Thursday, July 12, 2012

Bisnis Bermodal Hemat Ala Homart


Peluang bisnis ritel masih menjanjikan. Itu juga yang mendorong PT Immortal menawarkan kemitraan minimarket. Paket investasinya senilai Rp 60 juta. Omzet mitra usaha ini sekitar Rp 50 juta per bulan. Dengan laba 15%, mitra bisa balik modal dalam tujuh bulan sampai setahun.

Bisnis minimarket tak pernah surut. Buktinya, minimarket terus bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kendati persaingan kian ketat, bisnis ini tetap menjanjikan. Maklum, konsumsi masyarakat terus meningkat.

Itulah sebabnya, PT Immortal Store di Surabaya, Jawa Timur, ikut terjun menekuni bisnis minimarket. Sejak tahun 2011, perusahaan ini terjun ke bisnis minimarket dengan mengusung merek Homart. Kini, sudah ada dua gerai Homart di Surabaya.

Untuk mengembangkan usahanya, mulai awal tahun ini PT Immortal resmi menawarkan kemitraan usaha. Lewat kemitraan ini, Immortal menawarkan paket investasi Rp 60 juta. "Mitra akan mendapat berbagai fasilitas," kata Indra Kusuma, Corporate Partner Immortal.

Dengan membayar Rp 60 juta, mitra akan mendapat peralatan berupa paket sistem komputer untuk minimarket. Rincian barangnya ada komputer, LCD monitor, modem, laser barcode reader, printer, card reader, PIN keypad, serta software dan database. "Total nilainya mencapai Rp 10 juta," kata Indra.

Selanjutnya, mitra juga akan mendapat pasokan produk sponsor dari Immortal senilai Rp 20 juta. Produk sponsor ini terdiri dari kosmetik, suplemen kesehatan, dan buku.

Terakhir, mitra akan mendapatkan pasokan barang kebutuhan sehari-hari, seperti beras, snack, sampo, sabun, deterjen dan lain-lain. "Nilai pasokannya mencapai Rp 30 juta," jelas Indra. Selain itu ada pula fasilitas pelatihan buat karyawan.

Indra mengklaim, Homart memiliki keunggulan karena menerapkan program member get member. Dalam program ini, pemilik minimarket bisa menawari konsumennya untuk ikut member Immortal dengan membayar Rp 50.000.

Selain mendapat kartu, "Anggota juga akan mendapat barang senilai biaya pendaftaran itu," timpal Sri Hastuti, staf marketing di Immortal.

Menurutnya, setiap anggota nanti mendapat cash back 10% dari setiap transaksi. Sementara mitra sendiri akan mendapat bonus sekitar 2% dari Immortal.

Dengan sistem ini, mitra punya dua sumber pendapatan. Yakni, dari penjualan barang dan bonus yang didapat dari transaksi member. Bonus yang didapat mitra tidak sebatas transaksi member di Homart, tapi juga transaksi di Grup Immortal lainnya.

Perlu diketahui, Grup Immortal menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan baik restoran, properti, elektronik, kursus, bengkel, salon, travel, rumah sakit, klinik, apotek, dan hotel, otomotif. "Setiap member yang transaksi di grup akan mendapat cash back," ujar Sri.

Keuntungan lainnya, kata Indra, mitra bisa menukar barang yang hampir kedaluwarsa ke kantor pusat. Namun, penukarannya harus tiga bulan sebelum kedaluwarsa. Bila barang habis, mitra diharuskan membeli pasokan dari kantor pusat.

Sri memperkirakan, dalam sebulan mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 30 juta-Rp 50 juta. Adapun laba bersihnya sekitar 15% per bulan. Dengan laba sebesar itu, mitra bisa balik modal dalam waktu tujuh bulan sampai setahun.

Erwin Halim, konsultan dan pengamat waralaba dari Proverb Consulting menilai, peluang bisnis ritel masih cukup menjanjikan. Namun, tingkat persaingan bisnis ini sudah sangat ketat. Maklum, pemainnya sudah berjibun.

Ia pun menyarankan pemain bisnis ini untuk menawarkan sesuatu yang berbeda kepada para konsumennya. Misalnya, dengan menyediakan layanan antar ke rumah.

Pemilihan lokasi juga penting. Pilih lokasi yang belum begitu banyak minimarket. Erwin sendiri menilai, sistem member yang ditawarkan Homart cukup menarik.

Program member ini bisa menjadi pembeda Homart dengan minimarket lain. "Tapi Homart harus bisa menjelaskan secara detail ke konsumen terkait dengan fasilitas yang didapatnya dengan menjadi anggota," ujarnya.

