Tawaran kemitraan minuman the berkembang, namun ada juga yang gulung tikar
Kontan, 27 Agustus 2011
Handoyo, Dea C Syafina, Bambang Rakhmanto
Wangi minuman teh tak akan lekang oleh perubahan zaman. Keyakinan akan terus tumbuhnya pasar minuman teh, membuat berbagai tawaran kemitraan minuman ini terus berkembang.
Dengan biaya investasi yang relatif murah, beberapa tawaran kemitraan minuman teh seperti Quick Tea dan Mr Tea mengalami peningkatan jumlah mitra. Namun, ada juga usaha serupa, seperti Berkatea yang terpaksa minum pil pahit karena tak bisa mempertahankan usaha.
• Quick Tea
Quick Tea yang berkantor pusat di Depok, Jawa Barat ini mengklaim, kualitas teh yang disajikannya berbeda dan lebih segar karena berasal dari pucuk daun teh alami. Dengan menyajikan inovasi rasa dan investasi yang ringan, menjadikan gerai minuman Quick Tea laris manis.
Saat KONTAN mengulas kemitraan Quick Tea pada Maret 2011, jumlah mitra yang bergabung baru sebanyak 20 mitra. Kini setelah lima bulan berlalu, jumlah mitra yang bergabung meningkat menjadi 40 mitra.
Mitra-mitra Quick Tea tersebar di Jabodetabek, Bandung, Jambi, dan Kalimantan. "Ada peningkatan mitra tetapi tidak terlalu signifikan," kata Kurniawan Lutfi, pemilik Quick Tea, merendah.
Lutfi menambahkan, pihaknya saat ini fokus menggarap mitra di luar Jakarta. Ia melihat usaha penjualan minuman teh di Jakarta sudah terlalu sesak. Karena itu, dia mencoba mencari celah usaha di daerah. Fokus ke daerah juga untuk memenuhi harapan Lutfie yang ingin "berjualan" teh hingga ke pelosok Tanah Air.
Kemitraan Quick Tea mulai ditawarkan pada Maret 2010. Menurut Lutfi, tawaran kemitraannya masih diminati masyarakat karena tetap konsisten, termasuk masalah biaya investasi. Sampai saat ini, Lutfi masih mempertahankan nilai investasi di harga Rp 4,5 juta tanpa sewa tempat. "Dari dulu sampai sekarang nilai investasinya sama," ujar Lutfi.
Nilai investasi itu dipakai untuk biaya kemitraan termasuk membeli perlengkapan pendukung usaha, seperti satu unit booth, gelas plastik dan sedotan, mesin pembuat teh, serta bahan baku untuk 100 gelas. Dengan mengusung konsep kemitraan, tidak ada kewajiban pembayaran royalty fee.
Mitra pun hanya dianjurkan untuk membeli bahan baku dari pusat untuk menjaga kualitas rasa. Menurut Lutfi, pembelian bahan baku dari pusat sifatnya fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan mitra. Mitra yang berlokasi di tempat yang jauh dari pusat, atau berada di luar Pulau Jawa bisa membeli bahan baku terdekat. Namun, bahan baku yang dibeli tetap dengan merek tertentu yang ditentukan oleh pusat.
Setelah beroperasi, mitra bisa menjual minuman teh dengan harga bervariasi. Untuk teh original harganya Rp 3.000 per gelas, sedangkan untuk teh dengan campuran rasa harganya Rp 4.000 per gelas.
Quick Tea memang menawarkan berbagai pilihan rasa, mulai teh melati, teh susu, teh stroberi, dan teh mangga. "Rasa inilah yang menjadi andalan kami," tambahnya. Ke depan, menurut Lutfi, Quick Tea akan mengembangkan varian menu tidak sebatas teh tapi juga kopi.
Dengan target penjualan sebanyak 70 gelas per hari, diperkirakan mitra akan meraih omzet rata-rata Rp 210.000 tiap hari atau Rp 6,3 juta per bulan. Jika target itu tercapai, maka balik modal mitra diperkirakan tiga bulan beroperasi. Asumsi balik modal akan lebih cepat jika penjualan semakin banyak.
Target balik modal yang cepat dikarenakan dari harga Rp 3.000 per gelas, mitra bisa mengantongi margin keuntungan sebesar Rp 2.000 per gelas.
• Mr Tea
Mulai berdiri tahun 2000, Mr Tea menawarkan kemitraannya pada 2009. Andopi Kartika, pemilik Mr Tea mengatakan, jumlah mitra yang bergabung dengan Mr Tea peningkatan pesat dalam waktu lima bulan terakhir.
KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan Mr Tea pada Maret 2011 lalu. Saat itu jumlah mitra yang telah bergabung sebanyak 700 mitra. Nah, dalam kurun lima bulan ini, jumlah mitra Mr Tea telah mencapai 850 mitra.
Seperti halnya Quick Tea, ringannya biaya investasi juga membuat tawaran kemitraan Mr Tea laris manis. Dengan investasi sebsar Rp 5 juta, calon mitra bisa langsung menjalankan usaha. Nilai investasi sebesar itu dipergunakan untuk membayar kemitraan, membeli mesin pembuat teh, bahan baku, dan perlengkapan seperti gelas, sedotan, dan tutup gelas.
Agar bisa bertahan, Mr Tea yang berpusat di Jakarta ini mengambil strategi promosi dengan menampilkan warna-warna mencolok. Jika biasanya minuman teh identik dengan warna merah atau hijau, Mr Tea mengusung warna pink atau merah jambu pekat pada gerainya. "Ini untuk memikat konsumen," kata Ando.
Ando menambahkan, dengan mengusung warna pink, gerai Mr Tea akan terlihat feminin. Harapan Ando, dengan warna itu pembeli akan datang, meski pelanggan Mr Tea bukan hanya perempuan.
Selain warna gerai, Ando juga berusaha memberikan variasi menu minuman yang lebih banyak. Saat ini Mr Tea menyediakan 15 varian minuman teh, kopi dan bubble. Menu-menu itu disajikan untuk membuat konsumen tidak merasa bosan dengan minuman teh yang sama.
Kebersihan usaha juga menjadi fokus Mr Tea. Karena itu Ando mensyaratkan pemilihan lokasi usaha di tempat yang bersih. Adapun untuk mempertahankan kualitas rasa, mitra diwajibkan untuk membeli bahan baku dari pusat. "Kalau mau menambah menu yang lain boleh, asal dikoordinasikan terlebih dahulu dengan kami," terang Ando.
Dengan harga minuman yang terjangkau antara Rp 2.500 sampai Rp 3.000 per gelas, tiap hari ditargetkan sekitar 100 gelas bisa terjual. Dengan target penjualan sebesar itu, maka Aldo menghitung balik modal akan terjadi dalam jangka waktu kurang dari enam bulan.
•Berkatea
Jika Quick Tea dan Mr Tea masih bisa berkembang dengan terus menambah jumlah mitra, Berkatea bernasib sebaliknya. Tawaran kemitraan minuman teh asal Tangerang ini harus gulung tikar. Sajian teh rasa aneka buah, seperti leci, lemon, dan stroberi yang ditawarkan Berkatea ternyata tak mampu mendongkrak penjualan dan penambahan mitra.
Mulai dirintis akhir tahun 2009 oleh Hamdan Rintawibawa, Berkatea hanya bertahan selama satu tahun. Walaupun telah menjaring lima mitra di Jakarta, Kalimantan, Surabaya, dan Bekasi, namun usaha ini tak berhasil.
Ahmad Noval, Marketing Berkatea mengatakan kelangsungan usaha minuman teh ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Ia bahkan mengatakan, dalam perjalanannya, Berkatea juga tersandung kasus hukum. "Usaha ini sudah resmi ditutup akhir tahun 2010 lalu," katanya singkat.
