Friday, March 8, 2013

Resiko membangun usaha dengan modal KTA


PERTANYAAN:
Yth. Pak Erwin
Saya seorang karyawan di salah satu perguruan tinggi swasta. Saat ini saya bersama beberapa tema di lingkungan saya sudah menjalankan usaha catering. Biasanya saya mendapat order dan setelah dapat order baru saya kerjakan usaha catering saya bersama teman-teman dikarenakan saya juga bekerja.

Saya mendengar dari teman ada proyek untuk catering event organizer (EO). Namun mengingat EO tersebut mempunyai order lebih besar dari yang pernah saya kerjakan dan hanya memberikan uang muka sebagian, saya tidak dapat memenuhi pesanan tersebut. Maklum, dana saya terbatas untuk membeli peralatan masak, berbelanja bahan makanan dan menggaji pegawai.

Sayan ingin mengambil kredit tanpa agunan (KTA) dari perbankan. Apakah tepat menjalankan usaha bermodal KTA? Apa saja yang harus dipersiapkan jika ingin lebih professional di bisnis catering?
Diana,
Kebun jeruk, Jakarta Barat
JAWABAN
Dear Ibu Diana
Tentunya tidak mudah untuk menjalankan bisnis sambil bekerja. Namun saya melihat jiwa entrepreneurship dalam diri Ibu. Mengingat ibu masih bekerja tentunya pekerjaan ini juga belum dapat dijalankan secara penuh waktu.

Sasaran Ibu untuk menjadi rekanan catering EO menurut saya cukup bagus. Karena tidak perlu meninggalkan pekerjaan karena EO biasanya mendapat order pada sabtu dan minggu. Namun kalau pesanan datangnya tidak pada hari libur tersebut, menurut cerita Ibu, Ibu mendapat dukungan dari teman-teman di lingkungan.

Yang pasti kalau Ibu ingin memperbesar bisnis Ibu menjadi lebih professional, harus bisa mulai focus kepada bisnis ini. Saya menyarankan sebaiknya ibu jangan sampai melepaskan kesempatan menjadi rekanan catering EO. cobalah bernegoisasi dengan mereka agar mau memberikan uang muka lebih besar dan mempercepat dalam lakukan pembayaran.

Kalau calon rekanan tersebut ibu kenal, cobalah ceritakan masalah Ibu agar ibu tidak perlu melakukan pinjaman dari bank. Namun beri rekanan ibu sedikit insentif misalnya dengan menambahkan porsi sebagai imbalan, tapi jangan beri diskon. Agar pada waktu Ibu tidak dibayar dengan porsi yang besar pada suatu waktu, ibu tidak perlu memberikan diskon.

Pertanyaan Ibu untuk mengambil KTA, sebenarnya tidak kamu sarankan untuk jangka yang panjang karena bunga KTA relative lebih tinggi. Namun kalau melihat rencana Ibu Diana untuk menjadi rekanan catering EO tentunya pengembalian uangnya menjadi bisa lebih cepat. Karena itu, Ibu harus memperhatikan waktu antara pinjaman KTA, pembayaran dari rekanan, serta waktu pengembalian. Kalau Ibu belum yakin jangan terlalu banyak mengambil proyek dari EO. Kerjakan sesuatu yang pasti-pasti saja.

Mengenai bagaimana cara menjadi professional dalam bisnis, banyak sekali yang harus Anda persiapkan. Mulailah belajar dari bisnis yang kecil dulu. Misalnya pesanan-pesanan yang kecil dan dapat ibu tangani dulu.

Usul saya sebaiknya Ibu banyak outsource tenaga kerja, karena bisnis Ibu by event. Pengetahuan tentang memasak,penyajian makan dan manajemen tenaga kerja yang banyak perlu ibu pelajari dan ketahui dengan baik.

Banyak bisnis catering yang mulai dari kecil, namun sekarang sudah berhasil menjadi perusahaan catering yang besar. Kunci suksesnya menurut saya ada pada service. Service kepada rekanan Ibu dan khususnya pelanggan.

Karena jika pelanggan Ibu merasa puas akan membuat order kepada usaha catering Ibu tetap jalan. Jangan lupa juga promosi dalam event yang sedang ibu isi dengan menyediakan kartu nama dan pengenalan brand bisnis catering ibu.
Selamat mencoba, semoga berhasil!


Sumber : Kontan 8 maret 2013

Saturday, March 2, 2013

Bisnis Ayam Goreng Masih Renyah


JAKARTA. Ayam goreng berbalut tepung menjadi salah satu menu andalan pengusaha makanan cepat saji. Meski banyak jenis makanan baru bermunculan, makanan yang akrab dengan sebutan fried chicken ini bisa dibilang menjadi salah satu jawara lantaran punya banyak penggemar.  

Ayam goreng tepung memang menggoda selera dari kalangan menengah bawah yang punya pasar luar biasa besar. Rasa gurih dan renyah daru lapisan tepung yang membalut daging ayam menjadi daya tarik anak-anak hingga remaja.

Menu makanan yang satu ini juga menjadi pilihan bagi orang yang memiliki waktu terbatas. Maklum, untuk menyantapnya, tidak membutuhkan waktu lama. Wajar bila banyak restoran cepat saji yang mengandalkan menu ini terus bertumbuh hingga kini.

Agar pembaca bisa menghitung prospek dan potensi bisnis ini, KONTAN mengulas tiga merek usaha yang mengusung menu andalan ayam goreng tepung, yaitu Quick Chicken, Red Chicken dan Rocket Fried Chicken.
Gerai ketiga usaha ini masih terus bertumbuh. Bahkan, dua diantaranya tumbuh signifikan. Ketiga brand usaha ini mampu bersaing, lantaran membidik pasar menengah ke bawah yang terbilang besar. Simak ulasannya: 

Quick Chicken

Quick Chicken berdiri sejak tahun 2000 di Yogyakarta. Pemiliknya mulai menawarkan kemitraan sejak 2008 silam. Brand yang satu ini sudah cukup dikenal masyarakat, karena gerai merek ini banyak dan telah tersebar di berbagai kawasan. 