Homart
Jl. Raya Kali Rungukut V,
Rungkut Megah Raya Blok D 6,
Surabaya, Jawa Tinmur
Telp: 031-70126090

Sumber : KONTAN, Kamis 12 Juli 2012
                 Havid Vebri, Noverius Laoli

Thursday, July 5, 2012

Peluang laba dari berbisnis minuman jelly


Minuman es jeli memang menyegarkan. Pun begitu bisnisnya. Lihat saja, banyak orang yang menyandarkan rezeki dari berjualan minuman es jeli. Termasuk bagi Paksi Dewandarau asal Surabaya, Jawa Timur.

Paksi membuka usaha minuman es jeli dengan mengusung merek dagang Monster Jelly, sejak 2008. Guna melebarkan jaringan, mulai awal tahun ini, ia menawarkan kemitraan usahanya itu.

Saat ini, Monster Jelly sudah memiliki 100 mitra. Sebanyak 14 diantaranya milik sendiri. "Kebanyakan mitra saya mengambil paket gerobak Rp 12 juta," jelas Paksi. Monster Jelly menyediakan menu minuman jeli dengan berbagai rasa, seperti rasa pisang, vanila, stroberi, dan moka.

Tak hanya itu, Monster Jelly juga menjual aneka makanan, seperti jamur goreng, bakso goreng, kentang goreng, ayam goreng, bebek goreng, dan burger. Untuk minuman, harganya bervariasi mulai Rp 3.000-Rp 12. 000 per cub. Sementara harga makanan berkisar Rp 5.000-Rp 18.000 per porsi.

Dalam kerjasama kemitraan ini, Monster Jelly menawarkan tiga paket investasi. Pertama, paket gerobak dengan investasi Rp 12 juta. Dalam paket ini, mitra hanya menjual minuman saja.

Adapun fasilitas yang didapat mitra terdiri dari gerobak lengkap dengan peralatan masak, bahan baku, dan pelatihan dari kantor pusat. Estimasi omzet Rp 500.000 per hari atau Rp 15 juta per bulan.

Dengan laba 20%-30%, mitra balik modal dalam waktu tiga sampai empat bulan. "Untuk paket ini sasaran konsumennya anak sekolah mulai dari SD, SMP dan SMA," jelas Paksi.

Kedua, paket dengan inves¬tasi Rp 20 juta. Mitra mendapat gerobak dengan ukuran lebih besar dari paket pertama. Selain itu, ada juga peralatan masak dan pelatihan.

Selain minuman, mitra yang mengambil paket ini juga menjual aneka makanan. Estimasi omzet Rp 1 juta per hari, dan balik modal sekitar satu sampai dua bulan. Pangsa pasarnya juga anak sekolah. Ketiga, paket dengan investasi Rp 350 juta.

Paket ini mengusung konsep restoran. Tempatnya bisa di ruko ataupun di tempat-tempat strategis lainnya termasuk di mal. Dengan investasi sebesar itu, mitra akan menjual aneka minuman dan makanan, seperti jamur goreng, ayam goreng, nasi goreng, aneka cemilan, dan kentang goreng.

Gerai mitra juga akan direnovasi total. Selanjutnya mitra juga akan mendapat meja, sofa, dan kursi. Kantor pusat akan menyiapkan semua fasilitas, sehingga mitra siap mengoperasikan gerai miliknya.

Mitra juga akan mendapatkan peralatan memasak. Estimasi omzet sekitar Rp 100 juta per bulan, dengan laba 20%-30% dari omzet. Kantor pusat akan memungut management fee 10% dari laba bersih. Mitra balik modal sekitar satu sampai dua tahun.

Erwin Halim, Konsultan dan pengamat waralaba dari Proverb Consulting menilai, Monster Jelly sudah cukup dikenal di segmen pasar menengah ke bawah. Pasalnya, saat awal usaha ini berdiri, harga paket investasinya sudah membidik konsumen menengah bawah.

Target pasarnya pun seperti itu. Maka, kemungkinan akan sulit mengembangkan paket restoran dengan harga Rp 350 juta. Ia menilai, paket Rp 12 juta dan Rp 20 juta masih akan berkembang.

Potensi pasar di kelas itu masih sangat besar. "Daerah-daerah kecil bisa menjadi pasar baru bagi Monster Jelly," ujarnya. Namun, ia mengingatkan, persaingan bisnis makanan minuman sudah ketat. Selain kualitas makanan, mitra harus pintar mencari lokasi strategis yang sesuai segmen pasar.

Monster Jelly
Jln. Gayung Kebun Sari, Blog G No. 2,
Surabaya, Jawa Timur
HP: 087777701106

Sumber : Kontan, Kamis 5 Juli 2012
                Noverius Laoli, Revi Yohana          

Tuesday, June 19, 2012

Mengisi pundi-pundi dengan gerai isi ulang tinta Printer


Anda tertarik menjajal bisnis isi ulang tinta printer? Ada tawaran kemitraan dari NextPrint. Investasinya tidak gede-gede amat, kok, mulai Rp 15 juta hingga Rp 30 juta. Anda bisa mengantongi omzet Rp 300.000-Rp 1 juta per hari dengan margin laba mencapai 50%.