Dengan sajian minuman rasa buah, dahulu Berkatea menawarkan tiga paket investasi. Paket pertama adalah paket hemat dengan investasi Rp 4,75 juta. Kedua adalah paket ekstra Rp 6,5 juta, dan, ketiga paket Berkatea Coffee dengan investasi sebesar Rp 7,5 juta.
Selain untuk membayar biaya kemitraan, dengan nilai investasi itu, mitra akan mendapat tempat usaha berupa booth dan perlengkapan penjualan lengkap. Mitra juga mendapat varian teh rasa original, rasa susu, leci, lemon, dan stroberi.
Perlu Variasi dan promosi
TEH sudah menjadi minuman segala usia dan situasi. Berbagai variasi rasa, kemasan dan jenis teh ditawarkan dalam bentuk siap minuman maupun teh celup yang memudahkan konsumen untuk menyajikannya.
Persaingan yang kian ketat baik dalam rasa maupun kemasan inilah yang membuat pengusaha minuman teh harus jeli menemukan variasi baru. Kreativitas pemilik awaralaba atau kemitraan teh menjadi salah satu elemen pokok supaya usahanya bertahan.
Erwin Halim, konsultan waralaba Proverb Consulting, menilai usaha minuman teh memiliki prospek baik jika dikelola denganbaik. “ Teh sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat pribumi sehingga sulit untuk tergerus dengan minuman lain,” katanya.
Apalagi menurut Erwin, teh juga terkenal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Oleh karena itu, dia menyarankan agar pengusaha memanfaatkan image yang tebangun di masyarakat tersebut untuk promisi anatu inovasi produk baru. “ Alasan utama orang minum teh dibandingkan minuman lainnya adalah kesehatan,” ujarnya.
Promosi kesehatan dan inovasi minuman teh baru, menurut Erwin, diharapkan akan memiliki efek yang bagus bagi bisnis. Selain, buah-buahan, bubble juga bisa menjadi alternatif campuran the sehingga memiliki cita rasa lain dan khas.
Penambahan variasi rasa dan menu harus dilakukan agar mampu bersaing dengan berbagai minuman penyegar lain. Dengan berbagai minuman penyegar lain. Dengan pangsa pasar yang besar, menurut Erwin, kemungkinan kemitraan usaha the yang tutup seperti Berkatea lebih kepada permasalahan internal, bukan karena tidak laku di pasaran. “ The itu minuman semua kalangan dan praktis sehingga minuman ini masih akan terus bertahan,” tutupnya.
Saturday, August 27, 2011
Friday, August 26, 2011
Mengangkut Laba dari Jasa Pindahan
Melihat prospek tawaran waralaba jasa pindahan Raja Pindah
Kontan, Dea Chandiza Syafina, Ragil Nugroho 25 Agustus 2011
PINDAH rumah ataupun pindah kantor tentu merepotkan. Namun, bagi yang jeli melihat peluang, situasi ini justru bisa menjadi lahan bisnis yang menggiurkan. Nah, bisnis pindahan inilah serius digarap Raja Pindah sejak 2004 lalu.
Raja Pindah menyediakan jasa layanan pindahan mulai dari pengepakan, pengangkatan barang hingga pengiriman, penurunan, pembongkaran, barang serta memberikan jaminan keselamatan barang sampai di tujuan.
Raja Pindah berkantor pusat di Jakarta dengan dua cabang di Surabaya dan Balikpapan, plus satu agen di Makasar. "Peluang usaha jasa pindahan ini masih terbuka," kata Panca Firdaus, Business Development manager raja Pindah.
Terbukanya peluang inilah yang kemudian membuat Raja Pindah menawarkan warala-ban sejak sebulan lalu. Panca mengklaim, tawaran waralaba ini yang pertama di Indonesia. Walau baru sebulan ditawarkan sudah ada dua terwaralaba di Semarang dan Kelapa Gading yang bergabung.
Raja Pindah menawarkan tiga paket waralaba. Yakni paket franchise reguler dengan nilai investasi Rp 30 juta, tanpa biaya sewa atau pembelian truk angkut.
Dengan investasi sebesar itu, terwaralaba hanya mendapatkan satu unit meja kursi beserta satu set komputer lengkap dengan soflwa re yang terintegrasi dengan sistem tracking dan tracing kantor pusat. Terwaralaba juga mendapatkan seragam karyawan, papan nama Raja Pindah, perlengkapan promosi, material packing awal, termasuk pelatihan operasional.
Paket kedua adalah regular plus dengan nilai investasi Rp ma, tanpa biaya sewa truk. Dibandingkan paket pertama, paket kedua akan mendapatkan jasa layanan MAX Logistic untuk pengiriman ekspor maupun impor.
Sedangkan paket terakhir adalah paket master senilai Rp 110 juta tanpa biaya sewa truk. Paket ini memiliki ke-Waralaba jasapindahan Raja Pindah adalahyang pertama di Indonesia.lengkapan usaha lebih banyak, berupa dua set komputer untuk administrasi dan marketing, 15 seragam karyawan, terpal truk branding Raja Pindah, serta satu txlly roda tiga.
Pemegang paket master juga memiliki hak membantu terwaralaba lain dalam pelayanan, termasuk penyewaan truk. "Karena itu untuk paket master disarankan memiliki truk sendiri," kata Panca.Setelah surat perjanjian diteken, masing-masing terwaralaba akan terikat kontrak kerjasama selama lima tahun. Selama itulah, mereka harus membayar biaya royalti 5% dari total omzet per bulan. Selama setahun pertama, kantor pusat akan mengirimkan satu orang sales representative untuk membantu operasional dan membuka pasar.
Omzet didapatkan dari jasa layanan pindahan sebesar Rp 125.000 per meter kubik untuk lokal area. Konsumen akanmendapat jasa layanan pindahan mulai pengepakan barang, pengiriman, hingga bongkar muat di tempat tujuan. Sedangkan untuk jasa pindahan luar kota tak dipatok harga pasti. "Biaya tergantung jarak," katanya. Walau begitu panca menghitung, balik modal untuk paket reguler selama 10 bulan, paket reguler plus setahun, dan paket master 18 bulan. Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting, melihat tawaran Raja Pindah cukup prospektif. Namun yang perlu diperhatikan adalah strategi pemasaran untuk menarik pelanggan. "Perlu promosi gencar," saran Erwin.
Raja Pindah Jln. Tanjung Barat Raya nomor 168 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12530 Telp 085885123687
Kontan, Dea Chandiza Syafina, Ragil Nugroho 25 Agustus 2011
PINDAH rumah ataupun pindah kantor tentu merepotkan. Namun, bagi yang jeli melihat peluang, situasi ini justru bisa menjadi lahan bisnis yang menggiurkan. Nah, bisnis pindahan inilah serius digarap Raja Pindah sejak 2004 lalu.
Raja Pindah menyediakan jasa layanan pindahan mulai dari pengepakan, pengangkatan barang hingga pengiriman, penurunan, pembongkaran, barang serta memberikan jaminan keselamatan barang sampai di tujuan.
Raja Pindah berkantor pusat di Jakarta dengan dua cabang di Surabaya dan Balikpapan, plus satu agen di Makasar. "Peluang usaha jasa pindahan ini masih terbuka," kata Panca Firdaus, Business Development manager raja Pindah.
Terbukanya peluang inilah yang kemudian membuat Raja Pindah menawarkan warala-ban sejak sebulan lalu. Panca mengklaim, tawaran waralaba ini yang pertama di Indonesia. Walau baru sebulan ditawarkan sudah ada dua terwaralaba di Semarang dan Kelapa Gading yang bergabung.
Raja Pindah menawarkan tiga paket waralaba. Yakni paket franchise reguler dengan nilai investasi Rp 30 juta, tanpa biaya sewa atau pembelian truk angkut.
