Saturday, June 9, 2012

Peluang Piza Tak sehangat Dulu Lagi


JAKARTA. Piza jelas bukan makanan asli Indonesia. Tapi kita tak bisa menututup maya bahwa makanan ini popular dadn dapat diterima dengan baik oleh banyak kalangan.
            Bahkan kini penjaja pizza bertebaran mulai dari kelas premium hingga kaki lima. Alhasil, makanan asli Italia ini telah sejajar dengan burger, kebab, dan makanan impor yang lain.
            Penjaja pizza ini beberapa di antaranya merupakan waralaba. Umumnya mereka mengarap segemen pasar kelas menengah dengan menawarkan harga terjangkau. Beberapa tawaran waralaba pizza pernah diulas KONTAN.
Nah, bagaimana gambaran perkembanfan bisnis waralaba pizza tersebut sekarang? Berikut ulasannya”
Pizza Van Java
            Pada 2012 silam, KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan dari Pizza Van Java asal Cirebon, Jawa Barat. Kala itu, pizza Van java masih memiliki 11 gerai, delapan diantaranya milik mitra, kini, Pizza van java mengalami pertambahan mitra dari delapan mitra menjadi 11 mitra. Sementara gerai milik sendiri tetap tiga. Jadi cabang pizza Van Java kini ada 14 cabang, semuanya ada disekitar Cirebon, Jawa barat.
            Apik S Rizal, Manajer Pizza Van Java mengakui, pertumbuhan jumlah mitra dan bisnis Pizza Van Java tergolong lamban. Ia berdalih, pihaknya memang belum berencana melebarkan sayap bisnis ini keluar dari Cirebon.
            Untuk mempertahankan pasar dan meningkatkan jumlah mitra , Pizza Van Java berusaha menjaga kualitas produk.”Tujuannya agar pelanggan tidak lari ke tempat lain, dan adanya pelanggan baru,” papar Apik.
            Selain itu, Pizza Van Java juga gencar melakukan promosi lewat media online. Agar pelanggan terpikat, gerai pizza ini tidak menaikan harga yakni sebesar Rp 13.000-Rp 30.000 per loyang.
            Pun begitu biaya investasi juga tidak mengalami perubahan. Pertama, paket investasi Rp 25 juta. Dipaket ini, mitra akan memperoleh fasilitas pelatihan karyawan selama tiga hari, satu unit booth lengkap dengan peralatan masak. Lalu ada bahan baku awal, paket promosi, frezer dan seragam.
            Kedua, paket investasi Rp 75 juta. Untuk paket ini, selain fasilitas seperti paket pertama, juga ada tambahan bonus alat produksi pizza dan hak supplier Pizza Van Java, termasuk tiga unit boks motor.
            Dengan masa kerjasama selama mlima tahun, Apik mengatakan, mitra paket kedua juga berhak menjadi master franchise .” Omzet rata-rata mitra saat ini stabil di angka Rp 600.000 sampai Rp 850.000 perhari,”ujar Apik.
            Salah satu menu andalan Pizza van java adalah Fruit Javanesse Pizza. Menu ini memiliki khas topping buah buahan tropis. Seperti. Seperti pisang, jeruk, juga jagung.
Piramizza
            Pebisnis pizza lain adalah Piramizza yang berdiri sejak 2007 di Surabaya. Berbeda debgab tampilan kebanyakan pizza di pasaran, Piramizza mengusung pizza berbentuk es krim yang menarik.
            Ide pizza berbentuk es krim ini dicetuskan Ramadhan Yasmanto. Namun di tengah jalan manajemen Piramizza diambil alih PT Baba Rafi Indonesia dan sejak Agustus 2008 mereka menawarkan waralaba.
            Saat KONTAN mengulas Piramizza pada November 2008 lalu, Piramizza baru memiliki lima gerai milik sendiri di Surabaya. Kala itu, mereka menawarkan kemitraan dengan investasi senilai Rp 200 juta, untuk lima booth sekaligus. Selanjutnya operasional dijalankan sepenuhnya oleh franchisor. Dengan asumsi omzet Rp 400.000 per hari atau Rp 12 juta per gerai per bulan, mitra bisa balik modal dalam 17 bulan.
            Hendy Setiono, pemilik PT Baba Rafi Indonesia yang bertanggung jawab atas waralaba ini, mengatakan, sejak tahun 2010 peminat kemitraan Pirramizza cukup banyak. Akhirnya mereka mengubah paket investasi yang ditawarkan menjadi paket booth senilai Rp 45 juta, belum termasuk sewa tempat.
Dengan paket sebelumnya yakni investasi Rp 200 juta tersebut, Baba Rafi mampu membuka 30 gerai Piramizza. Kini, dengan tambahan paket booth Rp 45 juta, Piramizza sudah berkembang pesat dan memiliki 70 gerai di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Medan. "Dari total gerai ini, hanya 20% milik sendiri sedangkan sisanya milik mitra," ujar Hendy.

Menurut Hendy, dengan harga jual piza rata-rata Rp 15.000 per loyang, mitra bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 15 juta per bulan. Tapi, Piramizza mengenakan royalty fee 5% dari omzet.

Mitra bisa memperoleh laba bersih sekitar 25% dari omzet. "Balik modalnya kami perkirakan 1,5 tahun," jelasnya.

Hendy mengatakan, pihaknya akan akan terus mengembangkan produk piza Piramizza ini lewat beberapa inovasi. Prospek bisnis piza yang cukup bagus membuatnya optimistis bahwa target penambahan 30 gerai di tahun ini akan tercapai.