Saat ini, printer sudah menjadi kebutuhan pokok bagi para pengguna komputer. Seiring dengan itu, bisnis pengadaan tinta printer pun makin menjanjikan.

Peluang itu juga yang NextPrint, perusahaan penyedia isi ulang tinta printer (refill), tangkap. Layanan isi ulang tinta printer mereka melibatkan perusahaan tinta asal Korea Selatan.

NextPrint mengklaim, memiliki formula tinta spesial yang dapat memaksimalkan kualitas hasil printer. Berdiri tahun 2008, mereka mulai menawarkan kemitraan pada 2010 lalu.

Irwan Widjaja, Chief Marketing Officer NextPrint, mengatakan, hingga saat ini perusahaannya telah memiliki 38 mitra dan satu cabang kepunyaan sendiri. Mitra tersebar di Sumatra, Jawa, serta Kalimantan.

Anda tertarik menjadi mitra NextPrint? mereka menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket dengan investasi sebesar Rp 15 juta. Dengan uang sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu paket tinta, compatible, catridge, toner, compatible toner, kertas, dan spanduk.

Dalam paket ini, estimasi omzet mitra sekitar Rp 300.000 per hari dengan laba 50%. Mitra yang berminat harus menyediakan printer minimal dua unit, laptop satu unit, meja, rak printer, dan lainnya.

Kedua, paket dengan investasi sebesar Rp 30 juta. Mitra yang mengambil paket ini akan mendapat fasilitas yang sama dengan paket pertama. Tapi, jumlahnya dua kali lipat lebih banyak.

Sama halnya dengan paket pertama, mitra juga wajib memiliki komputer, printer, dan segala kebutuhan untuk printer. Perkiraan omzet paket ini berkisar Rp 300.000 - Rp 1 juta per hari dengan laba juga sekitar 50%.

Dengan laba sebesar itu, mitra dijanjikan akan balik modal selama empat bulan pasca-membuka usaha. Untuk memudahkan mitra, NextPrint tidak membatasi masa kontrak dan juga tidak memungut royalty fee.

Adapun harga jual tinta di tempat ini bervariasi tergantung ukurannya. Untuk yang ukuran 100 mililiter dibanderol seharga Rp 30.000, lalu 200 mililiter Rp 50.000, dan ukuran 1 kg Rp 150.000.

Hanya, Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting, mengingatkan, perhitungan balik modal NextPrint belum termasuk biaya yang perlu dikeluarkan mitra untuk membuka usaha, lo, seperti printer, komputer atau laptop, dan sewa tempat. "Kalau ditambah peralatan, balik modalnya bisa satu setengah tahun," katanya.

Erwin menyarankan, mitra yang mengambil tawaran ini menggabungkannya dengan usaha lain, seperti toko komputer atau lainnya.


NextPrint Head
Ruko Business Park Blok B2
Jl. Peta Barat Kalideres,
Jakarta Barat
HP: 085781668727