Dengan investasi sebesar itu, terwaralaba hanya mendapatkan satu unit meja kursi beserta satu set komputer lengkap dengan soflwa re yang terintegrasi dengan sistem tracking dan tracing kantor pusat. Terwaralaba juga mendapatkan seragam karyawan, papan nama Raja Pindah, perlengkapan promosi, material packing awal, termasuk pelatihan operasional.
Paket kedua adalah regular plus dengan nilai investasi Rp ma, tanpa biaya sewa truk. Dibandingkan paket pertama, paket kedua akan mendapatkan jasa layanan MAX Logistic untuk pengiriman ekspor maupun impor.
Sedangkan paket terakhir adalah paket master senilai Rp 110 juta tanpa biaya sewa truk. Paket ini memiliki ke-Waralaba jasapindahan Raja Pindah adalahyang pertama di Indonesia.lengkapan usaha lebih banyak, berupa dua set komputer untuk administrasi dan marketing, 15 seragam karyawan, terpal truk branding Raja Pindah, serta satu txlly roda tiga.
Pemegang paket master juga memiliki hak membantu terwaralaba lain dalam pelayanan, termasuk penyewaan truk. "Karena itu untuk paket master disarankan memiliki truk sendiri," kata Panca.Setelah surat perjanjian diteken, masing-masing terwaralaba akan terikat kontrak kerjasama selama lima tahun. Selama itulah, mereka harus membayar biaya royalti 5% dari total omzet per bulan. Selama setahun pertama, kantor pusat akan mengirimkan satu orang sales representative untuk membantu operasional dan membuka pasar.
Omzet didapatkan dari jasa layanan pindahan sebesar Rp 125.000 per meter kubik untuk lokal area. Konsumen akanmendapat jasa layanan pindahan mulai pengepakan barang, pengiriman, hingga bongkar muat di tempat tujuan. Sedangkan untuk jasa pindahan luar kota tak dipatok harga pasti. "Biaya tergantung jarak," katanya. Walau begitu panca menghitung, balik modal untuk paket reguler selama 10 bulan, paket reguler plus setahun, dan paket master 18 bulan. Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting, melihat tawaran Raja Pindah cukup prospektif. Namun yang perlu diperhatikan adalah strategi pemasaran untuk menarik pelanggan. "Perlu promosi gencar," saran Erwin.
Raja Pindah Jln. Tanjung Barat Raya nomor 168 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12530 Telp 085885123687
Monday, August 22, 2011
Hangat Laba Penjualan Pizza Murah
Mengintip kembali tawaran kemitraan pizza dari Stara Pizza, Pizza Rakyat, dan Doremi Pizza
khusus pizza, namun juga bisa dinikmati dari penjual pizza di pinggir jalan.
Dengan harga yang semakin terjangkau, kenikmatan bisnis pizza juga semakin meriah. Pangsa pasar yang semakin lebar membuat berbagai tawaran kemitraan berjualan pizza pun marak, seperti Stara Pizza, Pizza Rakyat, dan Doremi Pizza.Jumlah mitra yang semakin bert ambah membuktikan bahwa usaha pizza murah tetap menggiurkan
Stara Pizza
Stara Pwza ini berkantor pusat di Semarang, Jawa Tengah. Saat ini, Stara Pizza su-dah memiliki 21 mitra yang tersebar di Pulau Jawa. Penambahan mitra Stara Pizza in bilang fantastis. Sebab pada saal usaha kenulraan ini ditawarkan pada April 2010, Stara Pizza hanya mampu menjaring dua mitra.
Menurut pemilik Stara Pizza, Nurhadi, biaya investasi yang rendah membual investor tertarik bergabung. "Biaya investasinya tidak ada yang berubah," katanya. Selain itu, Sl ara Pizza juga banyak melakukan inovasi.
Selain enam menu lama, yaitu udang asam manis, jagung manis spesial, meal lovers, neopolitas pizza, ayam jamur, dan black pepper, Nurhadi menawarkan menu baru \-iitii kentang tornado dan i. |ies.
Untuk bisa menjadi mitra Stara Pizza, Nurhadi menawarkan empat paket kemitraan dengan nilai investasi masing-masing sebesar Rp 5 juta, Rp 7,5 juta. Rp 15 juta, dan Rp 20juta
Tiap paket dibedakan dari fasilitas peralatan yang diperoleh. Semakin besar investasi, perlengkapannya kian memadai untuk melayani lebih banyak pembeli. Dengan konsep take away, luas minimal usaha yang dibutuhkan hanya 1 meter persegi (n\-\
Untuk investasi Rp 5 juta, mitra akan mendapatkan gerobak mini atau booth dengan perlengkapan masak lengkap. Mitra juga mendapatkan 18 jenis balian baku awal untuk enam menu pizza.
Sedangkan paket senilai Rp 7,6juta, mitra akan mendapat gerobak kayuh.Termasukjuga mendapatkan 30 jenis bahan baku.
Kalau ingin booth lebih mapan, Anda bisa memilih tipe gerobak mini kafe dengan nilai investasi awal Rp 15 juta dan Rp 20 juta. Lokasi jualannya bisa di tempat rekreasi, di pusat perbelanjaan atau menjadi kafe mandiri. Mitra akan mendapatkan gerobak mini kafe dengan oven panggan berlubang sampai 20 buah
Dengan harga per porsi Rp 3.000 sampai Rp 7.500, Nurhadi mentargetkan omzet sebesar Rp 200.000 per hari. Dari penjualan ini, terwaralaba bisa mengambil margin keuntungan 20% sampai 30%. Tanpa (likuii|i biaya royalti apa pun, dia mengklaim mitra bisa balik modal dalam waktu lima bulan sampai enam bulan-.
Pizza Rakyat
Pizza Rakyat mencoba mengubah image pizza dari makanan mahal menjadi makanan semua kalangan. Muhammad Roby, Markrtinfi Pizza Rakyat mengatakan, dengan harga
yang relatif murah, Pizza Rakyat makin digandrungi masyarakat.
Itulah sebabnya, sampai saat ini, Pizza Rakyat sudah punya 69 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia. "Setelah lebaran Pizza Rakyat akan mengubah ukuran usaha menjadi Iebih besar," katanya.
Mulai menawarkan kemit-raanya sejak 2010 lalu, Pizza Rakyat yang berpusat di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ini menawarkan tiga paket kemitraan senilai Rp 9 juta, Rp 9,5 juta, dan Rp 10,5 juta. Dari nilai Investasi im mitra akan mendapatkan gerai, satu sei peralatan, bahan baku awal untuk 120 loyang pizza, pelatihan, serta media promosi.
Pembeda dari masing-masing paket adalah bentuk dan besar gerai. Untuk investasi Rp 9 juta, gerai terbuat dari alumunium ukuran 140 cni x 60 cni x 200 cm. Sedangkan investasi Rp 9,5 juta, mendapatkan gerai ukuran 170 cni x 70crax210cm.
Besaran investasi untuk menjadi mitra Pizza Rakyat ini naik dibanding tawaran November 2010 ketika diulas KONTAN. Saat itu, Pizza Rakyat hanya punya dua paket investasi Paket pertama adalah paket reguler senilai Rp 9 juta, dan paket master Rp 17 juta. Nilai investasi paket master saat ini naik menjadi Rp 20 juta.
Harga per loyang pizza mencapai Rp 10.000 hingga Rp 15.000, lebih tinggi Rp 1.000 dibanding November lalu. "Harga disesuaikan dengan daerah masing-masing," kata Roby. Menurutnya, kenaikan biaya investasi dan harga per loyang pizza berlaku setelah lebaran untuk menyesuaikan harga bahan baku.
Mengusung menu seperti pizza sosis, pizza sayur, pizza daging sapi giling, dan pizza kombinasi, omzet mitra diperkirakan mencapai Rp 9 juta per bulan. Omzet didapatkan dari penjualan 15-20 loyang pizza setiap hari.
