modal pun berubah. Sekarang, mitra hanya butuh waktu enam bulan saja untuk kembali modal. Jadi, lebih cepat dari sebelumnya yang sembilan bulan.
   Eko masih menawarkan dua tipe kemitraan, yakni tipe A seharga Rp 5,5 juta dan tipe B dengan nilai Rp 7 juta. Meskipun nilai investasi awal naik ketimbang sebelumnya, ia opti-mis, tetap bisa menjaring mitra karena kenaikan ini dibarengi dengan membaiknya manajemen Tela-Tela.
   Agar tetap menarik minat konsumen, Tela-Tela juga mempercantik gerobak tempat berjualan. “Pembeli lebih tertarik ketika melihat  tampilan yang menarik,” kata Eko. Manajemen pun berkomitmen untuk mengganti wajah gerai setiap dua tahun.
   Tak lupa, Eko mengutip ongkos renovasi gerobak mulai dari Rp 200.000-Rp 700.000 per gerobak. Tarif tertinggi dipatok untuk gerobak yang hendak ditukar tambah.
   Tak hanya itu, Tela-Tela juga mengemas promosi melalui sebuah lagu via internet. Eko pun menggandeng produsen kaos oblong terkenal di Yogyakarta untuk membubuhkan nama Tela-Tela di produk mereka.

*       Tela Krezz

Beda dengan mitra Tela-Tela yang bertambah, memasuki 2010, jumlah agen Tela Krezz turun separuh, sejak itu sampai Januari 2011 agen yang tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Bali.
   Padahal, di 2008 hingga 2009, Tela Krezz punya 33 agen yang tersebar di 33 kota “Penurunan jumlah agen ini karena mereka tidak melanjutkan kontraknya,” ungkap Ad-mini, manajer Tela Krezz Divisi Yogyakarta.
   Seorang agen terikat kontrak untuk jangka waktu dua tahun di setiap wilayah kabupaten atau kota. Agen berfungsi memasok seluruh kebutuhan gerai. Mereka juga membantu promosi untuk mencapai target penjualan.
   Pada 2008, Tela Krezz mematok biaya investasi Rp 12 juta untuk jangka waktu dua tahun. Desember 2010, nilai investasi keagenan naik menjadi Rp 18 juta. “Kenaikan ini karena kami mengikuti harga pasar,” kata Admini.
    Biaya investasi ini rupanya naik terus tiap tahun. Padahal, ketika Tela Krezz baru menawarkan kemitraan pada 2006, biaya investasi agen hanya Rp 5 juta untuk dua tahun.
   Menurut Admini, sebuah agen Tela Krezz bisa mengelola hingga 10 mitra. Hanya saja, ia tak mengetahui jumlah mitra dan gerai Tela Krezz saat ini. “Kami hanya mengurus agen saja,” kilahnya.
   Ketika KONTAN mengulas Tela Krezz pada Januari 2008, waralaba ketela asal Yogyakarta itu sudah mempunyai 120 gerai hingga akhir 2007. Mereka tersebar di Yogyakarta, Jawa Tengah, Balikpapan, Sa-marinda, Bontang, Palangkaraya, dan Banjarmasin. Saat ini Tela Krezz lebih fokus menjual produk baru, yakni Tela Krezz Beter Cassva. Ini produk beku stik singkong. Mereka memasok produk itu ke restoran, cafĂ©, dan pameran. “Ke depan kami berencana mendistibusikan produk ini ke agen-agen kami,” ujar Admini.