Sumber : Kontan, 19 Juni 2012
   Noverius Laoli, Revi Yohana

Saturday, June 9, 2012

Peluang Piza Tak sehangat Dulu Lagi


JAKARTA. Piza jelas bukan makanan asli Indonesia. Tapi kita tak bisa menututup maya bahwa makanan ini popular dadn dapat diterima dengan baik oleh banyak kalangan.
            Bahkan kini penjaja pizza bertebaran mulai dari kelas premium hingga kaki lima. Alhasil, makanan asli Italia ini telah sejajar dengan burger, kebab, dan makanan impor yang lain.
            Penjaja pizza ini beberapa di antaranya merupakan waralaba. Umumnya mereka mengarap segemen pasar kelas menengah dengan menawarkan harga terjangkau. Beberapa tawaran waralaba pizza pernah diulas KONTAN.
Nah, bagaimana gambaran perkembanfan bisnis waralaba pizza tersebut sekarang? Berikut ulasannya”
Pizza Van Java
            Pada 2012 silam, KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan dari Pizza Van Java asal Cirebon, Jawa Barat. Kala itu, pizza Van java masih memiliki 11 gerai, delapan diantaranya milik mitra, kini, Pizza van java mengalami pertambahan mitra dari delapan mitra menjadi 11 mitra. Sementara gerai milik sendiri tetap tiga. Jadi cabang pizza Van Java kini ada 14 cabang, semuanya ada disekitar Cirebon, Jawa barat.
            Apik S Rizal, Manajer Pizza Van Java mengakui, pertumbuhan jumlah mitra dan bisnis Pizza Van Java tergolong lamban. Ia berdalih, pihaknya memang belum berencana melebarkan sayap bisnis ini keluar dari Cirebon.
            Untuk mempertahankan pasar dan meningkatkan jumlah mitra , Pizza Van Java berusaha menjaga kualitas produk.”Tujuannya agar pelanggan tidak lari ke tempat lain, dan adanya pelanggan baru,” papar Apik.
            Selain itu, Pizza Van Java juga gencar melakukan promosi lewat media online. Agar pelanggan terpikat, gerai pizza ini tidak menaikan harga yakni sebesar Rp 13.000-Rp 30.000 per loyang.
            Pun begitu biaya investasi juga tidak mengalami perubahan. Pertama, paket investasi Rp 25 juta. Dipaket ini, mitra akan memperoleh fasilitas pelatihan karyawan selama tiga hari, satu unit booth lengkap dengan peralatan masak. Lalu ada bahan baku awal, paket promosi, frezer dan seragam.
            Kedua, paket investasi Rp 75 juta. Untuk paket ini, selain fasilitas seperti paket pertama, juga ada tambahan bonus alat produksi pizza dan hak supplier Pizza Van Java, termasuk tiga unit boks motor.
            Dengan masa kerjasama selama mlima tahun, Apik mengatakan, mitra paket kedua juga berhak menjadi master franchise .” Omzet rata-rata mitra saat ini stabil di angka Rp 600.000 sampai Rp 850.000 perhari,”ujar Apik.
            Salah satu menu andalan Pizza van java adalah Fruit Javanesse Pizza. Menu ini memiliki khas topping buah buahan tropis. Seperti. Seperti pisang, jeruk, juga jagung.
Piramizza
            Pebisnis pizza lain adalah Piramizza yang berdiri sejak 2007 di Surabaya. Berbeda debgab tampilan kebanyakan pizza di pasaran, Piramizza mengusung pizza berbentuk es krim yang menarik.
            Ide pizza berbentuk es krim ini dicetuskan Ramadhan Yasmanto. Namun di tengah jalan manajemen Piramizza diambil alih PT Baba Rafi Indonesia dan sejak Agustus 2008 mereka menawarkan waralaba.
            Saat KONTAN mengulas Piramizza pada November 2008 lalu, Piramizza baru memiliki lima gerai milik sendiri di Surabaya. Kala itu, mereka menawarkan kemitraan dengan investasi senilai Rp 200 juta, untuk lima booth sekaligus. Selanjutnya operasional dijalankan sepenuhnya oleh franchisor. Dengan asumsi omzet Rp 400.000 per hari atau Rp 12 juta per gerai per bulan, mitra bisa balik modal dalam 17 bulan.
            Hendy Setiono, pemilik PT Baba Rafi Indonesia yang bertanggung jawab atas waralaba ini, mengatakan, sejak tahun 2010 peminat kemitraan Pirramizza cukup banyak. Akhirnya mereka mengubah paket investasi yang ditawarkan menjadi paket booth senilai Rp 45 juta, belum termasuk sewa tempat.
Dengan paket sebelumnya yakni investasi Rp 200 juta tersebut, Baba Rafi mampu membuka 30 gerai Piramizza. Kini, dengan tambahan paket booth Rp 45 juta, Piramizza sudah berkembang pesat dan memiliki 70 gerai di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Medan. "Dari total gerai ini, hanya 20% milik sendiri sedangkan sisanya milik mitra," ujar Hendy.

Menurut Hendy, dengan harga jual piza rata-rata Rp 15.000 per loyang, mitra bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 15 juta per bulan. Tapi, Piramizza mengenakan royalty fee 5% dari omzet.

Mitra bisa memperoleh laba bersih sekitar 25% dari omzet. "Balik modalnya kami perkirakan 1,5 tahun," jelasnya.

Hendy mengatakan, pihaknya akan akan terus mengembangkan produk piza Piramizza ini lewat beberapa inovasi. Prospek bisnis piza yang cukup bagus membuatnya optimistis bahwa target penambahan 30 gerai di tahun ini akan tercapai.