Ooremi Pizza
Memulai usaha sejak 2004 silam, namun Doremi Pizza baru menawarkan kemitraan dua tahun setelah beroperasi. Saat ini usaha pizza yang bermarkas di Sidoarjo, Jawa Timur ini telah memiliki 39 gerai. Delapan di antaranya milik sendiri.
Muhammad Fathoni, pemilik Doremi Pizza, mengatakan, minat masyarakat berbisnis pizza tidak hanya dalam bentuk booth namun juga dalam ukuran resto. Oleh karena itu, sejak 2009 lalu, Doremi Pizza menawarkan paket resto. "Dalam waktu dua tahun, kami telah memiliki 15 gerai resto,"ujar Fathoni.
Jika paket mini counter atau booth perlu investasi sebesar Rp 35 juta dan paket mini cajc butuh investasi Rp 50 juta. Untuk paket resto, investor harus menyediakan dana sebesar Rp 100 juta.Nilai paket investasi yang ditawarkan Doremi Pizza melonjak dibanding Mei 2008. Dahulu Doremi hanya menawarkan paket mini minit r dan mini cafe dengan nilai investasi masing-masing Rp 25 juta dan Rp 50 juta. Saat itu, Doremi Pizza baru memiliki 20 gerai, lima di antaranya milik sendiri.
Kenaikan lak hanya dari st-ii investasi, hargajual pizzajuga naik. Jika sebelumnya pizza ukuran kecil harganya Rp 11.000, ukuran sedang Rp 18.000, dan ukuran besar Rp 34.000, iuiik menjadi Rp 14.000, Rp 22.000, dan Rp 40.000.
Dengan kenaikan harga itu, target omzet juga meningkat dari Rp 500.000 hingga Rp 1,2 juta per hari menjadi Rp 1 juta hingga Rp 3 juta per hari. Dari omzet itu, Fathoni menarik management ire sebesar 3%. "Pakei mini counter balik modal selama sembilan bulan, mini cafe dan resto antara 1 tahun-2 tahun," jelasnya.
Fathoni menambahkan, peningkatan penjualan lantaran ada tambahan 10 variasi isidan rasa. Bahkan saat ini, Fathoni mengkombinasi menu Doremi Pizza dengan fried chicken dan bento. Menu ayam goreng dan bento tersebut menambah menu sebelumnya seperti steak, spaghetti, dan burger.
Penambahan menu itu untuk menunjukkan bahwa Do-n ini memiliki keunikan dibanding tawaran pizza lain. Ke depan, pihaknya berusaha fokus mengembangkan usaha di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dua wilayah itu, menurut Fathoni sangat potensial namun belum digarap maksimal. "Kami baru memiliki tiga out-lei Hi Bandung dan kami ingin bertambah lagi," ucapnya.
Perlu pengembangan Rasa dan Wilayah
Untuk bisa bertahan di bisnis makanan, selain perlu inovasi juga harus bisa paham dan mampu menyesuaikan menu dengan lidah konsumen. Erwin Halim, pengamat waralab dari Proverb Consulting mengatakan, pizza yang di jual di Tanah Air telah beradaptasi dengan selera lokal. :Tak heran jika banyak konsumen yang tertarik mencicipi rasa pizza ini,’’ katanya.
Agar pelanggan tak bosan, pengembangan cita rasa awajib hukumnya. Ia menyarankan untuk mengkombinasikan pizza dengan panganan lain seperti burger dan kentang. “ Itu lebih masuk akal,’’ ujarnya.
Selain rasa, image pizza sebagai makanan kelas resto, juga membuat masyarakat tergiur dan tak mau ketinggalan terjun di usaha ini. Hanya saja, menurutnya, peningkatan jumlah mitra bukan menjadi indicator usaha tersebut sukses. Tolak ukur keberhasilan sebuah usaha waralaba atau kemitraan adalah jika penjualannya sesuai yang diharapkan. “ mempertahankan omzet jauh lebih penting dibandingkan memacu jumlah mitra sebanyak-banyaknya,”katanya.
Mengusung konsep pizza murah, kata Erwin memiliki sisi positif dan negative. Dengan konsep itu, maka citra sebagai pizza kelas bawah akan melekat sehingga akan menghambat usaha tersebut naik kelas ke level yang lebih tinggi. Untuk bisa berhasil naik kelas dan meningkat segmen pasar, diperlukan pencitraan ulang yang jelas waktu yang lama.
Selain itu, dia menyarankan agar pebisnis pizza mau mengeksploitasi kota-kota besar yang bisa menjadi pasar potensial pizza. Sebab, di beberapa kota, menu pizza masih menjadi sajian restoran besar. Di sini, pengusaha bisa masuk ke segmen yang lebih rendah.
khusus pizza, namun juga bisa dinikmati dari penjual pizza di pinggir jalan.
Dengan harga yang semakin terjangkau, kenikmatan bisnis pizza juga semakin meriah. Pangsa pasar yang semakin lebar membuat berbagai tawaran kemitraan berjualan pizza pun marak, seperti Stara Pizza, Pizza Rakyat, dan Doremi Pizza.Jumlah mitra yang semakin bert ambah membuktikan bahwa usaha pizza murah tetap menggiurkan
Stara Pizza
Stara Pwza ini berkantor pusat di Semarang, Jawa Tengah. Saat ini, Stara Pizza su-dah memiliki 21 mitra yang tersebar di Pulau Jawa. Penambahan mitra Stara Pizza in bilang fantastis. Sebab pada saal usaha kenulraan ini ditawarkan pada April 2010, Stara Pizza hanya mampu menjaring dua mitra.
Menurut pemilik Stara Pizza, Nurhadi, biaya investasi yang rendah membual investor tertarik bergabung. "Biaya investasinya tidak ada yang berubah," katanya. Selain itu, Sl ara Pizza juga banyak melakukan inovasi.
Selain enam menu lama, yaitu udang asam manis, jagung manis spesial, meal lovers, neopolitas pizza, ayam jamur, dan black pepper, Nurhadi menawarkan menu baru \-iitii kentang tornado dan i. |ies.
Untuk bisa menjadi mitra Stara Pizza, Nurhadi menawarkan empat paket kemitraan dengan nilai investasi masing-masing sebesar Rp 5 juta, Rp 7,5 juta. Rp 15 juta, dan Rp 20juta
Tiap paket dibedakan dari fasilitas peralatan yang diperoleh. Semakin besar investasi, perlengkapannya kian memadai untuk melayani lebih banyak pembeli. Dengan konsep take away, luas minimal usaha yang dibutuhkan hanya 1 meter persegi (n\-\
Untuk investasi Rp 5 juta, mitra akan mendapatkan gerobak mini atau booth dengan perlengkapan masak lengkap. Mitra juga mendapatkan 18 jenis balian baku awal untuk enam menu pizza.
Sedangkan paket senilai Rp 7,6juta, mitra akan mendapat gerobak kayuh.Termasukjuga mendapatkan 30 jenis bahan baku.
Kalau ingin booth lebih mapan, Anda bisa memilih tipe gerobak mini kafe dengan nilai investasi awal Rp 15 juta dan Rp 20 juta. Lokasi jualannya bisa di tempat rekreasi, di pusat perbelanjaan atau menjadi kafe mandiri. Mitra akan mendapatkan gerobak mini kafe dengan oven panggan berlubang sampai 20 buah
Dengan harga per porsi Rp 3.000 sampai Rp 7.500, Nurhadi mentargetkan omzet sebesar Rp 200.000 per hari. Dari penjualan ini, terwaralaba bisa mengambil margin keuntungan 20% sampai 30%. Tanpa (likuii|i biaya royalti apa pun, dia mengklaim mitra bisa balik modal dalam waktu lima bulan sampai enam bulan-.