*       Umbi Stick
   Usaha camilan berbahan baku ketela, talas, dan kentang ini berdiri tahun 2006 di Surabaya, di bawah CV Para muda Agro Nusantara. Setahun berlalu, tepatnya September 2007, mereka mulai menawarkan kemitraan.
   Satu tahun mengusung kemitraan, Umbi Stick hanya punya 7 mitra. Nilai investasinya ketika itu Rp 3 juta. Di 2008, sudah ada 60 mitra. Nilai investasi pun naik hingga mencapai angka Rp 6 juta. “Sampai sekarang ada 25 agen dan 150 mitra dengan nilai investasi yang masih sama, Rp 6 juta,” kata pemilik Umbi Stik Nur Yusuf Samapta.
   Yusuf pun menyadari, di tengah pertumbuhan jumlah mitra ini, persaingan makin ketat. Peluang yang tak lagi bagus ini juga terlihat dari perubahan masa balik modal Umbi Stick.
Bila di awal bermitra, Yusuf menargetkan dua hingga tiga bulan bisa balik modal. Sekarang, ia mematok jangka waktu empat hingga lima bulan. “Profitnya tidak sebesar dulu,” tuturnya.  
   Itu sebabnya, ia membuka waralaba baru : Nasi Bakar keraton. Investasinya lebih kecil dibandingkan Umbi Stick, hanya Rp 4 juta.
   Sejak buka Desember 2010, Yusuf sudah punya 18 mitra. “Banyak yang tadinya ingin bermitra Umbi Stick, lebih tertarik menjadi mitra Nasi Bakar Keraton,” katanya.
   Menurut Yusuf, perubahan keinginan ini lantaran mitra menilai Nasi Bakar Keraton punya bumbu sendiri yang tidak sama dengan pemilik usaha nasi bakar lain. Selain itu, mereka berpikir bumbu ketela sama saja dengan usaha ketela lain,” ujarnya.
Olahan Singkong Perlu Permak Lagi 
SINGKONG memang belum menjadi panganan pokok orang Indonesia. Apalagi, citra ubi kayu masih kental sebagai makanan menengah bawah. Tapi, pelan-pelan, imej ketela pohon perlahan-lahan mulai naik kelas, seiring makin banyaknya usaha kuliner yang menggunakan singkong sebagai bahan baku utama. Agar terkesan mewah, kata singkong diganti menjadi tela.
   Maka, lahirlah usaha kuliner berbasis singkong dengan bendera Tella Krezz, Tela-Tela, dan Umbi Stick. Cara ini ternyata mampu mengubah imej singkong dari makanan kampung menjadi salah satu camilan yang digemari masyarakat kota.
   Sempat booming di era 2006-2007, pelaku usaha kuliner singkong terus melakukan inovasi dengan bermacam rasa. Sehingga, bisnis kuliner singkong tetap menjanjikan. Namun, menjelang 2011, usaha ini bisa dikatakan mengalami pasang surut.
   Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb, bilang, jumlah pertambahan mitra kemitraan kuliner singkong yang tidak signifikan, bahkan malah ada yang berkurang, lantaran sudah tidak ada lagi modifikasi pada produk. Buntutnya, pasar jenuh dengan tela yang sudah tidak menawarkan varian rasa lagi. “Seharusnya, para penjual menyadari kalau jenis tela adalah makanan yang mudah ditiru, sehingga perlu ada inovasi soal bumbunya,” kata Erwin.
   Tidak hanya soal modifikasi rasa, menurut Erwin, pengemasan dan imaji produk juga perlu diperbarui. Bahkan, kalau perlu mengubah wajah produk tela itu sendiri untuk menghapus kejenuhan orang. Kalau semua perubahan itu dilakukan, bukan mustahil tela akan menjadi makanan yang di gemari seluruh lapisan masyarakat kita.

Menimbang Berbagai Waralaba Bento


Melihat prospek usaha waralaba makanan khas jepang yang terus menjamur

Wahyu Tri Rahmawat
Fahriyadi, Kontan 4 September 2010.


JAKARTA. Di Jepang, kalimat bento memiliki arti makanan bekal yang komplet dan di  kemas dalam satu wadah. Biasanya, bento ala Negeri Sakura itu terdiri dari Nasi, ikan atau daging, dan sayuran. Makanan ini ditaruh dalam sebuah kotak bekal berbentuk persegi.
      Bagaimana di Indonesia? Di negeri ini, nama bento identik dengan restoran yang menawarkan menu khas Jepang. Salah satunya Hoka-Hoka Bento, yang mulai beroperasi pada tahun 1985.
      Saat ini, gerai restoran Jepang yang mengusung nama bento di Indonesia semakin menjamur. Beberapa diantaranya memperbanyak jaringan dengan cara waralaba.
      Meski bukan menawarkan makanan asli Indonesia, jaringan waralaba makanan Jepang Ini terus bertahan. Bahkan, terus bertumbuh, kendati ada juga yang menyusut. Berbagai strategi dilakukan pewarlaba demi mempertahankan jaringan bisnisnya. Termasuk, membundel dengan menu lain. Ada pula yang menawarkan bahan mentah bento langsung ke konsumen.
      Di bawah ini adalah sejumlah restoran makanan Jepang dengan nama bento yang pernah ditulis KONTAN.