Saat KONTAN mengulas usaha ini April 2011, gerai Quick Chicken 146." Kini sudah ada total 229 gerai," kata Indra Sofyan, Franchise and Marketing Manager Quick Chicken. Sebanyak 72 gerai milik pusat, selebihnya milik mitra. 

Semula, Quick Chicken hanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, dalam setahun terakhir,  cukup banyak gerai yang dibuka di Jabodetabek, Kalimantan dan Sulawesi. Menurut Indra, selain karena promosi, gerai terus bertambah karena pihaknya menjaga ketat penerapan standar operasional setiap gerai. 

"Kami fokus pada pengembangan internal. Jika operasional baik, maka pengunjung pasti ramai. Baik pelanggan maupun calon mitra tentu akan tertarik," kata Indra.
Strategi lainnya, dengan memberikan harga yang kompetitif. Bagi pelanggan, Quick Chicken menawarkan paket mulai dari Rp 8.500 untuk satu paket nasi, ayam goreng tepung, serta minuman. 

Sementara, bagi calon mitra, harga paket investasi pun telah dipangkas menjadi lebih murah. Sebelumnya, Quick Chicken menawarkan paket investasi sebesar Rp 316 juta. Ini sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta selama 5 tahun, peralatan, bahan baku awal, renovasi dan opening fee. 

Sekarang, paket investasi diturunkan menjadi Rp 297 juta "Harga franchise fee sebetulnya naik, tapi kami bisa menekan harga beli perlengkapan dan renovasi karena membeli dalam partai besar," papar Indra. 

Quick Chicken menargetkan tahun ini bisa menambah 40 mitra. "Dalam dua bulan pertama, target tersebut telah tercapai 15% atau sudah ada 6 mitra baru," klaim Indra.

Red Chicken

Red Chicken merupakan kemitraan ayam goreng tepung yang awalnya berdiri di Semarang pada 2009. Setahun kemudian, pemilik Red Chicken, Muhammad Mashar, membuka peluang kemitraan untuk memperluas jaringan bisnisnya.

Ketika awal 2012 KONTAN mengulas kemitraan ini, sudah ada enam gerai Red Chicken yang dimiliki oleh mitra, selain satu gerai milik sendiri.Hanya dalam setahun, gerai ini berkembang pesat, hingga memiliki total 33 gerai saat ini. Sepuluh di antaranya milik Mashar. Gerai tersebut tersebar di Surabaya, Cirebon, Semarang, Bandung, Pematang Siantar, dan Palembang. 

Mashar optimistis, selama ayam goreng citarasa Barat masih dinikmati masyarakat, bisnis ayam goreng miliknya akan terus berkibar. Apalagi, Mashar menyajikan ayam goreng tepung dengan harga yang relatif murah. Sampai sekarang, dia belum menaikkan harga jual produk. Satu potong ayam dijual berkisar Rp 4.000-Rp 7.000.

Dia bilang, lantaran Red Chicken menyasar konsumen  kelas menengah, bisnis ini punya banyak pesaing. Jadi, Mashar tidak berani mengambil resiko penurunan omzet mitra, jika mengerek harga jual produk.
Dengan harga jual yang sama, dia yakin, mitra bisa mengantongi omzet mulai dari Rp 220.000 hingga Rp 1,7 juta dalam sehari. Artinya, saban bulan mitra bisa meraup omzet berkisar Rp 6,6 - Rp 51 juta. Setelah lima tahun berjalan, mitra wajib membayar royalty fee 5% dari omzet. 

Sejauh ini, paket investasi yang ditawarkan Red Chicken tidak berubah dibandingkan tahun lalu. Red Chicken menawarkan enam paket pilihan, yakni paket mini konter senilai Rp 3,8 juta. Lalu, paket becak senilai Rp 6 juta. Paket booth dengan investasi Rp 6,8 juta. Paket motor roda tiga sebesar Rp 9,8 juta. Paket corner senilai Rp 19,8 juta. Adapun paket termahal, full resto dengan biaya Rp 68 juta.

Mashar mengklaim, keberhasilannya menggaet mitra juga didukung banyaknya pilihan paket yang ditawarkan. "Kebanyakan mitra tertarik beli paket mini konter, karena investasi yang relatif terjangkau," ujarnya.

Pria asli Semarang ini tidak menargetkan pertambahan jumlah mitra di tahun ini. Dia bilang, tahun ini ingin fokus memperbaiki kualitas produk. Dia akan menambah produk minuman, seperti es teh di setiap gerai Red Chicken.

Rocket Fried Chicken

Meski tidak secepat dua brand sebelumnya, namun bisnis Rocket Fried Chicken (RFC) asal Bandung masih menunjukkan pertumbuhan. Tahun lalu, RFC memiliki 70 gerai, di mana 60 gerai merupakan milik mitra. Tahun ini, RFC baru menambah lima gerai milik mitra. 

Marketing Franchise RFC Reno Syafrudin bilang, pertumbuhan agak lambat lantaran banyak kompetitor baru bermunculan di Bandung.

Menurut Reno, setidaknya ada dua brand franchise ayam goreng krispi baru yang hadir di Bandung. Keduanya menjadi kompetitor kuat RFC. "Mereka bahkan menawarkan paket waralaba yang lebih murah. Tapi, saat ini, kami belum berencana mengubah harga jual produk maupun paket franchise," katanya.

RFC menawarkan 4 paket investasi. Paket pertama, kios 24 meter persegi (m2) dengan investasi Rp 65 juta. Lalu, paket ruko 40 m2 sebesar Rp 105 juta. Paket mini cafe 80 m2 senilai Rp 165 juta, dan paket resto 120 m2 dengan investasi Rp 225 juta. 