Pizza Rakyat
Pizza Rakyat mencoba mengubah image pizza dari makanan mahal menjadi makanan semua kalangan. Muhammad Roby, Markrtinfi Pizza Rakyat mengatakan, dengan harga
yang relatif murah, Pizza Rakyat makin digandrungi masyarakat.
Itulah sebabnya, sampai saat ini, Pizza Rakyat sudah punya 69 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia. "Setelah lebaran Pizza Rakyat akan mengubah ukuran usaha menjadi Iebih besar," katanya.
Mulai menawarkan kemit-raanya sejak 2010 lalu, Pizza Rakyat yang berpusat di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ini menawarkan tiga paket kemitraan senilai Rp 9 juta, Rp 9,5 juta, dan Rp 10,5 juta. Dari nilai Investasi im mitra akan mendapatkan gerai, satu sei peralatan, bahan baku awal untuk 120 loyang pizza, pelatihan, serta media promosi.
Pembeda dari masing-masing paket adalah bentuk dan besar gerai. Untuk investasi Rp 9 juta, gerai terbuat dari alumunium ukuran 140 cni x 60 cni x 200 cm. Sedangkan investasi Rp 9,5 juta, mendapatkan gerai ukuran 170 cni x 70crax210cm.
Besaran investasi untuk menjadi mitra Pizza Rakyat ini naik dibanding tawaran November 2010 ketika diulas KONTAN. Saat itu, Pizza Rakyat hanya punya dua paket investasi Paket pertama adalah paket reguler senilai Rp 9 juta, dan paket master Rp 17 juta. Nilai investasi paket master saat ini naik menjadi Rp 20 juta.
Harga per loyang pizza mencapai Rp 10.000 hingga Rp 15.000, lebih tinggi Rp 1.000 dibanding November lalu. "Harga disesuaikan dengan daerah masing-masing," kata Roby. Menurutnya, kenaikan biaya investasi dan harga per loyang pizza berlaku setelah lebaran untuk menyesuaikan harga bahan baku.
Mengusung menu seperti pizza sosis, pizza sayur, pizza daging sapi giling, dan pizza kombinasi, omzet mitra diperkirakan mencapai Rp 9 juta per bulan. Omzet didapatkan dari penjualan 15-20 loyang pizza setiap hari.
Ooremi Pizza
Memulai usaha sejak 2004 silam, namun Doremi Pizza baru menawarkan kemitraan dua tahun setelah beroperasi. Saat ini usaha pizza yang bermarkas di Sidoarjo, Jawa Timur ini telah memiliki 39 gerai. Delapan di antaranya milik sendiri.
Muhammad Fathoni, pemilik Doremi Pizza, mengatakan, minat masyarakat berbisnis pizza tidak hanya dalam bentuk booth namun juga dalam ukuran resto. Oleh karena itu, sejak 2009 lalu, Doremi Pizza menawarkan paket resto. "Dalam waktu dua tahun, kami telah memiliki 15 gerai resto,"ujar Fathoni.
Jika paket mini counter atau booth perlu investasi sebesar Rp 35 juta dan paket mini cajc butuh investasi Rp 50 juta. Untuk paket resto, investor harus menyediakan dana sebesar Rp 100 juta.Nilai paket investasi yang ditawarkan Doremi Pizza melonjak dibanding Mei 2008. Dahulu Doremi hanya menawarkan paket mini minit r dan mini cafe dengan nilai investasi masing-masing Rp 25 juta dan Rp 50 juta. Saat itu, Doremi Pizza baru memiliki 20 gerai, lima di antaranya milik sendiri.
Kenaikan lak hanya dari st-ii investasi, hargajual pizzajuga naik. Jika sebelumnya pizza ukuran kecil harganya Rp 11.000, ukuran sedang Rp 18.000, dan ukuran besar Rp 34.000, iuiik menjadi Rp 14.000, Rp 22.000, dan Rp 40.000.
Dengan kenaikan harga itu, target omzet juga meningkat dari Rp 500.000 hingga Rp 1,2 juta per hari menjadi Rp 1 juta hingga Rp 3 juta per hari. Dari omzet itu, Fathoni menarik management ire sebesar 3%. "Pakei mini counter balik modal selama sembilan bulan, mini cafe dan resto antara 1 tahun-2 tahun," jelasnya.
Fathoni menambahkan, peningkatan penjualan lantaran ada tambahan 10 variasi isidan rasa. Bahkan saat ini, Fathoni mengkombinasi menu Doremi Pizza dengan fried chicken dan bento. Menu ayam goreng dan bento tersebut menambah menu sebelumnya seperti steak, spaghetti, dan burger.
Penambahan menu itu untuk menunjukkan bahwa Do-n ini memiliki keunikan dibanding tawaran pizza lain. Ke depan, pihaknya berusaha fokus mengembangkan usaha di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dua wilayah itu, menurut Fathoni sangat potensial namun belum digarap maksimal. "Kami baru memiliki tiga out-lei Hi Bandung dan kami ingin bertambah lagi," ucapnya.
Perlu pengembangan Rasa dan Wilayah
Untuk bisa bertahan di bisnis makanan, selain perlu inovasi juga harus bisa paham dan mampu menyesuaikan menu dengan lidah konsumen. Erwin Halim, pengamat waralab dari Proverb Consulting mengatakan, pizza yang di jual di Tanah Air telah beradaptasi dengan selera lokal. :Tak heran jika banyak konsumen yang tertarik mencicipi rasa pizza ini,’’ katanya.
Agar pelanggan tak bosan, pengembangan cita rasa awajib hukumnya. Ia menyarankan untuk mengkombinasikan pizza dengan panganan lain seperti burger dan kentang. “ Itu lebih masuk akal,’’ ujarnya.
Selain rasa, image pizza sebagai makanan kelas resto, juga membuat masyarakat tergiur dan tak mau ketinggalan terjun di usaha ini. Hanya saja, menurutnya, peningkatan jumlah mitra bukan menjadi indicator usaha tersebut sukses. Tolak ukur keberhasilan sebuah usaha waralaba atau kemitraan adalah jika penjualannya sesuai yang diharapkan. “ mempertahankan omzet jauh lebih penting dibandingkan memacu jumlah mitra sebanyak-banyaknya,”katanya.
Mengusung konsep pizza murah, kata Erwin memiliki sisi positif dan negative. Dengan konsep itu, maka citra sebagai pizza kelas bawah akan melekat sehingga akan menghambat usaha tersebut naik kelas ke level yang lebih tinggi. Untuk bisa berhasil naik kelas dan meningkat segmen pasar, diperlukan pencitraan ulang yang jelas waktu yang lama.
Selain itu, dia menyarankan agar pebisnis pizza mau mengeksploitasi kota-kota besar yang bisa menjadi pasar potensial pizza. Sebab, di beberapa kota, menu pizza masih menjadi sajian restoran besar. Di sini, pengusaha bisa masuk ke segmen yang lebih rendah.
Friday, July 29, 2011
Tiga Jasa Pendidikan Dalam Satu Atap
Menengok tawaran waralaba kursus tiga program pendidikan COME
Fahriyadi, Kontan, 27 Juli 2011
JAKARTA. Setiap orangtua tentu ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. Maklum, menurut orangtim. pendidikan adalah pintu menuju masa depan.
Untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, tak jarang orangtua rela mengeluarkan biaya ekstra Termasuk membiayai anak ikut pendidikan nonformal seperti kurus, bimbingan belajar hingga les privat. Keinginan para orangtua itu pula yang dilirik PT Come Indonusa. Perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan ini menawarkan tiga jasa pendidikan yakni; kursus bahasa Inggris, pelatihan komputer, dan bimbingan belajar dengan merek COME (course make easy).