§         My Bento

      Saat ini, My Bento memiliki 50 unit gerai. Sekitar 45 gerai di antaranya merupakan waralaba. Terakhir KONTAN menulis waralaba My Bento pada Mei 2009, jumlah gerainya masih sekitar 35 unit.
      Dede Sulaiman, pemilik My Bento, bilang, belakangan ini gerai My Bento banyak bertambah di Kalimantan dan Sulawesi. Menurut dia, permintaan waralaba bento di luar Pulau Jawa dan Sumatra cukup tinggi. “Sampai akhir tahun ini kami masih ada permintaan dari Bangka, Makassar, dan Indonesia timur lainnya,” katanya. Tahun ini, My Bento juga akan membuka gerai waralabanya di Malang dan Surabaya, Jawa Timur.
      Saat ini, My Bento menawarkan tujuh paket investasi. Mulai dari konsep booth dan paket indoor. Namun, berbeda dengan sebelumnya, kini penelola My Bento membatasi paket booth hanya di Jakarta dan sekitarnya. “Yang paling banyak sekarang adalah tipe premium plus,” imbuh Dede.
      Tipe ini, Merupakan konsep indoor dengan nilai investasi Rp 47 juta. Dengan investasi sebesar itu, mitra waralaba akan mendapatkan seperangkat meja kursi, desain, dan box delivery. Jadi, calon mitra tinggal menyediakan tempat usaha. Misalnya, di ruko.
      Dede sengaja membatasi paket booth, lantaran konsep awal My Bento adalah Restoran. Paket investasi terbesar My Bento adalah konsep restoran dengan total biaya mencapai Rp 105 juta.
      Dede memperirakan, balik modal untuk paket premium sekitar 1,5 - 2 tahun. Ini perkiraan dengan omzet sekitar Rp 450.000 per hari. Sedangkan untuk tipe booth bisa balik modal sekitar sekitar delapan bulan dengan pemasukan sekitar Rp 300.000 per hari.
      Semua paket dikenakan franchise fee sebesar Rp 3 juta per tahun yang berlaku mulai dari tahun kedua operasi. Untuk royalty fee dipatok sama rata 3% dari omzet.

§         Ocha Bento
      Warala bento yang satu ini sudah berubah dari konsep sebelumnya. Ketika berdiri pada awal tahun 2008, Ocha Bento hanya menyajikan menu makanan bento saja. Tapi, mulai akhir 2008, Ocha Bento menambah menunya, yakni, burger dan minuman kopi.
      Asal tahu saja, pemilik waralaba Ocha Bento, PT Kreasi Indonesia, membundel waralaba ini dengan dua waralaba lain yang berada dalam manejemen yang sama Misterblek Coffe dan Buzz Burger.
      Marketing PT Kreasi Indonesia Mohamad Rasyid, berharap dengan menyatukan konsep bento, burger dan kopi, pelanggan restonya terus bertambah. Apalagi, saat ini bento dan burger merupakan makanan yang digemari masyarakat perkotaan. “Meski demikian, tidak ada yang berubah dari paket investasi dan penampilan Ocha Bento secara keseluruhan,” kata Rasyid.
      Untuk membuka waralaba Ocha Bento Lengkap dengan Kopi dan Burger, nilai investasinya sebesar Rp 8 juta dan Rp 150 juta. Saat ini , PT Kreasi Indonesia lebih mengutamakan waralaba Misterblek. Waralaba kopi saja paket investasinya Rp 3,5 juta.
      Kini, total gerai Misteblek Coffe, Buzz Burger, dan Ocha Bento mencapai 140 unit. Rasyid menargetkan jumlah gerai itu meningkat menjadi 250 unit di tahun depan.
      Rasyid Optimis, target itu bisa tercapai. Sebab, kata dia, saat ini ini bisnis kuliner sangat prospektif. Apalagi, harga makanan yang dihadirkan Ocha Bento relative ter-jangkau. Maklum, target pasaryang dibidik Ocha Bento adalah menengah bawah. Harga jual makanan di Ocha Bento mulai dari Rp 5.000 per porsi. Ocha Bento juga menyediaknan berbagai menu paket berharga murah.