Rencananya, Hendy akan memboyong Piramizza ini ke Malaysia, seperti yang ia lakukan pada dua merek waralaba milik Baba Rafi sebelumnya yakni Kebab Turki dan Ayam Bakar Mas Mono.
Papa Ron's
            Papa Ron’s Pizza merupakan salah satu waralaba lokal yang cukup terkenal di kota-kota besar di Indonesia. Anak usaha PT Eatertainment Indonesia Tbk ini, memulai bisnisnya di tahun 2000. Dua tahun berselang, mereka menawarkan waralaba. Berbeda dengan gerai piza impor, Papa Ron's lebih menyasar kalangan menengah bawah.
            Pada tahun 2007, KONTAN pernah menulis waralaba Papa Ron's Pizza. Kala itu, jumlah gerainya sebanyak 46 cabang. Namun, tahun 2010 menyusut menjadi 34 gerai.
            Rupanya, sejak tahun 2007 sampai 2010, Papa Ron's telah menutup sebanyak 12 gerai, karena berbagai persoalan seperti tidak mendapat perpanjangan izin sewa tempat, atau pun mitra tidak lagi memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan kantor pusat. "Namun selain menutup gerai, kami juga membuka gerai baru," kata Noragraito, General Manager Papa Ron's.
            Pada pertengahan tahun 2012 ini, gerai Papa Ron's kembali menyusut. Saat ini jumlah gerainya sebanyak 33 yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia. "Sebenarnya jumlah gerai kami ada 36 cabang, tapi tiga cabang yang berlokasi di Medan sedang bermasalah dengan kami, jadi kami tidak hitung," ujar Noragraito.
            Bagi calon investor yang berminat membuka gerai di suatu wilayah, Papa Ron's mensyaratkan investor harus merupakan penduduk lokal di wilayah masing-masing. Maklum, selain lebih mengetahui wilayahnya, ia berharap investor bisa terjun langsung membesarkan usahanya.
            Noragraito bilang, investor harus menyediakan dana investasi antara Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Selain itu, manajemen juga akan memungut biaya royalti sebesar 5% dan fee sebesar US$ 25.000 untuk masa kerja sama delapan tahun. "Jika mereka menjalankannya dengan benar, dalam waktu 3,5 tahun modal sudah pasti kembali," ujarnya. Sejak 2010 sampai saat ini biaya investasi tersebut belum mengalami perubahan.
            Untuk mempertahankan pangsa pasar, Papa Ron's konsisten mempertahankan kualitas produk. Sehingga semua produk piza yang dijual di gerai Papa Ron's milik mitra memiliki kualitas yang sama. Manajemen Papa Ron's rajin mengevaluasi mitra, kalau tidak bisa ikut standar maka akan diputus.

Peluang Piza Murah Lebih Besar
WARALABA dan kemitraan piza di Indonesia memiliki pasar yang masih cukup luas. Terutama di segmen menengah kebawah yang masih tergolong awam terhadap raa makanan ini. Karenanya, makanan ini bisa dimodifikasi dan dikenalkan ke mayarakat dengan murah. Bisnis ini sudah banyak digarap oleh pewaralaba piza lokal yang menawarkan investasi dengan nilai nominal tak terlalu besar.
            Menurut pengamat waralaba dari Proverb Consulting Erwin Halim, piza yang menyasar pasar kelas mengah bahwa menembus pasar yang ada saat ini pun bukanlah perkara mudah. “Mungkin masih banyak masyarakat yang tidak terbiasa dengan piza, sebab ini kan makanan khas Eropa, sementara kita lidah Asia,”ujar Erwin.
            Untuk itu, pelaku usaha piza ini perlu lebih gencar melakukan promosi dan memberikan informasi yang banyak ke pasar mengenai produk dan brand yang mereka usung. Selain itu, pengusaha piza juga menyediakan varian rasa yang disesuaikan dengan keinginan konsumen. Pengusaha bisa memainkan rasa hingga harga tapi tetap pada taraf yang wajar dan terjangkau oleh masyarakat.”Terus mencari celah serta perbanyak keunikan,” imbuhnya.
            Erwin mengingatkan, bisnis ini berkaitan dengan lidah masyarakat karenanya selera masyarakat harus tetap diperhatikan. Jika pasar telah mengenal makanan serta rasanya, ditambah harga yang relatif terjangkau, bukan mustahil piza dengan harga murah diminati di kelasnya.

Sumber : Kontan, 9 Juni 2012 
               Noverius Laoli, Fahriyadi, revi Yohana Simanjuntak

Tuesday, June 5, 2012

Badan Bugar, Bisnis pun Jadi Melar


Lantaran peminnya banyak, usaha pusat kebugaran tubuh kian menjanjikan itu pula yang mendorong Six Pacjk Gym menawarkan kemitraan dengan investasi Rp 900 juta. Omzet mitra ditargetkan Rp 50 juta per bulan. Dengan Laba 70%, mitra bisa balik modal dalam waktu 16 bulan-18 bulan.


MEMILIKI tubuh bugar dan sehat tentu menjadi dambaan setiap orang. Apalagi ditopang tampilan tubuh yang atletis, tentu menamba keprcayaan disi seseorang. Untuk mendapatkan tubuh bugar dan sehat, kini banyak orang mendatangi tempay gym atau fitness. Karena peminatnya banyak, usaha pusat kebugaran tubuh kini tumbuh subur. Guna membesarkan usahanya, banyak pemilik pusat kebugaran membuka tawaran kemutraan atau waralaba. Yawaran terbaru datang dari Six Pack Gym di kemanggisan, Jakarta Barat.


                Usaha ini telah dibuka sejak 2010 dan mulai menawarkan kemitraan pada 1 juni 2012. Saat kini Six Pack Gym sudah memiliki dua gerai milik sendiri di Kemanggisan dan Bintaro Jakarta. “Tahun ini kami targetkan bisa minimal mitra, ujar Co-Founder Six Pack Gym, Djoko Kurniawan.Tawaran kemitraan ini hanya berlaku bagi mitra di luar Jabodetabek. Sebab, untuk pembukaan cabang di wilayah Jabodetabek akan ditangani seluruhnya oleh pihak pusat.


                Six Pack Gym menawarkan paket kemitraan dengan investasi Rp 900 juta. Investasi itu sudah termasuk biaya pengunaan merek dan masa kerjasama selama tiga tahun sebesar Rp 125 juta. Untuk fasilitas, mitra akan mendapatkan pasokan peralatan gym hingga 33 buah.Mitra juga akan mendapatkan sistem operasional dan pelatiha karyawan. Bagi yang berminat, harus menyediakan tempat dengan luas bangunan minimal 200-250 meter persegi. Biaya fitness di Six Pack Gym ditetapkan berdasarkan lama berlangganan. Yakni, satu bulan, dan dua belas bulan.