Mitra akan dibekali dengan hak penggunaan merek Rocket Fried Chicken, manajemen dan sistem franchise yang teratur, dukungan survei dan training dari pusat, bahan baku, promosi, dan resep. 

Reno tidak mengubah besaran paket investasi, lantaran dia masih yakin bisnis ini menarik dan memberi keuntungan bagus. Asal tahu saja, target konsumen dari RFC cukup besar, yaitu dari kalangan menengah ke bawah. Harga menunya sangat terjangkau, yaitu berkisar Rp 6.000 hingga Rp 7000.
Mitra diharapkan bisa balik modal dalam 10-26 bulan. "Bahkan di Tolitoli, Sulawesi Tengah sudah ada yang balik modal dalam 6 bulan," klaim Reno. 

Kata Reno, supaya target balik modal tercapai, ia menyarankan mitra membuka gerai di lokasi yang belum  ada kompetitor. Selain itu, tempat juga harus cukup luas, agar bisa menarik konsumen yang betah nongkrong berlama-lama di gerai RFC. 

Unik Saja Tak Cukup, Pelanggan Harus Puas

bisnis waralaba ayam goreng masih menjanjikan. Maklum, masakan ayam goreng punya jutaan penggemar. Hanya saja, kata Konsultan Waralaba dari Proferb Consulting Erwin Halim, pemain di bisnis ini harus fokus pada keunikan produk supaya bisa tetap menggaet pelanggan.

Makanya , masing-masing pemilik merek waralaba ayam goreng harus mampu menonjolkan ciri khasnya. Jika tidak, usaha mereka akan mudah tergerus oleh kompetitor . “bumbunya harus beda dari pesaing,” ujarnya. Selain itu, para pemilik bisnis harus memperhatikan servis kepada pelanggan yakni cepat sekaligus nyaman.

Erwin memberikan ilustrasi pemain besar seperti KFC, A&W asal Amerika serikat bisa tumbuh besar karena punya keunikan. Mulai dari rasa dan pelayanan ke pelanggan. Makanya, mereka dapat dengan mudah menjaring pelanggan.Dalam sistem waralaba, kata Erwin penambahan jumlah gerai bukan satu-satunya ukuran bisnis tersebut dibilang maju. “Itu penting jadi suatu indikator. Tapi ada indikator lain, yakni bertahan atau bisa tidaknya bisnis ini dijalankan mitra,”kata Erwin.

Makanya, pemilik waralaba harus mendampingi calon mitra sebelum dan selama kerjasama terjalin.”Bukan apa-apa, banyak mitra yang ternyata kecewa setelah pelayanan pemilik waralaba dianggap tidak memuaskan,”imbuh Erwin. Banyaknya pilihan paket investasi juga bisa mempengaruhi pertumbuhan gerai. Untungnya, waralaba ayam goreng bervariasi, mulai dari paket Rp 6 juta, hingga Rp 55 juta untuk ukuran semi restoran.


Sumber : Kontan, 2 Maret 2013
             Revi Yohana, Marantina N, Pravita K, M. Noor Falih

Friday, February 22, 2013

Kiat Sukses Mengelola Bisnis Game Online

PERTANYAAN:
Pak Erwin,
Saya web based game developer dan pernah memasuki bisnis game online dengan tiga orang karyawan selama 1,5 tahun. Karena kekurangan konsumen, saya akhirnya menutup usaha saya.

Sekarang ini, saya ingin memulai lagi memasuki insdustri game, namun persaingan semakin ketat dan market semakin sempit. Bagaimana memasuki dan dapat sukses di bisnis tersebut?

A.B. Gunawan
Jakarta
JAWABAN :
Pak A.B. Gunawab, tentunya Anda lebih tahu dalam mendevelop game daripada saya, terutama dalam hal coding. Pertanyaan Anda sebenarnya tidak mudah dijawab karena bersifat strategis dan perlu lebih banyak informasi lagi. Memang banyak yang gagal dalam bisnis game developer. Saya tidak tahu, seberapa besar Anda ingin berinvestasi dalam bisnis ini pada langkah berikutnya.

Tapi, di beberapa Negara maju, seperti industry kreatif seperti bisnis game development ini sangat maju. Industry ini banyak menampung tenaga kerja terampil yang tentunya membutuhkan banyak biaya untuk tenaga kerja tersebut. Bukan hanya teknologi informasi/game developer yang diperlukan untuk membuat coding yang mumpuni, namun juga dibutuhkan banyak designer, ahli bahasa, saoud effect expert, dan animator.

Pada intinya,selain memberi peluang yang besar, bisnis ini juga membutuhkan sumber daya manusia yang besar, biaya  yang besar, dan resiko yang juga besar. Untuk memasuki bisnis ini, sebaiknya Anda mencari jaringan pemasaran yang dapat membantu memasarkan produk  Anda, yaitu berupa voucher untuk akses ke web game Anda memang pada awalnya akan mengurangi profit Anda. Namun, dengan membuat sebuah terobosan awal dari produk Anda, Quantity access yang besar daru customer Anda akan tetap memberi profit.

Kerjasama pemasaran ini juga harus ada batasannya. Tujuannya agar setelah produk berkembang, Anda dapat dibuat sequel produk dengan kontrak pemasaran yang berbeda. Dengan cara ini, Anda memiliki bargaining power agar proporsi bagi hasil jatah Anda menjadi lebih menguntungkan.

Strategi lain adalah juga menjual prosuk untuk versi offline, yakni dijual lewat DVD atau program dengan software, produk Anda dapat dijual di banyak tempat tidak secara virtual. Produk offline ini untuk brand awareness. Tentunya, pada produk offline, banyak fitur-fotur yang dibatasi agar produk versi online tetap diminati.

Versi offline memang ada peluang di bajak. Namun, banyak juga software developer yang piawai untuk mengakali agar software yang offline ini dapat tidak dapat dibajak.