COME menawarkan jasa pendidikan nonformal pertama kali pada 2008 silam dengan mengambil lokasi di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Setelah tiga tahun beroperasi, tepatnya Maret 2011 lalu, barulah COME menawarkan waralaba ke publik. Saat ini, COME sudah memiliki 10 cabang milik sendiri dan empat cabang berstatus terwaralaba
Ibnu Dwi Lesmono, General Manager PT Come Indonusa bilang, COME memiliki keunggulan karena menawarkan tiga paket usaha pendidikan sekaligus; kursus bahasa Inggris, pelatihan komputer dan bimbingan belajar. "Investasinya satu saja, tapi mendapat tiga usaha," kata Ibnu.
Walaupun banyak kompetitor, Ibnu mengakui optimistis dengan tawaran investasi dari COME. Ia melihat, COME masih punya peluang karena masyarakat sudah jenuh dengan lembaga pendidikan non formal yang ada "Kesempatan masih terbuka," tegas Ibnu.
Ibnu menawarkan dua paket investasi kepada para calon terwaralaba. Pertama paket investasi komplit senilai Rp 200 juta. Jika mengambil paket ini, terwaralaba mendapat seluruh peralatan pendidikan seperti komputer, kursi, meja, dan tenaga pengajar.
Dengan investasi Rp 200 juta, Ibnu menjanjikan balik modal sekitar dua tahun. Itu dengan catatan omzet yang diperoleh Rp 25 juta-Rp 30 juta per bulan. Omzet itu dapat diperoleh dari 50-60 siswa yang ikut kursus dengan bayaran Rp 500.000 per anak.
Selain investasi awal, terwaralaba juga membayar royalti fee sebesar 15%. Royaltiy fee dikutip COME pada bulan ketujuh setelah terwaralaba mengoperasikan lembaga pendidikan tersebut
Pola investasi kedua sebesar Rp 50 juta berupa kemitraan. Bila mengambil paket, mitra hanya mendapatkan kewenangan menggunakan merek COME, serta mendapatkan tenaga pengajar. Ibnu bilang, dari empat mitra COME, tiga mitra memilih investasi yang pertama
Erwin Halim, Pengamat Waralaba dari Proverb Consulting, menilai, tawaran waralaba COME ini menarik sebab program ini dijual saling terkait satu sama lain. "Konsep ini, memiliki pasar yang bagus," kata Erwin.
Tiga program pendidikan nonformal dalam satu atap, menurut Erwin bisa mengancam waralaba kursus yang sudah ada.
Namun demikian, Erwin menyarankan COME mengedukasi masyarakat tentang jasa yang mereka tawarkan. "Ini penting guna merebut pasar yang selama ini diambil pemain lama," saran Erwin.
Kata Erwin, pendidikan adalah pasar franchise terkuat kedua setelah makanan karena paket COME ini tetap menjanjikan, asalkan masyarakat mengerti dan menerima konsep COME ini.
COME
JI Bendungan Hilir Raya Blok Gl No. 3A
Jakarta Pusat
Telp. 021-5744730
Fahriyadi, Kontan, 27 Juli 2011
JAKARTA. Setiap orangtua tentu ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. Maklum, menurut orangtim. pendidikan adalah pintu menuju masa depan.
Untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, tak jarang orangtua rela mengeluarkan biaya ekstra Termasuk membiayai anak ikut pendidikan nonformal seperti kurus, bimbingan belajar hingga les privat. Keinginan para orangtua itu pula yang dilirik PT Come Indonusa. Perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan ini menawarkan tiga jasa pendidikan yakni; kursus bahasa Inggris, pelatihan komputer, dan bimbingan belajar dengan merek COME (course make easy).
COME menawarkan jasa pendidikan nonformal pertama kali pada 2008 silam dengan mengambil lokasi di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Setelah tiga tahun beroperasi, tepatnya Maret 2011 lalu, barulah COME menawarkan waralaba ke publik. Saat ini, COME sudah memiliki 10 cabang milik sendiri dan empat cabang berstatus terwaralaba
Ibnu Dwi Lesmono, General Manager PT Come Indonusa bilang, COME memiliki keunggulan karena menawarkan tiga paket usaha pendidikan sekaligus; kursus bahasa Inggris, pelatihan komputer dan bimbingan belajar. "Investasinya satu saja, tapi mendapat tiga usaha," kata Ibnu.
Walaupun banyak kompetitor, Ibnu mengakui optimistis dengan tawaran investasi dari COME. Ia melihat, COME masih punya peluang karena masyarakat sudah jenuh dengan lembaga pendidikan non formal yang ada "Kesempatan masih terbuka," tegas Ibnu.
Ibnu menawarkan dua paket investasi kepada para calon terwaralaba. Pertama paket investasi komplit senilai Rp 200 juta. Jika mengambil paket ini, terwaralaba mendapat seluruh peralatan pendidikan seperti komputer, kursi, meja, dan tenaga pengajar.
Dengan investasi Rp 200 juta, Ibnu menjanjikan balik modal sekitar dua tahun. Itu dengan catatan omzet yang diperoleh Rp 25 juta-Rp 30 juta per bulan. Omzet itu dapat diperoleh dari 50-60 siswa yang ikut kursus dengan bayaran Rp 500.000 per anak.
Selain investasi awal, terwaralaba juga membayar royalti fee sebesar 15%. Royaltiy fee dikutip COME pada bulan ketujuh setelah terwaralaba mengoperasikan lembaga pendidikan tersebut
Pola investasi kedua sebesar Rp 50 juta berupa kemitraan. Bila mengambil paket, mitra hanya mendapatkan kewenangan menggunakan merek COME, serta mendapatkan tenaga pengajar. Ibnu bilang, dari empat mitra COME, tiga mitra memilih investasi yang pertama
Erwin Halim, Pengamat Waralaba dari Proverb Consulting, menilai, tawaran waralaba COME ini menarik sebab program ini dijual saling terkait satu sama lain. "Konsep ini, memiliki pasar yang bagus," kata Erwin.
Tiga program pendidikan nonformal dalam satu atap, menurut Erwin bisa mengancam waralaba kursus yang sudah ada.
Namun demikian, Erwin menyarankan COME mengedukasi masyarakat tentang jasa yang mereka tawarkan. "Ini penting guna merebut pasar yang selama ini diambil pemain lama," saran Erwin.
Kata Erwin, pendidikan adalah pasar franchise terkuat kedua setelah makanan karena paket COME ini tetap menjanjikan, asalkan masyarakat mengerti dan menerima konsep COME ini.
COME
JI Bendungan Hilir Raya Blok Gl No. 3A
Jakarta Pusat
Telp. 021-5744730
Wednesday, July 20, 2011
Senyum Laba Pendidikan Khusus
Membaca tawaran waralaba pendidikan anak berkebutuhan khusus Prokids
Cara mendidik anak berkebutuhan khusus tentu berbeda dengan anak normal. Selain membutuhkan kesabaran lebih tinggi, mereka juga perlu terapi khusus agar siap menghadapi masa depan.Untuk itulah, kemudian muncul sekolah-sekolah yang menawarkan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Selain terapi, sekolah-sekolah itu juga menyediakan layanan homeschooling. Nah, salah satu menyediakan fasilitas itu adalah Prokids yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara.
Berdiri sejak 2001, Prokids melayani terapi dan pendidikan anak autis, hiperaktif, gangguan konsentrasi, terlambat bicara, gangguan syaraf dan motorik, mental dan down syndrome.
10 calon mitra
Setelah 10 tahun beroprasi, Prokids sejak Juni 2011 menawarkan konsep waralaba. “Setelah 10 tahun, tentu konsep manajemen kami sudah matang, “ujar Eko Budiono, Wakil Supervisor Prokids.
Eko mengaku, konsep waralaba yang ditawarkan mendapatkan respon baik masyarakat. Apalagi, tawaran waralaba atau franchise ini cukup unik. Repon baik itu dibuktikan dari masuknya 10 calon mitra yang serius bergabung.