                Untuk anggita yang hanya ingin mencoba satu bulan di kenakan biaya Rp 253.000. Sementara anggota yang ingin berlangganan selama duabelas bulan hanya dikenakan biaya Rp 160.000. Dengan biaya tersebut, pelanggan bebas menggunakan seluruh peralatan fitness. “Kami juga membuka kelas-kelas dan member tak perlu membayar lagi,” ujar Djoko.

                Kelas yang disediakan di antaranya kela hypnotheraphy, chi kung, dan taekwondo. Selain itu, ada juga kelas umum seperti yoga, aerobic, dan cha cha dance. Kelas akan dibuka setiap hari. Sementara jam buka fitness mulai pukul 06.00 hingga 23.00 malam.Djoko memperkirakan, omzet mitra Rp 50 juta-60 juta per bulan. Laba bersihnya 70% dari omzet. Dengan royalty fee 5% dari omzaet, mitra ditargetkan balik modal dalam waktu 16-18 bulan.


                Pengamat Waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim menilai, konumen pusat-pusat kebugaran hanya terbatas di kalangan menengah atas. Karena konsumennya terbatas, calon mitra hanya jeli memilih lokasi dan pangsa pasar.Selain lokali, besarnya biaya investasi juga harus dipertimbangkan. Mitra harus memperhitungkan lamanya waktu balik modal dengan masa kerjasama.Jangan sampai baru meraup untung sedikit, tapi masa kontrak sudah habis. Apalagi jika brand kemitraan ini belum terlalu kuat.”Faktor branding dan lamanya kontrak sangat mempengaruhi keberhasilan mitra,” papar Erwin.

Six Pack Gym
Jl. Kemanggisan Raya B4B
Batusari, Jakarta barat 11480
Telp : 021 – 5367 5599

Sumber : Kontan, Selasa 5 Juni 2012
   Revi Yohana S, dan Noverius Laoli

Saturday, May 26, 2012

Bisnis donat masih tetap mantap


Donat adalah salah kudapan favorit masyarakat Indonesia. Berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya, donat terkenal hingga pelosok negeri ini. 

Selain karena rasanya yang manis dan gurih, harga donat yang menjangkau kocek masyarakat menjadi alasan donat menjadi salah satu penganan favorit. Tak pelak, bisnis donat tetap mantap hingga kini. Hal ini terungkap dari sejumlah pewaralaba bisnis donat yang usahanya pernah diulas KONTAN sebelumnya.

Mereka mengaku usahanya mengalami pertumbuhan yang bagus setelah beberapa tahun terjun dan menekuni bisnis ini. Indikasinya, jumlah gerai dan mitra mereka yang semakin bertambah banyak. Berikut perkembangan bisnis donat mereka.

P-Do Donat Kentang
Usaha donat dengan nama P-DO kepanjangan dari Potato Donut yang bermarkas di Pulo Gadung Trade Center, Jakarta Timur ini berdiri tahun 2007 silam. Tak lama kemudian, P-DO menawarkan kemitraan.

Tak dinyana, peminatnya ternyata cukup banyak. Pada Juni 2010 silam, saat KONTAN mengulas tawaran kemitraan dari P-DO, mereka baru memiliki 10 gerai milik mitra dan 12 gerai milik sendiri. Namun tahun 2011 silam, jumlah gerai P-DO sudah mencapai 30 gerai dan pada tahun 2012 ini, P-DO sudah memiliki sebanyak 50 gerai. Dari jumlah tersebut, enam gerai di antaranya milik sendiri.

Fariko Ngantung, Kepala Marketing P-DO menuturkan, pihaknya beberapa tahun terakhir mengurangi jumlah gerai milik sendiri dari sebelumnya 12 gerai menjadi enam gerai. "Kami sengaja mengurangi gerai milik kami dan memberi kesempatan mitra untuk mengembangkan usaha mereka," papar pria yang akrab disapa Riko ini.

Saat ini, mitra P-DO tersebar di wilayah Jakarta, Depok, Bekasi, Cibinong, Bogor, Tangerang, Cileungsi dan Bandung. Rico bilang meningkatnya jumlah mitra P-DO tak terlepas dari strategi marketing yang baik.

Ia bilang, P-DO tetap berusaha mempertahankan kualitas rasa donat yang dijual. Selain itu, selama dua tahun lebih, P-DO tidak menaikkan harga donat sebesar Rp 2.000. "Jadi kami rela mengurangi untung asal harga tidak naik," papar Riko.

Bukan itu saja, P-DO juga tidak mengutak-atik biaya investasi bagi mitra tetap sebesar Rp 6 juta dan Rp 11 juta. Pada paket Rp 6 juta, terwaralaba tidak mendapatkan mixer pembuatan donat. Sementara pada paket Rp 11 juta mitra mendapatkan pelatihan pembuatan donat, booth, mixer pembuatan donat, penggorengan listrik, cool box, dan tempat displai donat.

Kunci sukses lainnya, P-DO juga tetap menjadikan lokasi sebagai pertimbangan penting bagi calon terwaralaba. Selama ini, terwaralaba P-DO banyak membuka gerai di pusat perbelanjaan. Nah, di setiap pusat perbelanjaan hanya boleh ada satu gerai donat P-DO. "Kalau untuk kios, paling tidak radius jarak satu gerai dengan gerai lainnya sekitar 3 kilometer," kata Riko.

Donat Bakar
Kemitraan Donat Bakar yang berada di bawah bendera Java Donut juga berkembang. Pada April 2009 lalu, KONTAN sudah mengulas Donat Bakar. Saat itu, Donat Bakar memiliki 14 gerai.

Namun setelah berselang tiga tahun lebih, jumlah gerai Donat Bakar saat ini sudah menjadi 50 gerai, dua di antaranya adalah milik sendiri. Iwan Abu Shalih, pemilik Donat Bakar mengakui, sejatinya tidak semua mitranya mulus dalam menjalankan gerai.