§         Ozeki Bento

      Gerai waralaba Ozeki Bento sudah buka di Indonesia sejak November 2007. Ozeki Bento me-nyediakan berbagai menu paket dengan harga mulai Rp 18.000 - Rp 24.000 per porsi.
      Ketika KONTAN mengulas waralaba bento ini pada maret 2008, Ozeki Bento baru punya enam gerai kemitraan.
      Dari enam gerai yang dulu pernah dibuka, saat ini tinggal dua. Lokasinya di Bogor Trade Mall dan satu gerai di Ciseeng, Jawa Barat. Gerai Ozeki Bento yang tutup antara lain, terletak di Ambassador dan ITC Depok.
      Staf pengelola Ozeki Bento, Pahjuannor, mengatakan, ditutupnya gerai Ozeki Bento di ITC Ambassador, lantran sebagian be-sar pasarnya adalah pekerja kan-toran.
      Jadi, menurut pria yang akrab disapa Iwan itu, gerai Ozaki Bento di sana hanya ramai pada hari kerja . “Setiap akjir pekan, gerai Ozeki sepi. Omzetnya tidak masuk, sehingga sulit bertahan,” kata Iwan.
      Hal serupa juga terjadi di ITC Depok. Rata-rata omzet per hari cuma Rp 300.000. Padahal, gerai di Bogor Trade Mall rata-rata omzetnya mencapai Rp 1 juta per hari.
      Meski jumlah gerai menyusut, Ozeki Bento masih terus menawarkan waralaba. Bagi yan berminat, pengelola Ozeki Bento mematok paket investasi Rp 80 juta. Biaya itu sudah termasuk franchise fee Rp 35 juta selama lima tahun dan peralatan masak. “Mitra waralaba bisa balik modal dalam hitungan dua tahun dengan omzet sekitar Rp 1,3 juta per hari,” ujar Iwan.

§         Ikki Bento

      PT Ikki Group sebagai pengelola Ikki Bento menganggap bahwa bisnis makanan cepat saji asal Jepang ini memiliki prospek bisnis yang cukup baik. Indikasi ini bisa dilihat dari pesatnya pertum-buhan bisnis Ikki Bento sendiri. “Saat ini kami memiliki 280 unit gerai di sejumlah kota,” kata Firman Abadi, Staf Marketing PT Ikki Group.
      Tapi, jumlah gerai itu terdiri dari beberapa kemitraan lain bisnis lainnya masih di bawah bendera Ikki Group. Di antaranya Martabak Sarang Semut, Bebek Super Sambal, Mi Cendol, dan Ayam Krispi. Khusus waralaba Ikki Bento, Firman mengaku, saat ini ada 18 gerai yang tersebar di Jakarta dan Semarang, Jawa Tengah. Semua gerai dimiliki mitra yang berbedabeda. Ada tiga paket investasi Ikki Bento. Yakni, konsep Booth, Mini Resto dan Resto. Harga paket investasinya masing-masing Rp 45 juta, Rp 65 juta, dan Rp 125 juta.
            Sejuah ini pangsa pasar yang dibidik Ikki Bento adalah kalangan menengah atas yang memang hobi menyantap makanan bekal komplit khas Jepang ini.

Modal Bukan Soal, Asal Selera Pasar

TIDAK bisa dintah, menjamurnya restoran waralaba makanan jepang alias bento di Indonesia, memberi petunjuk bahwa masyarakat di negeri ini “lapar” akan variasi menu makanan. Buktinya, gerai waralaba makanan khas Jepang itu telah menjangkau ke semua lapisan masyarakat.
   Erwin Halim, pengamat dan konsultan waralaba dari Proverb Consulting, menilai prospek bisnis bento cukup bagus dan potensi pertumbuhannya cukup besar. Sebagai cerminan, oa ,menunjuk salah satu waralaba ma-sakan jepang terbesar di Indonesia yang enggan mewaralabakan usahanya. “Ini karena keuntungan besar yang bisa diraup dari makanan nasi kotak ini,” kata Erwin.
   Betul, saat ini resto masakan jepang sudah sesak di Indonesia. Toh, para pelaku usahanya tetap berupaya menarik minat pelanggannya. Salah satu strateginya adalah mengadaptasi menu masakan dengan selera orang Indonesia. “Citarasa makanan sudah tidak lagi asli Jepang,” tegas Erwin.
   Alasan itulah, menurut Erwin, yang membuat bisnis waralaba masakan Jepang seperti Bento memiliki prospek cerah. Besaram modal investasi bukan soal selama waralaba itu mam-pu mengemas merek yang kuat serta rasanya dapat diterima semua masyarakat.
   Erwin menyarankan semua waralaba bento agar melakukan diferensiasi menu dengan karakteristik rasa yang telah ada. Semua waralaba perlu melakukan riset pasar agar mengetahui keinginan dan kebutuhan pasar.
   Dengan begitu, semua brand dapat berkom-petisi secara sehat dengan menghadirkan makanan yang unik, menarik, berkualitas dan terjangkau. Selama brand dikenal baik, maka inovasi produk baru bakal memberikan keuntungan maksimal.