Rencananya, Hendy akan memboyong Piramizza ini ke Malaysia, seperti yang ia lakukan pada dua merek waralaba milik Baba Rafi sebelumnya yakni Kebab Turki dan Ayam Bakar Mas Mono.
Papa Ron's
            Papa Ron’s Pizza merupakan salah satu waralaba lokal yang cukup terkenal di kota-kota besar di Indonesia. Anak usaha PT Eatertainment Indonesia Tbk ini, memulai bisnisnya di tahun 2000. Dua tahun berselang, mereka menawarkan waralaba. Berbeda dengan gerai piza impor, Papa Ron's lebih menyasar kalangan menengah bawah.
            Pada tahun 2007, KONTAN pernah menulis waralaba Papa Ron's Pizza. Kala itu, jumlah gerainya sebanyak 46 cabang. Namun, tahun 2010 menyusut menjadi 34 gerai.
            Rupanya, sejak tahun 2007 sampai 2010, Papa Ron's telah menutup sebanyak 12 gerai, karena berbagai persoalan seperti tidak mendapat perpanjangan izin sewa tempat, atau pun mitra tidak lagi memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan kantor pusat. "Namun selain menutup gerai, kami juga membuka gerai baru," kata Noragraito, General Manager Papa Ron's.
            Pada pertengahan tahun 2012 ini, gerai Papa Ron's kembali menyusut. Saat ini jumlah gerainya sebanyak 33 yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia. "Sebenarnya jumlah gerai kami ada 36 cabang, tapi tiga cabang yang berlokasi di Medan sedang bermasalah dengan kami, jadi kami tidak hitung," ujar Noragraito.
            Bagi calon investor yang berminat membuka gerai di suatu wilayah, Papa Ron's mensyaratkan investor harus merupakan penduduk lokal di wilayah masing-masing. Maklum, selain lebih mengetahui wilayahnya, ia berharap investor bisa terjun langsung membesarkan usahanya.
            Noragraito bilang, investor harus menyediakan dana investasi antara Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Selain itu, manajemen juga akan memungut biaya royalti sebesar 5% dan fee sebesar US$ 25.000 untuk masa kerja sama delapan tahun. "Jika mereka menjalankannya dengan benar, dalam waktu 3,5 tahun modal sudah pasti kembali," ujarnya. Sejak 2010 sampai saat ini biaya investasi tersebut belum mengalami perubahan.
            Untuk mempertahankan pangsa pasar, Papa Ron's konsisten mempertahankan kualitas produk. Sehingga semua produk piza yang dijual di gerai Papa Ron's milik mitra memiliki kualitas yang sama. Manajemen Papa Ron's rajin mengevaluasi mitra, kalau tidak bisa ikut standar maka akan diputus.

Peluang Piza Murah Lebih Besar
WARALABA dan kemitraan piza di Indonesia memiliki pasar yang masih cukup luas. Terutama di segmen menengah kebawah yang masih tergolong awam terhadap raa makanan ini. Karenanya, makanan ini bisa dimodifikasi dan dikenalkan ke mayarakat dengan murah. Bisnis ini sudah banyak digarap oleh pewaralaba piza lokal yang menawarkan investasi dengan nilai nominal tak terlalu besar.
            Menurut pengamat waralaba dari Proverb Consulting Erwin Halim, piza yang menyasar pasar kelas mengah bahwa menembus pasar yang ada saat ini pun bukanlah perkara mudah. “Mungkin masih banyak masyarakat yang tidak terbiasa dengan piza, sebab ini kan makanan khas Eropa, sementara kita lidah Asia,”ujar Erwin.
            Untuk itu, pelaku usaha piza ini perlu lebih gencar melakukan promosi dan memberikan informasi yang banyak ke pasar mengenai produk dan brand yang mereka usung. Selain itu, pengusaha piza juga menyediakan varian rasa yang disesuaikan dengan keinginan konsumen. Pengusaha bisa memainkan rasa hingga harga tapi tetap pada taraf yang wajar dan terjangkau oleh masyarakat.”Terus mencari celah serta perbanyak keunikan,” imbuhnya.
            Erwin mengingatkan, bisnis ini berkaitan dengan lidah masyarakat karenanya selera masyarakat harus tetap diperhatikan. Jika pasar telah mengenal makanan serta rasanya, ditambah harga yang relatif terjangkau, bukan mustahil piza dengan harga murah diminati di kelasnya.

Sumber : Kontan, 9 Juni 2012 
               Noverius Laoli, Fahriyadi, revi Yohana Simanjuntak

Tuesday, June 5, 2012

Badan Bugar, Bisnis pun Jadi Melar


Lantaran peminnya banyak, usaha pusat kebugaran tubuh kian menjanjikan itu pula yang mendorong Six Pacjk Gym menawarkan kemitraan dengan investasi Rp 900 juta. Omzet mitra ditargetkan Rp 50 juta per bulan. Dengan Laba 70%, mitra bisa balik modal dalam waktu 16 bulan-18 bulan.


MEMILIKI tubuh bugar dan sehat tentu menjadi dambaan setiap orang. Apalagi ditopang tampilan tubuh yang atletis, tentu menamba keprcayaan disi seseorang. Untuk mendapatkan tubuh bugar dan sehat, kini banyak orang mendatangi tempay gym atau fitness. Karena peminatnya banyak, usaha pusat kebugaran tubuh kini tumbuh subur. Guna membesarkan usahanya, banyak pemilik pusat kebugaran membuka tawaran kemutraan atau waralaba. Yawaran terbaru datang dari Six Pack Gym di kemanggisan, Jakarta Barat.