Ia menuturkan, total seluruh gerainya dari tahun 2008 sebetulnya mencapai 73 gerai. Namun, sekitar 23 gerai tutup. "Ada beberapa yang berpikir usaha itu mudah, maunya instan sehingga tidak bisa bertahan," ujar Iwan.

Maka itu, ia tak segan memutuskan hubungan kerja sama jika si mitra tidak menjalankan kemitraan sesuai aturan main awal. Misalnya, membuka gerai baru tanpa sepengetahuannya. Kendati ada yang gulung tikar, Iwan bilang, seluruh mitranya yang bertahan hingga kini telah balik modal.

Menurut Iwan, penambahan jumlah mitra paling banyak berada di kawasan Solo, daerah asal Donat Bakar, juga Bekasi. Di luar Jawa, Donat Bakar berkembang di Samarinda dan Tarakan.

Harga paket yang ditawarkan Donat Bakar untuk perorangan masih sama, yakni paket senilai Rp 7 juta untuk kawasan Jawa. Mitra akan mendapatkan satu unit booth, peralatan masak, bahan baku untuk 100 donat, dan bermacam topping. Mitra juga akan dilatih mengembangkan bisnisnya termasuk berpromosi.

Selain paket Rp 7 juta, kini Iwan juga menambahkan tawaran paket bagi yang sudah memiliki booth sendiri, dengan investasi Rp 5 juta per paket.

Bagi mitra yang berada di luar Jawa, Iwan masih menawarkan paket investasi untuk menjadi koordinator wilayah. Tapi harganya telah naik. Dulu harga koordinator luar Jawa sebesar Rp 27,5 juta, kini telah menjadi Rp 30 juta. Berbeda dengan mitra di Jawa yang mendapatkan pasokan bahan baku dari Iwan, mitra yang berada di luar Jawa akan dibantu untuk memproduksi sendiri donatnya.

Harga donat yang dijual pun masih sama, yakni Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per donat. Namun, ada pula mitra yang menambahkan harga Rp 500 - Rp 1.000 per donat dari harga standar, misalnya yang berada di kawasan Jakarta dan luar Jawa.

Kini Iwan tidak lagi agresif mencari mitra. Ia lebih fokus menjaga dan mengembangkan usaha mitranya. Itu sebabnya, ia hanya menargetkan penambahan jumlah mitra sebanyak 3 mitra saja di tahun ini. "Tujuan saya orang yang tidak punya usaha supaya bisa bekerja. bukan sekadar mencari investor," ujar Iwan.

Donat Madu Cihanjuang
Mulai berdiri sejak Mei 2010 di Cimahi, Donat Madu Cihanjuang menawarkan kemitraan sejak 2011 lalu. Pada Agustus 2011, tatkala KONTAN mengulas tawaran kemitraan gerai donat milik pasangan Ridwan Iskandar dan Fanina Nisfulaily ini, mereka baru memiliki empat mitra yang berada di Jabodetabek.

Kala itu, investasi yang ditawarkan sekitar Rp 10 juta untuk hak penggunaan mereka Donat Madu Cihanjuang dan mitra dipersilakan memenuhi peralatan operasional sendiri yang diperkirakan menelan biaya hingga Rp 20 juta.

Donat Madu hanya menyediakan bahan baku awal yang bisa ditebus dengan nilai Rp 7,5 juta untuk keperluan satu bulan. Dengan harga jual Rp 3.000 per potong, mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 900.000 per hari atau Rp 27 juta per bulan dengan balik modal antara lima sampai enam bulan.

Sekarang, Donat Madu Cihanjuang telah berkembang cukup pesat dalam waktu kurang dari setahun. Fanina Nisfulaily mengatakan, kini ia telah memiliki 14 gerai milik mitra dan enam milik sendiri. Gerai donatnya tersebut tersebar mulai dari Jabodetabek, Bandung, bahkan hingga Bali. "Responsnya cukup bagus sejauh ini," katanya.

Tapi, menurut wanita yang akrab disapa Nina ini, investasi yang ditawarkannya kini berubah naik menjadi Rp 20 juta. Untuk peralatan, mitra masih dibebaskan untuk menyediakannya sendiri. Menurut perhitungannya biaya peralatan itu mencapai Rp 25 juta untuk tiap gerai. 'Tak menutup kemungkinan biayanya bisa dua kali lipat jika mitra memilih peralatan yang bagus," imbuhnya.

Ia mengakumulasi jika ditambah bahan baku awal maka investasi minimum membuka gerai Donat Cihanjuang berkisar Rp 50 juta. Dari situ, Nina memprediksi omzet mitra bisa mencapai Rp 40 juta per bulan jika lokasinya strategis. "Dalam tiga sampai lima bulan sudah bisa balik modal," katanya.

Ia juga mengaku tak ada royalty fee yang diterapkan gerai donatnya ini. Dus, Nina memastikan omzet mitra menjadi lebih besar dengan kebijakan tersebut.