Tapi, para game developer mengatakan, jika game Anda belum dibajak, berarti game Anda belum sukses! Tentu saja, bukan tujuan kita kalau software kita dibajak. Pernyataan itu hanya semacam benchmark laku tidaknya sebuah produk.

Tapi, hal paling penting yang perlu Anda pikirkan adalah business model dari usaha Anda. Cobalah berdiskusi dan mencari business model yang menghasilkan added value yang berbeda dan sangat berbeda dengan game lain. Semoga sukses.


Sumber : Kontan 22 Februari 2013

Saturday, February 16, 2013

Bisnis donat masih menjanjikan, lo


Donat sudah menjadi salah satu makanan favorit di Indonesia. Sebagai kudapan favorit, donat banyak dijajakan, baik di mal-mal maupun pinggir jalan. Sampai sekarang, masih banyak penjaja donat baru bermunculan. Mulai dari yang independen hingga yang ikut kemitraan atau waralaba dari merek-merek tertentu.
 Di tengah ketatnya persaingan, pemilik gerai donat gencar melakukan inovasi dengan meluncurkan produk-produk baru. Tujuannya adalah, agar pelanggan tidak bosan dengan rasa dan bentuk donat yang itu-itu saja.
Alhasil, gerai-gerai donat tetap ramai diserbu pembeli. Bisnis donat pun tetap bertumbuh. Hal ini terungkap dari sejumlah pewaralaba bisnis donat yang usahanya pernah KONTAN kupas  sebelumnya. Jumlah gerai dan mitra mereka kini semakin bertambah banyak. Nah,    berikut ini perkembangan bisnis donat mereka.
 Donat Bakar
 Donat Bakar alias Dokar sudah berdiri sejak April 2008. Ketika KONTAN mengulas kemitraan usaha donat ini pada Mei 2012, Donat Bakar sudah memiliki 50 gerai, dua di antaranya adalah milik sendiri. Kini, mitra Donat Bakar bertambah menjadi 60 orang. Sementara, total gerainya saat ini menjadi 63 unit, dua di antaranya milik sendiri. Pemilik Dokar Iwan Abu Shalih mengatakan, sepanjang tahun 2012 sebenarnya ada sekitar 10 gerai mitra yang tutup. Namun, mitranya juga bertambah sebanyak 10 orang yang buka gerai di Jabodetabek, Gresik, dan Blora.
 Menurutnya, mitra yang menutup gerai ini biasanya mitra yang hanya coba-coba dalam berbisnis. Jadi, “Sekarang total ada 60 mitra yang sudah menunjukkan komitmen sejak awal bisnis,” ujarnya.
Untuk menjadi mitra Donat Bakar, cukup merogoh kocek sebesar Rp 7 juta saja. Dengan biaya sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu unit booth, peralatan masak, bahan baku untuk 100 donat, dan aneka topping untuk donat.
 Namun, jika membuka gerai di luar Pulau Jawa, Donat Bakar mewajibkan mitra membayar tambahan biaya sebesar  Rp 8 juta untuk pengiriman peralatan dan lain-lain.
Dulu, Iwan memberlakukan sistem koordinator wilayah untuk mitra yang berada di luar Jawa. Dengan membayar biaya Rp 30 juta, koordinator wilayah akan dibantu memproduksi sendiri donat. Hanya, sistem koordinator wilayah kini sudah tidak dibuka lagi. Namun demikian, ada beberapa koordinator wilayah, seperti di Samarinda dan Kendari, tetap berjalan.
 Sistem kordinator wilayah Iwan hentikan karena pernah menemui pengalaman tidak mengenakkan dengan koordinator wilayah di Aceh. Lantaran tidak bertanggungjawab, mitra-mitra yang ada di bawah pimpinan koordinator wilayah di Aceh tidak terurus dan menjadi beban pusat. Supaya bisnisnya terus berkembang, Iwan mengaku rajin melakukan inovasi produk. “Sekarang sudah ada 42 pilihan rasa donat yang saya buat, di antaranya adalah rasa oreo dan almond,” ujarnya.