Para calon mitra yang akan bergabung, nantinya harus membayar investasi senilai Rp 200 juta. Dana investasi itu selain dipakai untuk pembelian perlengkapan lengkap, juga untuk melatih pengajar. “Pelatihan akan dilakukan sebulan penuh,”kata Eko.
Untuk memulai usaha di bidang ini, diperlukan tempat usaha dengan luas minimal 180 m2. Dengan masa kerjasama selama lima tahun, mitra diwajibkan membayar royalty fee sebesar 7% dari omzet perbulan.
Dengan asumsi omzet perbulan diatas Rp 150 juta, Eko menjamin mitra akan balik modal paling lama dua tahun. Omzet didapatkan dari berbagai layanan yang disediakan Prokids. Jenis layanan yang ditawarkan antara lain, observasi dini dan konsultasi psikiater anak, psikolog, dan peadagog atau ahli pendidikan anak.
Pelayanan terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi, terapi sensory integration, fisioterapi, dan terapi pendidikan. Prokids juga melayani homeschooling anak berkebutuhan khusus, day care, dan kursus berenang.”Prokids ini semacam one stop living yang dapat melayani apa yang diperlukan anak berkebutuhan khusus,”imbuhnya.
Berbagai layanan itu ditunjukan terutama untuk anak-anak dengan usia mulai 2,5 tahun hingga remaja 15 tahun. Untuk mendapatkan layanan konsultasi , konsumen harus membayar Rp 85.000 per jam.
Erwin Halim, Pengamat Waralaba dari Proverb Consulting menilai tawaran Prokids cukup menarik karena unik.” Pendidikan ini akan selalu dibutuhkan, namun memliki keterbatasan, ‘katanya.
Selain keterbatasan pasar yang dituju, layanan yang ditawarkan oleh Prokids kebanyakan hanya bisa didapatkan oleh kalangan menengah atas.Oleh karena itu, dia menganjurkan agar ada pembatasan mitra di satu wilayah.
Jika jumlah mitra di satu wilayah terlalu banyak maka kue pasar yang diperebutkan juga semakin mengecil. Dengan kue nan kecil tentu akan berdampak buruk karena kemungkinan akan saling mematikan. “Kebutuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus selalu ada, terutama di kota-kota besar,”katanya.
Prokids
Rukan Sunter permai
Blok C No.12, Sunter,
Jakarta Utara
Telp: 021-6516170
Tuesday, July 19, 2011
Mencelup Laba di Semangkuk Bakso
Handoyo, Kontan 14 Juli 2011
JAKARTA. Siapa yang tak kenal bakso. Kudapan ini begitu populer di Indonesia. Penggemarnya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Penggemar bakso yang sangat banyak ini tentu saja mengundang peluang yang menggiurkan pengusaha bakso. Meski telah mendulang sukses dengan bisnis kemitraan Bakso Kaget, Bakso Kaget Indonesia tak berhenti berekspansi. Perusahaan bermarkas Bandung, Jawa Barat ini kembali menawarkan usaha kemitraan bernama Bakso Celup, Mei 2011 lalu.
Dengan mengusung inovasi dalam hal kemasaan, Bakso Celup optimis akan meraih banyak peminat, “ Walau baru dimitrakan, kini sudah ada 70 mitra yang tertarik,” klaim Sari Sumiati, Marketing Bakso Kaget Indonesia.
Menurut Sari, dari 70 mitra yang bergabung, 30 di antaranya sudah mulai membuka usaha, sedangkan sisanya masih dalam proses perakitan dan pengiriman barang. Beberapa mitra ini berasal dari Jabodetabek dan kota-kota di luar Jawa, seperti Banjarmasin, Makassar hingga Papua.
Maklum, respon kemitraan ini sangat baik
karena Bakso Celup menawarkan biaya investasi yang murah. Untuk bergabung, calon mitra hanya cukup menyetorkan dananya sebesar Rp 12 juta. Selanjutnya, mitra akan mendapatkan peralatan pendukung usaha, seperti booth, kompor, dandang, 500 butir bakso plus bumbu kuah, seragam, serta 500 kemasan bakso celup.
karena Bakso Celup menawarkan biaya investasi yang murah. Untuk bergabung, calon mitra hanya cukup menyetorkan dananya sebesar Rp 12 juta. Selanjutnya, mitra akan mendapatkan peralatan pendukung usaha, seperti booth, kompor, dandang, 500 butir bakso plus bumbu kuah, seragam, serta 500 kemasan bakso celup.
Jika kebanyakan pedagang menyajikan menu bakso kedalam sebuah sebuah mangkuk, Bakso Celup punya kemasan khusus berupa mangkuk kertas sekali pakai. Pasalnya, mereka mengusung konsep take away, sehingga mitra bisa berhemat dengan tidak menyediakan meja, kursi serta mangkuk.
Selain memiliki sertifikasi halal, bebas borak dan formalin, keunggulan lain dari Bakso Celup ini juga berasal dari rasa kuah. “ Keistimewaan kuah bakso itu berasal dari campuran rempah dan kaldu sapi asli, “ ujar Sri.
Bakso celup yang tiap butirnya memiliki kandungan daging hampir 90% ini dijual dengan Rp. 8000 per porsi. Mitra akan mendapatkan margin sebesar 30% per porsi. Untuk tiap porsi bakso yang dibeli, paling tidak mitra bisa memperoleh margin sebesar 30%.
Agar rasa bakso tetap terjaga kualitas dan rasanya, Sri mengajurkan mitra membeli basko dari pusat dengan harga Rp 900 per butir. Sedangkan untuk bumbu kuah, harganya Rp 10.000 untuk ukuran satu galon dan Rp 7.000 untuk ukuran setengah galon.
Dengan harga yang bersaing untuk tiap porsinya, Sri menargetkan mitra dapat menjual 50 hingga 80 porsi tiap harinya. Dengan penjualan itu, dia menghitung mitra akan balik modal dalam kurun waktu tiga bulan. Lantaran menagdopsi konsep kemitraan, Bakso Celup tentu tak mengutip franchise fee maupun management fee.
Pengamat waralaba dari Proverb Consulting Erwin Halim menilai, jika bentuk investasi yang ditawarkan oleh Bakso Celup tergolong murah. Sedangkan untuk kemasan Erwin menilai apa yang dilakukan oleh Bakso Celup merupakan suatu terobosan baru pada sajian bakso. “ Keuinikan kemasan juga menjadi salah satu penarik perhatian dari konsumen,”kata Erwin.
Jika menyasar pada kalangan menengah ke bawah, harga seporsi Rp 8.000 juga masih sesuai. Hanya, Erwin menambahkan, karena Bakso Celup merupakan produk co-branding dari Bakso Kaget, ada baiknya calon mitra yang akan bergabung disini, melihat track record dari Bakso kaget terlebih dahulu.
Bakso Celup
Jl Papan Kencana I No 42
Ruko KOpo plaza
Bandung 40232
Telp. 022 6036695
Bakso kaget@yahoo.com
Tuesday, July 12, 2011
Peluang Waralaba Mengajar di Rumah
Melongok waralaba pendidikan alternatife Homescoling Primagama
Gloria Natalia, Kontan 1 April 2011
Bisa jadi karena sekolah formal tidak memenuhi harapan banyak orangtua, maka muncul kesadaran untuk menyekolahkan anak di rumah atau dalam kelompok belajar kecil. Tujuannya agar kemampuan dan minat anak lebih terasah dan fokus mendalaminya.
Homeschooling Primagama (HSPG) melihat celah ini. Lembaga pendidikan ini melayani pendidikan SD hingga SMA dan menyasar kelas menengah ke atas. Pendidikan ini bisa diikuti siswa yang juga bersekolah formal atau siswa yang tidak masuk sekolah formal. "Kami membimbing siswa dengan melihat potensi serta memfokuskan bakat anak," kata Direktur HSPG Kusnanto.