Soal variasi produk, Donat Madu terbilang beragam. Saat ini, Donat Madu sudah memiliki 60 variasi donat yang tiap gerai berbeda-beda tergantung selera pasar yang berkembang di daerah itu.
Kuncinya Kualitas Rasa dan Variasi Produk
MENYANTAP donat sembari menyeruput kopi pasti terasa nikmat. Apalagi, jika kegiatan tersebut telah menjadi rutinitas setiap hari sebelum melakukan aktivitas. Maka tak heran, bila gerai donat di mal atau pinggir jalan selalu ramai diserbu pengunjung.
Erwin Halim, Konsultan Waralaba dari Proverb Consulting mengatakan, pertumbuhan bisnis donat tak terlepas dari pangsa pasar donat yang besar di Indonesia. Terutama bisnis donat dengan investasi rendah dan terjangkau, “Apalagi prosuk jenis makanan masih menempati peringkat teratas jenis produk yang paling diminati ,”ujarnya.
Ia bilang, kemitraan donat dengan investasi rendah membuat orang berani membuka bisnis ini. Alasannya, biaya investasi yang rendah dapat menjangkau kocek sebagian besar masyarakat. Selain itu, resiko yang di ambil juga tidak terlalu besar.
Tapi agar pemain di bisnis ini dapat bersaing, mereka harus melakukan inovasi produk serta selalu menawarkan sesuatu yang baru dan berkualitas. Maka pelaku usaha sebaiknya rajin-rajin melakukan riset kecil-kecilan ke para konsumen, soal rasa donat macam apa yang mereka inginkan.
Sebab, bisnis makanan donat yang lebih menyasar kalangan menengah ke bawah, kualitas rasa produk lebih menjadi pegangan, berbeda dengan bisnis donat dengan investasi besar, konsumennya lebih mengutamakan suasana yang menyenangkan, baru kemudian kualitas produknya. “Konsumen dengan pangsa pasar kelas menengah ke atas lebih sensitif pada situasi. Sebagian besar konsumen tidak membeli donatnya, tapi suasanannya,”paparnya.
Sumber : Kontan 26 Mei 2012
Oleh Noverius Laoli, Fahriyadi, Revi Yohana







Saturday, May 19, 2012

Bisnis pendidikan anak masih menjanjikan



Pendidikan anak usia dini (PAUD) kini semakin dibutuhkan oleh para orang tua. Maklumlah, PAUD berperan penting dalam tahap perkembangan anak. Selain bermain, anak-anak diajari pendidikan dasar, seperti mengenal angka dan huruf.

Bekal pendidikan itu sangat penting bagi anak sebelum memasuki pendidikan lanjutan. Karena pentingnya peran PAUD itu, banyak orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke PAUD. Itu pula yang membuat bisnis PAUD semakin menjanjikan.

Untuk membesarkan usahanya, banyak pebisnis PAUD yang membuka tawaran kemitraan atau waralaba. Guna mengetahui perkembangan usaha ini, KONTAN kembali me-review beberapa tawaran kemitraan PAUD yang sebelumnya sudah pernah diulas.

Beberapa di antaranya adalah Rumah Cerdas Baby School Moslem, Twinkle Stars Early Childhood Center, dan Kidea Preeschool and Kindegarten. Bagaimanakah kondisi usaha mereka saat ini? Berikut ulasannya.


Twinkle Stars Early Childhood Center

Berdiri sejak 1998, Twinkle Stars Early Childhood Center yang bermarkas di Cilandak, Jakarta Selatan mulai menawarkan waralaba di akhir 2010. Lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Bintang Kemenangan Bakti Bangsa ini fokus menyediakan pendidikan untuk anak usia dini, yakni dua hingga enam tahun.

Saat KONTAN mengulas tawaran waralaba ini pada Desember 2010, tawaran kemitraan ini baru saja diluncurkan. Saat itu, Twinkle Stars belum memiliki mitra. Mereka hanya memiliki satu gerai milik sendiri yang juga bertindak sebagai kantor pusat.

Hampir satu setengah tahun berselang, kini Twinkle Stars telah memperoleh satu mitra di daerah Kedoya, Jakarta Barat. "Total kami memiliki dua gerai," ujar Lely Tobing, Project Development Director Twinkle Stars.

Lely mengaku, pihaknya memang menargetkan hanya ada penambahan satu gerai setiap satu tahunnya. Hal itu dilakukan karena mereka fokus meningkatkan kualitas, bukan kuantitas. "Kami berusaha membatasi diri agar mitra bisa mandiri dalam target waktu yang dipatok sebelumnya," ujarnya.

Dalam tawaran waralaba ini ada beberapa hal yang mengalami perubahan. Di antaranya, paket investasi yang sebelumnya ditetapkan Rp 765 juta. Nilai itu sudah termasuk franchise fee selama lima tahun sebesar Rp 300 juta. Adapun omzet mitra ditargetkan Rp 68 juta per bulan. Sedangkan biaya yang dibebankan kepada siswa berkisar Rp 5,36 juta-Rp 7,645 juta.

Kini, tawaran waralaba Twinkle Star hanya sebesar Rp 251 juta. Nilai itu sudah termasuk dekorasi ruangan, peralatan mengajar, serta franchise fee lima tahun sekitar Rp 50 juta. Adapun biaya pendidikan dibanderol Rp 8 juta-Rp 10 juta per tahun.

Di luar itu ada iuran siswa sekitar Rp 500.000-Rp 650.000 per bulan. Dengan biaya sebesar itu, mitra bisa meraup omzet Rp 400 juta per tahun. Dengan omzet tersebut, mitra sudah bisa balik modal di bulan ke delapan belas atau satu setengah tahun.

Menurut Lely, persaingan usaha waralaba di sektor pendidikan seperti ini memang cukup ketat, terutama yang menyasar anak-anak usia dini. Agar bisa bersaing, pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada para siswa.

"Kualitas itu mencakup seberapa besar mereka mampu memberikan output yang berguna bagi anak dan memuaskan orang tua," ujarnya.


Kidea Preeschool and Kindegarten

Kidea Preeschool and Kindegarten sudah menawarkan waralaba sejak tahun 2009. Lembaga pendidikan di bawah Yayasan Kasih Kibar Kreasi Indonesia ini menawarkan pendidikan anak mulai usia enam bulan hingga enam tahun. Saat diulas KONTAN pada Desember tahun 2011, Kidea sudah memiliki 15 mitra. Saat ini, mitra yang dimiliki Kidea ada 16. Seluruh mitra berlokasi di Jakarta.

Iffan Darmawan, Ketua Yayasan Kasih Kibar Kreasi Indonesia bilang, mitra hanya bertambah satu karena mereka menetapkan syarat batas antar cabang minimal lima kilometer (km). Padahal, di awal tahun lalu telah ada beberapa mitra yang ingin membuka cabang di Jakarta. "Namun jaraknya kurang dari lima km dari cabang Kidea yang telah ada," jelasnya.