                Usaha ini telah dibuka sejak 2010 dan mulai menawarkan kemitraan pada 1 juni 2012. Saat kini Six Pack Gym sudah memiliki dua gerai milik sendiri di Kemanggisan dan Bintaro Jakarta. “Tahun ini kami targetkan bisa minimal mitra, ujar Co-Founder Six Pack Gym, Djoko Kurniawan.Tawaran kemitraan ini hanya berlaku bagi mitra di luar Jabodetabek. Sebab, untuk pembukaan cabang di wilayah Jabodetabek akan ditangani seluruhnya oleh pihak pusat.


                Six Pack Gym menawarkan paket kemitraan dengan investasi Rp 900 juta. Investasi itu sudah termasuk biaya pengunaan merek dan masa kerjasama selama tiga tahun sebesar Rp 125 juta. Untuk fasilitas, mitra akan mendapatkan pasokan peralatan gym hingga 33 buah.Mitra juga akan mendapatkan sistem operasional dan pelatiha karyawan. Bagi yang berminat, harus menyediakan tempat dengan luas bangunan minimal 200-250 meter persegi. Biaya fitness di Six Pack Gym ditetapkan berdasarkan lama berlangganan. Yakni, satu bulan, dan dua belas bulan.


                Untuk anggita yang hanya ingin mencoba satu bulan di kenakan biaya Rp 253.000. Sementara anggota yang ingin berlangganan selama duabelas bulan hanya dikenakan biaya Rp 160.000. Dengan biaya tersebut, pelanggan bebas menggunakan seluruh peralatan fitness. “Kami juga membuka kelas-kelas dan member tak perlu membayar lagi,” ujar Djoko.

                Kelas yang disediakan di antaranya kela hypnotheraphy, chi kung, dan taekwondo. Selain itu, ada juga kelas umum seperti yoga, aerobic, dan cha cha dance. Kelas akan dibuka setiap hari. Sementara jam buka fitness mulai pukul 06.00 hingga 23.00 malam.Djoko memperkirakan, omzet mitra Rp 50 juta-60 juta per bulan. Laba bersihnya 70% dari omzet. Dengan royalty fee 5% dari omzaet, mitra ditargetkan balik modal dalam waktu 16-18 bulan.


                Pengamat Waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim menilai, konumen pusat-pusat kebugaran hanya terbatas di kalangan menengah atas. Karena konsumennya terbatas, calon mitra hanya jeli memilih lokasi dan pangsa pasar.Selain lokali, besarnya biaya investasi juga harus dipertimbangkan. Mitra harus memperhitungkan lamanya waktu balik modal dengan masa kerjasama.Jangan sampai baru meraup untung sedikit, tapi masa kontrak sudah habis. Apalagi jika brand kemitraan ini belum terlalu kuat.”Faktor branding dan lamanya kontrak sangat mempengaruhi keberhasilan mitra,” papar Erwin.

Six Pack Gym
Jl. Kemanggisan Raya B4B
Batusari, Jakarta barat 11480
Telp : 021 – 5367 5599

Sumber : Kontan, Selasa 5 Juni 2012
   Revi Yohana S, dan Noverius Laoli

Saturday, May 26, 2012

Bisnis donat masih tetap mantap


Donat adalah salah kudapan favorit masyarakat Indonesia. Berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya, donat terkenal hingga pelosok negeri ini. 

Selain karena rasanya yang manis dan gurih, harga donat yang menjangkau kocek masyarakat menjadi alasan donat menjadi salah satu penganan favorit. Tak pelak, bisnis donat tetap mantap hingga kini. Hal ini terungkap dari sejumlah pewaralaba bisnis donat yang usahanya pernah diulas KONTAN sebelumnya.

Mereka mengaku usahanya mengalami pertumbuhan yang bagus setelah beberapa tahun terjun dan menekuni bisnis ini. Indikasinya, jumlah gerai dan mitra mereka yang semakin bertambah banyak. Berikut perkembangan bisnis donat mereka.

P-Do Donat Kentang
Usaha donat dengan nama P-DO kepanjangan dari Potato Donut yang bermarkas di Pulo Gadung Trade Center, Jakarta Timur ini berdiri tahun 2007 silam. Tak lama kemudian, P-DO menawarkan kemitraan.

Tak dinyana, peminatnya ternyata cukup banyak. Pada Juni 2010 silam, saat KONTAN mengulas tawaran kemitraan dari P-DO, mereka baru memiliki 10 gerai milik mitra dan 12 gerai milik sendiri. Namun tahun 2011 silam, jumlah gerai P-DO sudah mencapai 30 gerai dan pada tahun 2012 ini, P-DO sudah memiliki sebanyak 50 gerai. Dari jumlah tersebut, enam gerai di antaranya milik sendiri.