Tahun ini, Iwan juga menyiapkan satu variasi produk baru, yakni donat kukus. Namun, varian ini masih dalam proses penggodokan. “Dalam waktu dekat akan kami luncurkan,” janjinya. Sedang untuk harga jual donat masih dibanderol Rp 2.500–Rp 5.000 per buah. Iwan mengatakan, meski kisaran harga masih sama, di beberapa gerai, harga donat dinaikkan Rp 500–Rp 1.000 untuk mengerek omzet.
 Donat Madu Cihanjuang
Donat dengan campuran madu asli Sumbawa di dalamnya merupakan keunggulan dari merek donat yang satu ini. Usaha donat ini dirintis oleh Ridwan Iskandar bersama sang istri, Fanina Nisfulaily sejak Mei 2010.Donat Madu Cihanjuang mulai menawarkan kemitraan pada April 2011. KONTAN terakhir menulis kemitraan donat ini tahun lalu. Saat itu, Donat Madu Cihanjuang sudah memiliki 20 gerai. Sebanyak 14 di antaranya milik mitra dan enam lainnya milik pusat.
 Perkembangannya hingga kini cukup baik. Sekarang telah ada 48 gerai Donat Madu Cihanjuang. “Milik mitra ada 38 gerai, selebihnya pusat,” tutur Fanina. Dalam waktu dekat ini, Fanina mengklaim, total gerainya akan bertambah menjadi 70 outlet. Ia mengaku telah mengantongi sejumlah kemitraan baru yang akan segera buka. Jumlah mitranya bertambah pesat karena dia selalu menjaga kualitas produk. Sehingga, banyak yang tertarik membeli maupun bermitra. “Kami tidak berusaha mencari mitra, kebanyakan justru mitra yang datang sendiri ke kami,” klaimnya. Selain kualitas, Donat Madu Cihanjuang juga terus mencoba menyajikan menu baru. Hingga kini telah ada sekitar 60 varian rasa donat yang tersedia di gerai mereka. Mengenai paket kemitraan, harganya telah meningkat. Sebelumnya, Donat Madu Cihanjuang menawarkan paket kemitraan Rp 20 juta untuk franchise fee dan perlengkapan operasional. Tapi, itu belum termasuk interior yang diperkirakan mencapai Rp 25 juta untuk tiap gerai.
 Saat ini, paket kemitraannya naik menjadi Rp 56,5 juta. Biaya itu telah termasuk franchise fee selama lima tahun, resep serta pelatihan senilai Rp 20 juta. Sementara sisanya yang sebesar Rp 26,5 juta dipakai buat penyediaan perlengkapan produksi dan bahan baku awal donut. “Sedang interior dan tempat masih dari mitra,” tambah Fanina. Jadi, mitra masih harus menambah biaya tergantung luas dan interior tempat yang diinginkan. Fanina hingga kini tetap tidak memungut royalty fee. Namun, bahan baku donat tetap harus berasal dari pusat. “Khususnya premix donatnya karena berkaitan dengan kualitas donat,” jelasnya.
 P-DO Donat Kentang
 Usaha donat bernama P-DO, kepanjangan dari Potato Donut, berdiri tahun 2007. Tak lama berdiri, P-DO yang bermarkas di Pulogadung Trade Center, Jakarta Timur mulai menawarkan kemitraan. Tak dinyana, peminatnya ternyata cukup banyak. Terbukti, saat KONTAN mengupas tawaran kemitraan dari P-DO tahun lalu, mereka sudah mempunyai 50 gerai. Dari jumlah itu, sebanyak enam gerai milik pusat dan sisanya milik mitra. Sekarang, total gerai P-DO sudah bertambah menjadi 75 outlet. Dari jumlah itu, gerai pusat ada empat. Namun, gerai yang benar-benar aktif hanya berjumlah 60 unit.
 Saat ini, mitra P-DO tersebar di Jakarta, Depok, Bekasi, Cibinong, Bogor, Tangerang, Cileungsi, dan Bandung. Fariko Ngantung, Kepala Marketing P-DO, mengatakan, nilai investasi yang ditawarkan sudah mengalami perubahan. Pada 2012 terdapat dua paket: paket Rp 6 juta  dan paket Rp 11 juta. Saat ini, paket investasi yang ditawarkan sebesar Rp 7 juta untuk booth indoor dan Rp 9 juta untuk booth outdoor. Namun, untuk harga produknya sendiri tidak mengalami kenaikan. “Masih di rentang Rp 2.500 hinggga Rp 5.000 per buah,” kata Fariko.
 Menurut Fariko, inovasi rasa sangat berperan penting dalam pengembangan bisnis ini. Terkait inovasi rasa, P-Do memiliki rasa buah mocca sebagai varian barunya. P-Do juga menargetkan akan terus melakukan kreasi rasa baru untuk donat kentang. Guna menjaring mitra, P-DO pun gencar melakukan promosi di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Selain itu, P-DO juga gencar memanfaatkan event-event tertentu semacam pameran sebagai sarana promosi. P-Do menargetkan sampai akhir tahun 2013 nanti bisa menjaring 50 mitra baru.
 Bidik Kelas Atas dengan Donat Berkualitas
PELUANG usaha donat di kelas menengah bawah masih cukup menjanjikan. Terbukti, gerai-gerai donat di segmen ini tetap ramai diserbu pembeli. Di level kemitraan atau waralaba, bisnis ini juga berkembang karena paket investasi yang ditawarkan para pewaralaba donat relative kecil.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting, menilai banyaknya pemain donat di kelas menengah bawah akan memacu kreativitas para pengusaha donat. Mereka dituntut melakukan diferensiansi, menonjolkan keunikan, dan mempertahankan kualitas produk. Beberapa merek donat di segmen ini, seperti Donat Bakar, P-Do, dan Donat Madu Cihanjuang, sukses melakukan ketiga hal tersebut.”Ketiganya memiliki keunikan dan menawarkan produk donat yang spesifik,” katanya.
 Namun, tidak cukup berhenti di situ. Para pengusaha donat, Erwin menyarankan, juga harus memiliki tim marketing yang kuat. Dengan produk yang oke, ditambah tim marketing yang mumpuni, bisnis ini bisa semakin berkembang. Terutama, di daerah-daerah yang tingkat persaingannya belum begitu ketat. Soal pemilihan lokasi, harus berada di tempat-tempat keramaian. Erwin juga member saran, supaya para pemain bisnis donat tidak hanya fokus mengusung konsep booth. Menurutnya, perlu juga dipikirkan pengembangan usaha dengan konsep kafe. Konseo ini bisa mengerek kelas donat, dari kelas mengah bawah menjadi kelas menengah atas. Nah, setelah kelasnya naik, otomatis nilai paket investasi dalam sistem kemitraan atau waralaba juga akan meningkat.

Sumber : Kontan Sabtu, 16 Februari 2013
Marantina, Revi Yohana, Pravita Kusumaningtias, Havid Vebri

Friday, February 8, 2013

Dalam Waralaba, Wajib Ada SOP dan Dukungan Franchisor

PERTANYAAN:
Pak Erwin Halim,
Beberapa bulan lalu, saya membeli sebuah usaha waralaba laundry. Setelah saya jalankan, ternyata dukungan dari franchisor tidak seperti yang mereka janjikan. Malah, saat ini omzet usaha tidak dapat saya gunakan untuk menutup biaya operasional. Apa yang harus saya lakukan?
H Jamil,
Jombang, Jawa Timur



JAWABAN :
Bapak H. Jamil, dalam kasus Anda, ada dua sisi yang perlu Anda menjalankan bisnis waralaba ini sesuai dengan SOP (Standard operasional procedure) yang diberikan oleh franchisor kepada Anda atau tidak. Kalau Anda merasa sudah menjalankan SOP, apakah hal itu sudah dijalankan dengan benar?