Kidea menargetkan, jumlah mitra hingga akhir tahun ini mencapai 21 mitra. Saat ini, sudah ada lima calon mitra yang melakukan penjajakan. Mereka tersebar di Jakarta, Depok, dan Bekasi.

Biaya investasi yang ditawarkan Kidea masih sama, yakni Rp 225 juta untuk kerja sama lima tahun. Terwaralaba juga mendapatkan panduan pengelolaan dan aplikasi pembukuan bisnis pendidikan, kurikulum tahunan untuk setiap tingkatan kelas, serta bantuan perekrutan dan pelatihan mengajar.

Sementara, sekitar Rp 100 juta sisanya digunakan untuk membeli peralatan dan perlengkapan kelas, serta dekorasi ruang. Biaya pendidikan anak di Kidea juga belum berubah, yakni Rp 460.000 sampai Rp 850.000 per bulan.

Omzet mitra diperkirakan mencapai Rp 50 juta per bulan. Dari omzet tersebut, Kidea mengutip royalty fee sebesar 7,5%. "Target balik modalnya tiga tahun," ujarnya.

Untuk mengembangkan usaha mitra, Kidea mengizinkan mitra membuka Kidea English. Yakni, kelas percakapan bahasa Inggris untuk anak usia dua hingga 12 tahun. Selain itu, mitra juga dibolehkan membuka Kidea Reader dan Kidea Bimbel. Mitra juga boleh menyelenggarakan kursus musik di Kidea.


Rumah Cerdas Baby School

KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan Rumah Cerdas Baby School Moslem asal Malang, Jawa Timur pada Januari 2010. Saat itu, Rumah Cerdas baru memiliki dua cabang di Malang.

Namun, saat ini mereka sudah memiliki sembilan cabang. Tiga di antaranya milik sendiri, dan enam lainnya milik mitra yang tersebar di Malang, Sunter, Bogor, Bekasi, Bandung, dan Palembang. Tahun ini, Rumah Cerdas menargetkan ada tambahan 10 mitra lagi.

Martina Sylviarini, pemilik Rumah Cerdas bilang, untuk menggaet mitra, pihaknya kini telah menambah paket kemitraan. Sebelumnya, ia hanya menawarkan satu paket senilai Rp 50 juta. Namun, saat ini sudah ada dua paket kemitraan yang ditawarkan.

Paket pertama senilai Rp 75 juta untuk masa kerja sama lima tahun. Dalam paket ini, Rumah Cerdas memfasilitasi pembukaan sekolah anak milik mitra dan mengatur sistem administrasi milik mitra.

Selain itu, Rumah Cerdas juga membantu mitra dalam merekrut guru. Perekrutan itu mulai dari wawancara dan training untuk lima orang guru selama tiga bulan di kantor pusat Malang. Kantor pusat juga mendampingi mitra selama tiga bulan, hingga mitra bisa mendapatkan minimal 20 anak. "Setelah target terpenuhi, baru kami lepas," jelasnya. Dengan 20 anak itu, omzet mitra ditargetkan Rp 30 juta per bulan.

Kedua, paket dengan nilai investasi Rp 175 juta. Selain fasilitas di paket pertama, mitra juga mendapatkan seperangkat komputer, kulkas, kompor gas, promosi, dan semua kebutuhan anak serta pendidikannya. "Mitra tinggal terima bersih saja," ujarnya.

Pada paket ini, Martina menargetkan omzet mitra sekitar Rp 50 juta per bulan, dengan 30 murid. Setiap anak dikenai biaya penitipan Rp 550.000 di daerah Malang, dan Rp 1,5 juta di Jabodetabek per bulan. Biaya sebesar itu sudah termasuk jasa penitipan anak mulai pukul 07.00 - 17.00. 

Perkuat Brand Lewat Kualitas Pengajaran

Pengamat waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim menilai, potensi bisnis pendidikan masih bagus, menurutnya, pertumbuhan waralaba atau kemitraan disektor pendidikan menempati posisi kedua setelah sector makanan dan minuman. Dengan potensi yang besar, para pemilik usaha tinggal memperkuat brand yang dimiliki supaya bisa dikenal. 

Erwin bilang, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk memperkuat brand usaha pendidikan anak usaha dini (PAUD). Pertama, adalah mencari tenaga pengajar dengan lintas yang bagus. Kemampuan pengajar juga garus yang bagus. Kemampuan pengajar juga harus disesuaikan dengan kebutuhan usaha.misalnya, jika membuka waralaba pendidikan bahasa mandarin, maka pengajarnya harus menguasai bidang tersebut.

Kedua, mengenai kurikulum yang ditawarkan. Sebaiknya, kurikulum yang ada tetap mengikuti kurikulum inti yang ditetapkan pemerintah. Di luar itu, perlu diberikan kurikulum tambahan, seperti membaca, menulis dan berhitung untuk balita.

Ketiga, sistem pemasaran yang tepat. Teknik pemasarannya harus menyesuaikan dengan segmen pasar yang dibidik. Bila membidik segmen menengah atas yang sudah melek teknologi, sebaiknya memanfaatkan jejaring social sebagai sarana pemasaran.

Pemasaran juga terkait dengan masalah lokasi. Di mana lokasi yang dipilih harus disesuaikan dengan segmentasi konsumen. Misaknya segmen menengah ke atas bisa membuka di mal atau perumahan modern “ Selain itu, orang yang mau terjun di bisnis ini harus siap balik modal lebih lama karena usaha ini untuk jangka panjang,” ujarnya.

            Sumber : Kontan, 19 mei 2012
                            Fahriyadi, Revi Yohana, Noverius Laoli

Wednesday, April 25, 2012

Menjajal bisnis ayam goreng khas padang


Tawaran waralaba atau kemitraan di bisnis kuliner olahan ayam masih terus bermunculan. Tawaran terbaru datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Nilai investasinya mulai Rp 4,9 juta-Rp 50 juta. Sementara omzet mulai Rp 9 juta-Rp 30 juta.