Fariko Ngantung, Kepala Marketing P-DO menuturkan, pihaknya beberapa tahun terakhir mengurangi jumlah gerai milik sendiri dari sebelumnya 12 gerai menjadi enam gerai. "Kami sengaja mengurangi gerai milik kami dan memberi kesempatan mitra untuk mengembangkan usaha mereka," papar pria yang akrab disapa Riko ini.

Saat ini, mitra P-DO tersebar di wilayah Jakarta, Depok, Bekasi, Cibinong, Bogor, Tangerang, Cileungsi dan Bandung. Rico bilang meningkatnya jumlah mitra P-DO tak terlepas dari strategi marketing yang baik.

Ia bilang, P-DO tetap berusaha mempertahankan kualitas rasa donat yang dijual. Selain itu, selama dua tahun lebih, P-DO tidak menaikkan harga donat sebesar Rp 2.000. "Jadi kami rela mengurangi untung asal harga tidak naik," papar Riko.

Bukan itu saja, P-DO juga tidak mengutak-atik biaya investasi bagi mitra tetap sebesar Rp 6 juta dan Rp 11 juta. Pada paket Rp 6 juta, terwaralaba tidak mendapatkan mixer pembuatan donat. Sementara pada paket Rp 11 juta mitra mendapatkan pelatihan pembuatan donat, booth, mixer pembuatan donat, penggorengan listrik, cool box, dan tempat displai donat.

Kunci sukses lainnya, P-DO juga tetap menjadikan lokasi sebagai pertimbangan penting bagi calon terwaralaba. Selama ini, terwaralaba P-DO banyak membuka gerai di pusat perbelanjaan. Nah, di setiap pusat perbelanjaan hanya boleh ada satu gerai donat P-DO. "Kalau untuk kios, paling tidak radius jarak satu gerai dengan gerai lainnya sekitar 3 kilometer," kata Riko.

Donat Bakar
Kemitraan Donat Bakar yang berada di bawah bendera Java Donut juga berkembang. Pada April 2009 lalu, KONTAN sudah mengulas Donat Bakar. Saat itu, Donat Bakar memiliki 14 gerai.

Namun setelah berselang tiga tahun lebih, jumlah gerai Donat Bakar saat ini sudah menjadi 50 gerai, dua di antaranya adalah milik sendiri. Iwan Abu Shalih, pemilik Donat Bakar mengakui, sejatinya tidak semua mitranya mulus dalam menjalankan gerai.

Ia menuturkan, total seluruh gerainya dari tahun 2008 sebetulnya mencapai 73 gerai. Namun, sekitar 23 gerai tutup. "Ada beberapa yang berpikir usaha itu mudah, maunya instan sehingga tidak bisa bertahan," ujar Iwan.

Maka itu, ia tak segan memutuskan hubungan kerja sama jika si mitra tidak menjalankan kemitraan sesuai aturan main awal. Misalnya, membuka gerai baru tanpa sepengetahuannya. Kendati ada yang gulung tikar, Iwan bilang, seluruh mitranya yang bertahan hingga kini telah balik modal.

Menurut Iwan, penambahan jumlah mitra paling banyak berada di kawasan Solo, daerah asal Donat Bakar, juga Bekasi. Di luar Jawa, Donat Bakar berkembang di Samarinda dan Tarakan.

Harga paket yang ditawarkan Donat Bakar untuk perorangan masih sama, yakni paket senilai Rp 7 juta untuk kawasan Jawa. Mitra akan mendapatkan satu unit booth, peralatan masak, bahan baku untuk 100 donat, dan bermacam topping. Mitra juga akan dilatih mengembangkan bisnisnya termasuk berpromosi.

Selain paket Rp 7 juta, kini Iwan juga menambahkan tawaran paket bagi yang sudah memiliki booth sendiri, dengan investasi Rp 5 juta per paket.

Bagi mitra yang berada di luar Jawa, Iwan masih menawarkan paket investasi untuk menjadi koordinator wilayah. Tapi harganya telah naik. Dulu harga koordinator luar Jawa sebesar Rp 27,5 juta, kini telah menjadi Rp 30 juta. Berbeda dengan mitra di Jawa yang mendapatkan pasokan bahan baku dari Iwan, mitra yang berada di luar Jawa akan dibantu untuk memproduksi sendiri donatnya.

Harga donat yang dijual pun masih sama, yakni Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per donat. Namun, ada pula mitra yang menambahkan harga Rp 500 - Rp 1.000 per donat dari harga standar, misalnya yang berada di kawasan Jakarta dan luar Jawa.

Kini Iwan tidak lagi agresif mencari mitra. Ia lebih fokus menjaga dan mengembangkan usaha mitranya. Itu sebabnya, ia hanya menargetkan penambahan jumlah mitra sebanyak 3 mitra saja di tahun ini. "Tujuan saya orang yang tidak punya usaha supaya bisa bekerja. bukan sekadar mencari investor," ujar Iwan.