Termasuk, di dalam pelaksanaan SOP bukan hanya dalam operasional saya yang dilakukan, tapi juga sales and marketing. Apakah semua prosedur sales dan marketing sesuai.

Apakah target pasar atau market segment bisnis Anda sudah sesuai? Apakah tempat yang dipakai untuk bisnis saat ini dilakukan penilaian atau uji, sehingga menjadi tempat yang layak untuk usaha waralaba Anda?

Banyak sekali franchisor yang meloloskan uji lokasi demi mendapatkan hak franchisee. Bisnis berjalan menguntungkan atau tidak di lokasi itu termasuk nomor sekian. Yang penting adalah usahanya sudah terjual dilakukan pemindahan lokasi. Kalau lokasi bisnis itu Anda sewa, tentu masih memungkinkan untuk dipindahkan ke tempat atau lokasi lain. Namun, jika lokasinya milik Anda sendiri dan baru beli tentu akan sulit memindahkannya. Hal ini akan memakan waktu dan biaya.

Dalam bisnis binatu (laundry), banyak sekali trik-trik secara teknis yang dapat dilakukan untuk memajukan usaha. Di beberapa daerah di Indonesia, misalnya, banyak laundry kiloan yang harganya sangat murah. Dari segi persaingan, tentu harga murah itu sangat kompetitif.

Namun, setelah ditelusuri, ternyata banyak binatu yang “tidak wajar” dalam prosesnya, sehingga harga super murah itu tidak memberi kepuasan kepada konsumen. Mungkin sekali konsumen pada kelas tertentu akan lari meninggalkan tawaran bisnis Anda.

Kedua yang harus diperhatikan dalam waralaba adalah bimbingan berkelanjutan dari franchisor kepada franchisee. Hal ini pering diperhatikan karena jika tidak ada bimbingan dengan baik, franchisor tidak memberi nilai lebih kepada franchisee dalam  hal bisnis yang sudah dibeli.
Dan, bila tidak ada dukungan berupa bimbingan berkelanjutan, tentu Anda dapat meminta pertanggungjawaban ke pihak franchisor berdiskusi membahas permasalahan yang Anda hadapi.

Bagaimana dengan janji-janjinya sebelum Anda membeli bisnis binatu ini? Minta kepada pihak franchisor untuk ikut mencarikan solusi bagaimana agar bisnis Anda ini bisa mendekati realistis dari proyeksi keuangan yang dulu pernah diilustrasikan oleh franchisor.

Anda juga dapat meminta bantuan asosiasi franchise sebagai penengah agar franchise franchisor mau memenuhi janjinya. Jika semua sudah dijalankan, namun franchisor tidak kunjung menolong Anda, langkah terakhir adalah melaporkannya kepada kementrian yang bersangkutan , yaitu kementrian perdagangan.

Sebelum anda mengajukan pengaduan ke Kantor Kementrian Perdagangan, pastikan franchisor Anda memiliki STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba) sebagai bukti bahwa usaha itu berizin, dan juga bisnis Anda sebagai franchise juga perlu mempunyai STPW.

Selain itu, perlu Anda pastikan juga dari awal, apakah bisnis yang Anda beli itu adalah sebuah bisnis waralaba , atau kategori lain, seperti business opportunity (BO) atau kemitraan. Semoga selalu berhasil.



Sumber : Kontan Sabtu 8 Februari 2013

Saturday, January 26, 2013

Laba bisnis burger masih bikin ngiler


Siapa tak kenal dengan hamburger atau burger? Kudapan asal Eropa ini sudah lama ngetop dan populer di Tanah Air. Terbukti, banyak pengusaha makanan lokal tertarik menjajakannya.Masing-masing menonjolkan ciri khas pada setiap sajian burger yang dijajakan. Kendati begitu, tidak semua pemain bisa bertahan di bisnis ini. Terlebih, persaingan juga semakin ketat.

Setidaknya, begitulah hasil review sejumlah tawaran kemitraan burger yang sebelumnya sudah pernah diulas KONTAN. Beberapa di antaranya adalah Big Burger, Umiku Burger, dan Quickie Eat & Tasted. Dari tiga pemain itu, ada yang bisnisnya semakin berkembang, tapi ada pula yang stagnan dan bahkan menutup tawaran kemitraannya. Seperti apa perkembangan usahanya? Berikut ulasannya:

Big Burger

 Big Burger sudah berdiri di Yogyakarta sejak tahun 2000. Namun, pemiliknya, Augustinus Dwi Purwanto, baru menawarkan kemitraan usaha burger ini pada tahun 2009.Ketika KONTAN mengulas usaha ini pada Agustus 2011, Big Burger sudah memiliki 170 mitra. Kini, mitranya bertambah menjadi 200. Sementara, total gerainya kini sudah ada 254. Sebanyak 26 di antaranya adalah milik sendiri.

Sebagian besar mitra Big Burger berada di Pulau Jawa, seperti Pekalongan, Bekasi, dan Semarang. Namun ada juga mitra baru asal Lampung yang bergabung pada 2012.

 Jika dulu Big Burger menawarkan tiga paket investasi, kini Augustinus mengurangi menjadi dua paket saja. Yakni, paket mini gerai dan paket kafe. Nilai investasi yang dipatok masih sama, yakni masing-masing Rp 39 juta dan Rp 59 juta. Paket booth sudah tidak dibuka lagi untuk mengubah citra Big Burger. Selain biaya investasi awal, Big Burger membebankan biaya keanggotaan di luar Yogyakarta sebesar Rp 100.000 per bulan.
Untuk paket mini gerai, Augustinus memperkirakan mitra bisa mendapat keuntungan bersih Rp 9 juta–Rp 15 juta per bulan. Asumsinya, mitra bisa menjual hingga 250 burger per hari. Adapun mitra yang mengambil paket kafe diperkirakan bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp 25 juta per bulan dari penjualan 400 burger dalam sehari.