 Bisnis kuliner berbahan baku ayam agaknya masih belum jenuh. Buktinya, pemain di usaha ini terus bertambah. Bahkan tak sedikit yang menawarkan usaha ini lewat jalur kemitraan atau waralaba. Nah, tawaran waralaba terbaru usaha ayam goreng datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Berdiri sejak 2007, Rimbozz Chicken & Burger resmi menawarkan waralaba di awal tahun ini.

Faisal Ichal, pemilik Rimbozz Chicken & Burger mengaku, saat ini sudah ada dua calon terwaralaba yang berminat bekerja sama dengannya. "Sekarang sedang kami proses," ujarnya.

Saat ini, Faisal sudah memiliki lima gerai milik sendiri di Padang. Ia mengklaim, kelima gerai berkonsep resto itu beromzet Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per hari. Dengan laba 30%, rata-rata gerai milik Faisal bisa balik modal di bulan keempat. "Karena kinerja bagus itu, saya berani menawarkan waralaba," ujarnya.

Faisal menawarkan tiga paket waralaba. Pertama, paket kios dengan konsep gerobak senilai Rp 4,9 juta. Dalam paket ini, terwaralaba mendapatkan booth, peralatan masak, seragam, banner promosi, serta bahan baku senilai Rp 500.000.

Dalam paket ini, omzet terwaralaba ditargetkan mencapai Rp 300.000 per hari atau Rp 9 juta per bulan. Dengan laba 25%-30%, mitra bisa balik modal di bulan kedua. "Khusus paket ini tak ada biaya royalti," ujarnya.Kedua, paket corner senilai Rp 35 juta. Paket ini mengusung konsep restoran mini dengan luas 16 meter persegi. Terwaralaba akan mendapat instalasi booth dan peralatan tambahan, seperti kulkas, meja, dan kursi.

Selain itu, mereka juga akan mendapatkan bahan baku senilai Rp 1 juta. Omzet paket ini diperkirakan Rp 775.000 per hari atau Rp 23,2 juta per bulan. Dengan laba 25%-30%, mitra balik modal sekitar tujuh hingga delapan bulan. Di paket ini ada biaya royalti 4% dari omzet.

Terakhir, paket restoran senilai Rp 50 juta. Kriteria luas gerainya mencapai 50 meter persegi. Paket ini sudah termasuk desain interior ruangan dan tambahan meja kasir. Omzet mitra yang mengambil paket ini ditargetkan Rp 1 juta per hari atau Rp 30 juta per bulan.Adapun masa balik modal diperkirakan terjadi di bulan ke sembilan hingga bulan ke-12. Dalam paket ini dikenakan biaya royalti 5%.

Selain ayam goreng dan burger, Rimbozz Chicken menawarkan menu lain, seperti chicken teriyaki dan chicken steak. Harganya Rp 9.000-Rp 14.000 per porsi. Semua menu disajikan dengan bumbu tradisional khas Padang.Erwin Halim, konsultan waralaba dari Proverb Consulting menilai, tawaran waralaba dari Rimbozz Chicken & Burger cukup menarik, khususnya di wilayah Sumatera. Apalagi paket yang ditawarkan cukup murah sehingga bisa terjangkau mitra berkantong tipis.Namun, jika ingin menggandeng mitra di Jakarta, sebaiknya Rimbozz melakukan tes pasar dulu. Soalnya, selain persaingan ketat, mereka juga perlu membangun kepercayaan konsumen bahwa produknya sesuai selera pasar. “Sebaiknya, buka cabang dulu di Jakarta. Kalau sukses, mitra pasti datang,” ujarnya.

  
Rimbozz Chicken & Burger
Jl. By pass Tanjung Sabar No.8 Lubuk Begalung,
Padang , Sumatra Barat
Telp: 0751.977 3 977
Hp. 0812 6666 6777
Email : info@rimbozz.com

Sumber : Kontan 25 April 2012

                Eka Saputra

Friday, April 20, 2012

Menggaet Rezeki dari Para Siswa

Menimbang tawaran kemitraan bimbingan belajar dari Lembaga Pendidikan Bina Ilmu (LPBI)

 
JAKARTA. Bisnis bimbingan belajar (bimbel) terus tumbuh subur. Bisnis ini berkembang karena memang peminatnya semakin besar. Bisnis ini juga semakin marak dengan bermunculan pemain yang menawarkan waralaba atau kemitraan.

Tawaran kemitraan terbaru datang dari Lembaga Pendidika Bina Imnu (LPBI) yang berkantor pusat di Bekasi, Jawa Barat. Berdiri sejak tahun 2011, anak usaha Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) tersebut mulai menawarkan kemitraan pada awal tahun ini.

Saat ini, LPBI sudah memiliki lima cabang. Perinciannya, tiga milik sendiri dan dua milik mitra. Semua cabang tersebut berada di Jabodetabek. Sementara pada tahun 2012 ini. LPBI menargetkan bisa menggaet 22 mitra. “Saat ini sudah ada tiga mitra yang akan bergabung, mereka ada di Matraman, Banda Aceh dan Bali,” jelas Dimas Eka Prastyo, Kepala Humas LPBI.

Saat ini, LPBI menawarkan satu paket kemitraan sebesar Rp 50 juta. Biaya itu sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 20 juta untuk lima tahun masa kontrak. Kemudian mitra akan mendapatkan pelatihan guru, program pembelajaran, dan berbagai kebutuhan yang diperlukan saat membuka cabang.
Setelah kontrak habis, mitra dapat memperpanjangnya tanpa harus membayar franchise fee lagi. Dalam kerja sama ini, LPBI memungut royalty fee 5% dari laba mitra.

LPBI menargetkan, mitra dapat menggaet lebih dari 50 siwa di bulan pertama sejak beroperasi. “kantor pusat akan ikut mencarikan para siswa tersebut,”ujar Dimas. Selanjutnya, jumlah siwa ditargetkan terus bertambah dengan biaya persiswa mulai dari Rp 150.000 samapi Rp 1 juta dalam sebulan, maka omzet mitra diperkirakan dapat mencapai Rp 45 Juta per bulan. “Balik modal empat sampai enam bulan pasca beroperasi,” kata Dimas.