Donat Madu Cihanjuang
Mulai berdiri sejak Mei 2010 di Cimahi, Donat Madu Cihanjuang menawarkan kemitraan sejak 2011 lalu. Pada Agustus 2011, tatkala KONTAN mengulas tawaran kemitraan gerai donat milik pasangan Ridwan Iskandar dan Fanina Nisfulaily ini, mereka baru memiliki empat mitra yang berada di Jabodetabek.

Kala itu, investasi yang ditawarkan sekitar Rp 10 juta untuk hak penggunaan mereka Donat Madu Cihanjuang dan mitra dipersilakan memenuhi peralatan operasional sendiri yang diperkirakan menelan biaya hingga Rp 20 juta.

Donat Madu hanya menyediakan bahan baku awal yang bisa ditebus dengan nilai Rp 7,5 juta untuk keperluan satu bulan. Dengan harga jual Rp 3.000 per potong, mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 900.000 per hari atau Rp 27 juta per bulan dengan balik modal antara lima sampai enam bulan.

Sekarang, Donat Madu Cihanjuang telah berkembang cukup pesat dalam waktu kurang dari setahun. Fanina Nisfulaily mengatakan, kini ia telah memiliki 14 gerai milik mitra dan enam milik sendiri. Gerai donatnya tersebut tersebar mulai dari Jabodetabek, Bandung, bahkan hingga Bali. "Responsnya cukup bagus sejauh ini," katanya.

Tapi, menurut wanita yang akrab disapa Nina ini, investasi yang ditawarkannya kini berubah naik menjadi Rp 20 juta. Untuk peralatan, mitra masih dibebaskan untuk menyediakannya sendiri. Menurut perhitungannya biaya peralatan itu mencapai Rp 25 juta untuk tiap gerai. 'Tak menutup kemungkinan biayanya bisa dua kali lipat jika mitra memilih peralatan yang bagus," imbuhnya.

Ia mengakumulasi jika ditambah bahan baku awal maka investasi minimum membuka gerai Donat Cihanjuang berkisar Rp 50 juta. Dari situ, Nina memprediksi omzet mitra bisa mencapai Rp 40 juta per bulan jika lokasinya strategis. "Dalam tiga sampai lima bulan sudah bisa balik modal," katanya.

Ia juga mengaku tak ada royalty fee yang diterapkan gerai donatnya ini. Dus, Nina memastikan omzet mitra menjadi lebih besar dengan kebijakan tersebut.

Soal variasi produk, Donat Madu terbilang beragam. Saat ini, Donat Madu sudah memiliki 60 variasi donat yang tiap gerai berbeda-beda tergantung selera pasar yang berkembang di daerah itu.
Kuncinya Kualitas Rasa dan Variasi Produk
MENYANTAP donat sembari menyeruput kopi pasti terasa nikmat. Apalagi, jika kegiatan tersebut telah menjadi rutinitas setiap hari sebelum melakukan aktivitas. Maka tak heran, bila gerai donat di mal atau pinggir jalan selalu ramai diserbu pengunjung.
Erwin Halim, Konsultan Waralaba dari Proverb Consulting mengatakan, pertumbuhan bisnis donat tak terlepas dari pangsa pasar donat yang besar di Indonesia. Terutama bisnis donat dengan investasi rendah dan terjangkau, “Apalagi prosuk jenis makanan masih menempati peringkat teratas jenis produk yang paling diminati ,”ujarnya.
Ia bilang, kemitraan donat dengan investasi rendah membuat orang berani membuka bisnis ini. Alasannya, biaya investasi yang rendah dapat menjangkau kocek sebagian besar masyarakat. Selain itu, resiko yang di ambil juga tidak terlalu besar.
Tapi agar pemain di bisnis ini dapat bersaing, mereka harus melakukan inovasi produk serta selalu menawarkan sesuatu yang baru dan berkualitas. Maka pelaku usaha sebaiknya rajin-rajin melakukan riset kecil-kecilan ke para konsumen, soal rasa donat macam apa yang mereka inginkan.
Sebab, bisnis makanan donat yang lebih menyasar kalangan menengah ke bawah, kualitas rasa produk lebih menjadi pegangan, berbeda dengan bisnis donat dengan investasi besar, konsumennya lebih mengutamakan suasana yang menyenangkan, baru kemudian kualitas produknya. “Konsumen dengan pangsa pasar kelas menengah ke atas lebih sensitif pada situasi. Sebagian besar konsumen tidak membeli donatnya, tapi suasanannya,”paparnya.
Sumber : Kontan 26 Mei 2012
Oleh Noverius Laoli, Fahriyadi, Revi Yohana