Lembaga pendidikan alternatif ini menggunakan dua kurikulum sekaligus, yakni kurikulum nasional dan kurikulum internasional. Layaknya siswa di sekolah formal, siswa HSPG pun bisa ikut Ujian Akhir Nasional (UAN), juga Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK).
Karena berbasis kurikulum Cambridge International, siswa dapat ikut ujian dari Cambridge. Dengan begitu, siswa dapat memilih mengantongi ijazah formal dengan UAN, ijazah nonformal dengan UNPK, atau ijazah internasional dalam Cambridge International Examination.
HSPG menawarkan bentuk pengajaran individu dan komunitas. Bila siswa ingin belajar di rumah, pengajar Primagama akan datang mengajarinya. Jika siswa ingin belajar dalam komunitas, ia bisa datang ke kelas di kantor HSPG. Satu komunitas belajar hanya menampung maksimal lima siswa. "Satu siswa bisa dibimbing lima atau enam pengajar. Ini karena setiap pengajar mewakili satu atau dua bidang studi," imbuhnya.
Sejak dua tahun lalu, HSPG membuka program waralaba. Hingga saat ini sudah ada 11 mitra HSPG. Di Jakarta sudah berdiri tiga mitra HSPG. "Sebentar lagi HSPG juga akan hadir di Bogor, Denpasar, Surabaya, Balikpapan, dan Banjarmasin," kata Kusnanto.
HSPG menawarkan waralaba senilai Rp 224,5 juta. Nilai ini mencakup biaya kerja sama usaha Rp 75 juta, biaya survei Rp 2 juta, sarana belajar dan perlengkapan Rp 45 juta, renovasi Rp 55,5 juta, pemasaran Rp 37 juta, dan biaya lain-lain Rp 10 juta. Investasi itu di luar biaya tenaga kerja, biaya listrik, air, dan telepon, serta biaya pemeliharaan gedung.
Jumlah guru disesuaikan dengan jumlah dan kebutuhan siswa. Kusnanto mencontohkan, HSPG Yogyakarta memiliki 40 pengajar yang melayani siswa individu dan siswa komunitas. Mitra harus menyediakan minimal lima ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan ruang musik. "Ruko dua lantai cukup," ujar Kusnanto.
Pendapatan mitra berasal dari uang pendaftaran, uang SPP per bulan, uang pangkal, uang kegiatan per semester dan uang ujian tiap akhir periode. "HSPG Yogyakarta dengan sekitar 60 siswa dapat meraup omzet Rp 1,7 miliar per tahun," tutur Kusnanto. Ia menargetkan bisa menjaring banyak mitra agar HSPG ada di setiap kota di Indonesia.
Pengamat waralaba Erwin Halim menuturkan, bila HSPG punya target kelas menengah ke atas, lembaga pendidikan ini harus mempromosikan diri di kota-kota besar. "Jalur pemasarannya harus cari bentuk lain, misalnya lewat lomba atau kegiatan yang berhubungan dengan pelajar," katanya.
Erwin menilai pelajar yang mengikuti homeschooling kemungkinan besar tidak memiliki kehidupan sosial serupa pelajar sekolah formal. Pelajar homeshooling belajar secara individual atau hanya di kelompok kecil. "HSPG harus menutupi kebolongan itu dengan cara menyelenggarakan acara-acara unik untuk mendekatkan anak dengan kehidupan sosial," tutur Erwin.
Homeschooling Primagama (HSPG)
Jl. Diponegoro 89, Yogyakarta
(0274) 548443, 520418, 0811258245
Gloria Natalia, Kontan 1 April 2011
Bisa jadi karena sekolah formal tidak memenuhi harapan banyak orangtua, maka muncul kesadaran untuk menyekolahkan anak di rumah atau dalam kelompok belajar kecil. Tujuannya agar kemampuan dan minat anak lebih terasah dan fokus mendalaminya.
Homeschooling Primagama (HSPG) melihat celah ini. Lembaga pendidikan ini melayani pendidikan SD hingga SMA dan menyasar kelas menengah ke atas. Pendidikan ini bisa diikuti siswa yang juga bersekolah formal atau siswa yang tidak masuk sekolah formal. "Kami membimbing siswa dengan melihat potensi serta memfokuskan bakat anak," kata Direktur HSPG Kusnanto.
Lembaga pendidikan alternatif ini menggunakan dua kurikulum sekaligus, yakni kurikulum nasional dan kurikulum internasional. Layaknya siswa di sekolah formal, siswa HSPG pun bisa ikut Ujian Akhir Nasional (UAN), juga Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK).
Karena berbasis kurikulum Cambridge International, siswa dapat ikut ujian dari Cambridge. Dengan begitu, siswa dapat memilih mengantongi ijazah formal dengan UAN, ijazah nonformal dengan UNPK, atau ijazah internasional dalam Cambridge International Examination.
HSPG menawarkan bentuk pengajaran individu dan komunitas. Bila siswa ingin belajar di rumah, pengajar Primagama akan datang mengajarinya. Jika siswa ingin belajar dalam komunitas, ia bisa datang ke kelas di kantor HSPG. Satu komunitas belajar hanya menampung maksimal lima siswa. "Satu siswa bisa dibimbing lima atau enam pengajar. Ini karena setiap pengajar mewakili satu atau dua bidang studi," imbuhnya.
Sejak dua tahun lalu, HSPG membuka program waralaba. Hingga saat ini sudah ada 11 mitra HSPG. Di Jakarta sudah berdiri tiga mitra HSPG. "Sebentar lagi HSPG juga akan hadir di Bogor, Denpasar, Surabaya, Balikpapan, dan Banjarmasin," kata Kusnanto.
HSPG menawarkan waralaba senilai Rp 224,5 juta. Nilai ini mencakup biaya kerja sama usaha Rp 75 juta, biaya survei Rp 2 juta, sarana belajar dan perlengkapan Rp 45 juta, renovasi Rp 55,5 juta, pemasaran Rp 37 juta, dan biaya lain-lain Rp 10 juta. Investasi itu di luar biaya tenaga kerja, biaya listrik, air, dan telepon, serta biaya pemeliharaan gedung.
Jumlah guru disesuaikan dengan jumlah dan kebutuhan siswa. Kusnanto mencontohkan, HSPG Yogyakarta memiliki 40 pengajar yang melayani siswa individu dan siswa komunitas. Mitra harus menyediakan minimal lima ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan ruang musik. "Ruko dua lantai cukup," ujar Kusnanto.
Pendapatan mitra berasal dari uang pendaftaran, uang SPP per bulan, uang pangkal, uang kegiatan per semester dan uang ujian tiap akhir periode. "HSPG Yogyakarta dengan sekitar 60 siswa dapat meraup omzet Rp 1,7 miliar per tahun," tutur Kusnanto. Ia menargetkan bisa menjaring banyak mitra agar HSPG ada di setiap kota di Indonesia.
Pengamat waralaba Erwin Halim menuturkan, bila HSPG punya target kelas menengah ke atas, lembaga pendidikan ini harus mempromosikan diri di kota-kota besar. "Jalur pemasarannya harus cari bentuk lain, misalnya lewat lomba atau kegiatan yang berhubungan dengan pelajar," katanya.
Erwin menilai pelajar yang mengikuti homeschooling kemungkinan besar tidak memiliki kehidupan sosial serupa pelajar sekolah formal. Pelajar homeshooling belajar secara individual atau hanya di kelompok kecil. "HSPG harus menutupi kebolongan itu dengan cara menyelenggarakan acara-acara unik untuk mendekatkan anak dengan kehidupan sosial," tutur Erwin.
Homeschooling Primagama (HSPG)
Jl. Diponegoro 89, Yogyakarta
(0274) 548443, 520418, 0811258245
Subscribe to:
Posts (Atom)