Untuk mencapai target itu, LPBI mengharuskan  mitra memiliki dua kelas yang beroperasi mulai dari pahi sampai malam hari. Kemudian ditambah dua orang guru yang bekerja dari pagi sampai sore.Kantor pusat juga menyediakan seorang guru yang bertugas sesuai jam operasinal bimbel. LPBI menjamin, guru yang mereka sediakan merupakan tenaga professional yang sudah menjalani training  sampai tiga minggu.” Jasi sebelum mengajar sudah kami training,”kata Dimas.

LPBI fokus menawarkan program pelatihan belajar untuk menunjang materi pendidikan di sekolah. LPBI menerima bimbingan siswa mualai dari tingkat sekolah daar (SD), sekolah menengah pertama(SMP), dan sekolah menengah atas(SMA). Untuk SD, LPBI mengajar mata pelajaran seperti matematika, IPA, IPS, bahasa inggris dan bahasa Indonesia.
Sementara di tingkat SMP dan SMA, diajarkan matematika, fisika, biologi, bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPS. Selain buat belajar, LPBI juga membuka kursus unutk umum, seperti kursus bahasa asing dan komputer.

Pengamat waralaba dari  Proverb Consulting, Erwin Halim menilai, prospek bisnis bimbingan belajar memang bagus. Terlebih, saat ini pendidikan sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok. Hanya saja, tidak semua pemain di bisnis ini bisa sukses.

Menurut Erwin , ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin sukses berbisnis bimbingan belajar. “Diantaranya lokasi harus strategis,” ujarnya. Selain itu, metode pengajaran dan tenaga pengajarnya juga harus berkualitas .”Tenaga pengajar dan sistem belajar mengajar itu harus betul-betul diperhatikan,”ujarnya.

Terkait tawaran kemitraan dari LPBI, Erwin menilai, estimasi balik modalnya terlalu cepat. Harusnya, kata dia, biaya sewa gedung dan penyusutan peralatan juga disertakan dalam perhitungan balik modal.”Saya menilai rata-rata periode balik modal bisnis lembaga pendidikan ini antara 1,5 tahun sampai dengan dua tahun, jelasnya.

Kantor Pusat LPBI
Jl. Gang Embo Raya No. 4-5,
Jatimulya(samping RS AL Multazam), Bekasi Timur
Telp:021-4452 3907

Sumber : Kontan 19 April 2012
                 : Noverius Laoli, Eka Saputra


Thursday, April 5, 2012

Menimbang tawaran kemitraan dari Huma Ribs, Steak & Shake


Tawaran Usaha Steik Harga Kaki Lima


KENDATI identik dengan makanan barat, steak atau steik sudah memiliki banyak penggemar di Indonesia. Awalnya, daging sapi panggang ini memang, tergolong makanan mewah dan hanya disajikan di hotel-hotel berbintang. Namun, kesan itu hilang seiring maraknya kafe atau restoran yang menjajakan steik.

Bahkan, tak sedikit gerai steik skala kaki lima bermunculan di pinggir jala. Kendati sudah menjamur, toh steik tetap diburu konsumen. Tak heran, bila pengusaha makanan ini terus bermunculan.Bahkan banyak diantara mereka yang menawarkan waralaba atau kemitraa. Tawaran kemitraan terbaru datang dari Bedi Miracle Corporation yang berakntor pusat di Yogyakarta. Sebelumnya, Bedi Miracle telah dikenal sebagai pewaralaba  Quick Chicken, sebuah restoran yang menghadirkan menu olahan ayam goreng.
Sebagai pendatang baru di bisnis steik, Bedi Miracle menawarkan kemitraan restoran steik bernama Huma Ribs, Steik dan Shake. Nana Priyatna, Franchisor Manager Bedi Miracle bilang, Huma Ribs mengusung konsep family resto.

Usaha ini berdiri sejak 7 januari 2012 dan langsung menawarka n kemitraan. “Sebab saat gerai Huma dibuka saat itu pila ada permintaan menjadi mitra,”ujar Nana. Restoran ini menawarkan steik Iga sebagai salah satu menu unggulan. Guna menarik pembeli, Huma Ribs memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk meracik dan mengelola sendiri beberapa menu yang dipesannya.

Dalam tawaran kemitraan ini, Huma Ribs mematok investasi Rp 262 juta. Biaya itu sudah termasuk kerjasama lima tahun, peralatan, desain interior, pelatihan karyawan dan pendampingan kegiatan operasional selama sebulan.Nana memperkirakan, mitra bisa meraup omzet Rp 118 juta perbulan. Dengan royalty 5%, ia mengestimasi mitra balik modal dalam jangka waktu 24 bulan.
Huma menyajikan puluhan variasi menu dengan harga mulai Rp 7.500-Rp 25.000 per porsi. Dengan harga yang relative terjangkau, Huma Ribs membidik pasar keluarga, pelajar, dan pekerja.
Saat ini, menurut Nana, Huma telah memiliki 4 gerai. Dua milik sendiri dan sisanya kepunyaan mitra. “Gerai kami ada di Yogyakarta, dan mitra di Semarang,”lanjutnya.

Ia berharap, Huma mampu menjadi market leader di kelasnya, serta dapat melebarkan sayap untuk ekspansi ke seluruh daerah. “Kami targetkan 40 gerai tahun ini,”katanya. 

Pengamat waralaba dari proverb Consulting, Erwin Halim menilai, prospek bisnis setik di Indonesia masih cukup bagus. Sebagai makanan asing, steik cukup familiar dengan cita rasa lidah orang Indonesia.” Dari segi perhitungan investasi dan balik modal, tawaran ini cukup realistis,”tukas Erwin.
Namun, mengingat usaha ini masih relative baru, franchisor perlu meningkatkan brand usahanya itu.”Butuh waktu untuk membangun kepercayaan dari mitra,”ujarnya.

Bedi Miracle Corporation
Jl. Raya Mejing Wetan No.15, Amabar ketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta
Telp 0274- 6497391

Sumber : Kontan, 05 April 2012
               Fahriyadi, Eka Saputra