Dari kedua paket ini, mitra ditargetkan balik modal dalam waktu lima bulan. Pasalnya, paket ini memungkinkan mitra memiliki tempat dagang yang besar, sehingga pelanggan merasa nyaman berlama-lama di gerai. Selain itu, mitra juga bisa menjual aneka minuman sebagai pelengkap. Penjualan minuman dapat membantu mendongkrak laba. "Gerai ini bisa dijadikan tempat berkumpul muda-mudi," ujarnya.

Augustinus bilang, pada bulan Februari mendatang, Big Burger akan menambah dua menu, yakni crispy chicken dan chicken burger. Selama ini, Big Burger hanya menyajikan variasi burger dengan rasa daging sapi.
Mahalnya harga daging sapi membuat Augustinus memutar otak agar omzet bisa naik dengan meluncurkan menu yang menggunakan daging ayam. Big Burger mematok harga yang sama dengan sebelumnya, yakni Rp 7.000–Rp 11.000 per porsi.

Umiku Burger

Umiku berdiri sejak 2006 di Jakarta Timur. Sang pemilik, Namruddin, membuat konsep 2 in 1, yakni berjualan burger dan crepes dalam satu booth. Tujuan awalnya untuk mengantisipasi kejenuhan pasar atas salah satu produk. Ternyata, konsep ini cukup membuat Umiku bertahan, bahkan mampu berkembang pesat.
Pada akhir tahun 2008, saat KONTAN mengulas tawaran kemitraan Umiku, jumlah gerai mitra Umiku sebanyak 27 cabang yang seluruhnya berlokasi di Jabodetabek.
Setelah beberapa tahun, mitra Umiku bertambah menjadi 178 gerai milik mitra. "Pertambahan paling banyak di Riau dan Samarinda," ujar Ahmad Saugi, Manajer Pemasaran CV Cinta Umiku, yang memayungi merek Umiku.Menurut Ahmad, pihaknya lebih banyak menjaring mitra baru melalui promosi di internet. "Kami buat blog dan website," ujarnya. Selain itu, mereka juga terus mengembangkan pilihan paket investasi, namun kenaikan harga tak terlalu jauh.

Pada 2008 lalu, paket yang ditawarkan Umiku baru satu, yakni paket gerobak seharga Rp 6,5 juta. Di sini, mitra mendapat seluruh perlengkapan berjualan Burger dan Crepes dalam satu gerobak.Saat ini, paket yang ditawarkan berkembang menjadi empat pilihan. Pertama, paket gerobak standar senilai Rp 7 juta. Mitra mendapat gerobak standar tanpa roda, perlengkapan, bahan baku, dan pelatihan. Kedua, paket Rp 7,5 juta dengan fasilitas sama, namun gerobak beroda sehingga bisa berjualan keliling.

Ketiga, paket mix seharga Rp 9,5 juta. Di sini, mitra mendapatkan gerobak yang lebih bagus dengan perlengkapan yang lebih bagus, sehingga bisa dibuat berjualan indoor. Keempat, paket eksklusif seharga Rp 12,5 juta. Paket ini seperti paket mix dan didesain untuk mitra yang ingin berjualan di mal. Namun, bedanya, kompor yang diberikan adalah kompor listrik. "Di sejumlah mal, tidak mengizinkan menggunakan kompor gas," tutur Ahmad. Seluruh paket di atas adalah paket 2 in 1 burger dan crepes.

Di luar itu, ada satu paket lagi yang mengusung konsep 3 in 1. Yakni, burger, crepes, dan ayam goreng atau fried chicken. Menu ayam goreng tepung ini baru dikembangkan sejak tahun 2010. Harga paket ini sebesar Rp 15 juta. Ahmad mengakui, penambahan menu ini merupakan strategi menjaga penjualan agar tetap stabil. Soalnya, ada kecenderungan peminat burger mulai berkurang.
Menurutnya, permintaan burger saat ini tidak setinggi ketika awal Umiku dibuat. "Tapi, permintaan tetap ada dan penjualan burger masih cukup bagus," katanya.

Quickie Eat & Tasted

Quickie Eat & Tasted sudah menawarkan kemitraan sejak tahun 2009 di Bintaro, Tangerang Selatan. Ketika KONTAN mengulas usaha ini pada Agustus 2011, Quickie memiliki dua gerai milik sendiri dan satu gerai milik mitra.

Namun, ternyata nasib kurang menguntungkan dialami Quickie. “Semua gerai Quickie sudah ditutup pada akhir tahun 2011,” ujar Guz Ardi, pemilik Quickie Eat & Tasted.

Ketika ditanya penyebabnya, Ardi mengaku kurang maksimal melakukan kontrol terhadap usahanya. Selain itu, ia juga memiliki usaha lain, yakni ternak ikan, sehingga fokusnya tidak lagi pada usaha burger.
"Sebenarnya, masih ada calon mitra yang tertarik mengembangkan dan pangsa pasar untuk bisnis burger juga cukup luas. Tapi, ada kekurangan dalam hal pengelolaan," ucap dia

Dulunya, Quickie menawarkan paket investasi dengan biaya Rp 10 juta. Paket kerjasamanya selama dua tahun. Dengan investasi sebesar itu, mitra mendapatkan booth, peralatan lengkap, bahan baku awal, serta pelatihan.
Selama periode kerjasama, mitra akan dibebaskan dari royalty fee. "Mitra diberikan keleluasaan melakukan inovasi menu namun tetap atas persetujuan pusat," kata Ardi.

Keleluasaan itu membuat mitra tidak terpaku pada menu burger saja. Tapi bisa mengkombinasikannya dengan menu seperti spaghetti atau rice bowl, yaitu burger dengan campuran nasi.  Ardi mengklaim, menu Quickie terbuat dari 100% daging tanpa campuran bahan kimia lainnya. "Saus dan mayones diracik sendiri, jadi aman bagi kesehatan," ujarnya.Ardi dulu meyakini, mitra bisa meraup omzet Rp 15 juta per bulan, dan balik modal maksimal empat bulan.

Kualitas Pelayanan Harus Memuaskan

BURGER termasuk salah satu kudapan asal Eropa yang punya banyak penggemar di Indonesia. Makanya. Banyak pengusaha makanan menjadikan burger sebagai lading bisnis. Tak pelak, persaingan di bisnis burger pun semakin ketat. Tentu saja, kualitas produk dan pelayanan yang baik menjadi prasyarat utama agar bisa bertahan di bisnis yang tingkat kompetisinya sudah ketat

Pengamat waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim , mengatakan agar bisa berkembang, setiap pemain harus konsisten meningkatkan kualitas dan memperbanyak varian menu baru. Kalau dari segi produk sudah baik, selanjutnya sistem pemasaran menjadi penentu hidup matinya usaha ini.”Sistem pemasaran yang kreatif dan jeli menangkap peluang pasar akan memetik rezeki lebih besar,”ujarnya.
Menurut Erwin, saat ini, masyarakat sudah akrab dengan burger. Karena itu, mereka ingin mencoba burger yang dari segi rasa berbeda dan pelayanan menyenangkan. “Jadi, tim marketing harus paham betul segmen pasar yang mau dibidik,”ujarnya.

Maka itu, lokasi tempat berjualan juga harus diperhatikan. Jika ingin membidik kelas menengah bawah, pengusaha harus membuka gerai di pemukiman yang banyak dihuni masyarakat kelas menengah bawah.

Namun, bila membidik kelas menengah atas, tempat yang tepat adalah di mal-mal besar yang banyak dikunjungi masyarakat kelas menengah atas. Harganya juga harus sesuai dengan segmen pasar. Di sisi lain, control harus dilakukan secara intensif, baik itu control kualitas, harga, dan pelayanan yang diberikan.

Sumber : Kontan, 26 Januari 2013
               Marantina, Revi Yohana, Noverius Laoli

Friday, January 25, 2013

Langkah penting sebelum membeli Waralaba/ Kemitraan.

PERTANYAAN :

Pak Erwin,
Saat ini, saya ingin membeli sebuah franchise untuk mengisi masa pension saya. Yang menjadi pertanyaan saya adalah usaha waralaba seperti apa yang paling menguntungkan? Apa saja yang harus saya perhatikan sebelum membeli sebuah usaha waralaba.Mohon penjelasannya
Shinta

Harmoni, Jakarta Pusat


JAWABAN:
Dear Ibu Shinta,
Pertanyaan Anda adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada saya, baik setiap ada forum pameran maupun seminar waralaba. Pertanyaan yang paling sering saya terima , “usaha waralaba apa yang paling menguntungkan saat ini?”

Munculnya pertanyaan ini merupakan hal yang wajar, mengingat semua investor tentu menginginkan uang yang mereka tanamkan cepat kembali. Pewaralaba (franchisor), licensor, atau pemitra, (sebutan bagi perusahaan-perusahaan penjual usaha ), selalu mengatakan bahwa bisnis mereka jual paling menguntungkan dan cepat pulang modal. Dalam istilah keuangan, payback period usahanya singkat.

Lalu bagaimana? Menurut saya, cara paling mudah untuk m
engetahui apakah usaha yang mau anda beli menguntungkan atau tidak adalah bertanya. Tanyakan, bagaimana laporan keungannya. Biasanya, franchisor atau pemitra yang punya bukti laporan keuangan tidak langsung mau memperlihatkan ke calon investor.

Namun, yang tidak punya laporan keuangan akan lebih bertele-tele menjawab. Pada akhirnya, mereka tidak pernah memiliki laporan keuangan yang menjanjikan. Laporan keuangan di sini tidak harus lengkap seperti melaporkan pajak. Mungkin yang paling simple adalah laporan tentang penjualan produknya. Mungkinkah laporan keuangannya bodong alias bohong dan dibuat-buat saja? Mungkin saja!

Untuk mudahnya lagi, bertanya kembali. Sebagai alternatif, Anda juga bisa menemui beberapa franchisee atau mitra dari usaha tersebut. Tujuannya, untuk bertanya soal kinerja keuangan usaha itu. Bisa saja, Anda meminta informasi dari franchisee atau mitra yang sukses di sekitar tiga sampai lima lokasi. Dari lokasi usaha tersebut, boleh Anda pilih dua atau tiga. Selain itu, coba cari mitra yang gagal. Tentunya, informasinya bukan dari franchisor atau pemitra karena tujuannya untuk menjaga objektivitis jawaban.

Nah, kalau sudah mendapat cukup banyak cerita dari para franchise atau mitra, barulah Anda mengambil keputusan. Kalau juga masih bingung, Anda dapat berkonsultasi dengan konsultan waralaba atau menghubungi Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) atau Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI).

Kalau Anda serius dalam bertanya, biasanya franchisor atau pemitra yang bertanggung jawab juga akan serius menjawab. Tapi, Anda akan sulit mendapatkan jawaban dari usaha waralaba(atau mengaku waralaba) atau mitra yang baru memulai sebuah usaha, atau belum satu tahun memitrakan usahanya. Mereka biasanya tidak memiliki bukti usahanya cukup menguntungkan lantaran belum ada mitra dan merek usaha belum berkibar dan kuat.

Nah, hal penting lainnya kalau Anda ingin memulai usaha dengan membeli usaha waralaba atau kemitraan adalah passion. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan keinginan dan semangat Anda untuk menjalankan sebuah usaha. Entah itu di usaha makanan dan minuman, pendidikan, kesehatan atau kecantikan atau lainnya. Jika Anda bisa memastikan passion Anda sebenarnya, Anda sebenarnya, Anda sudah tahu pilihan yang tapat.



Sumber : Kontan, Jumat 25 Januari 2013