Thursday, January 17, 2013

Secawan Laba Bisnis Sup Kacang Merah


Kacang merah merupakan bahan pangan yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Selain dapat diolah menjadi es, kacang merah juga bisa diolah menjadi sup.Salah satu pemain di bisnis kuliner yang menjadikan sup kacang sebagai menu andalan adalah Acie Sri Astinah di Kota Gede, Yogyakarta.

Acie terjun ke bisnis ini sejak tahun 1989 dengan mengusung brand Sop Kacang Merah Bu Maspa. Untuk mengembangkan usahanya, pada awal tahun 2013 ini, ia sebagai generasi kedua pengelola usaha ini resmi menawarkan kemitraan.

Saat ini, Bu Maspa sudah memiliki dua cabang milik sendiri yang berlokasi di Yogyakarta dan Palu, Sulawesi Tengah. Di gerai Bu Maspa, sop kacang merah disajikan dengan tempe goreng dan dibanderol seharga Rp 10.000 per porsi.Di luar itu, gerai ini juga menyediakan aneka jenis makanan dan minuman pendamping lainnya. Bu Maspa menawarkan satu paket investasi senilai Rp 100 juta.

Bu Maspa menawarkan satu paket investasi senilai Rp 100 juta. Dengan biaya sebesar itu, mitra akan mendapatkan semua peralatan masak, survei lokasi, pelatihan, dan menggunakan merek dan sistem Bu Maspa. Selain itu, untuk daerah Yogyakarta dan sekitarnya, Acie menanggung biaya sewa tempat untuk satu tahun pertama bagi mitra usahanya.

Sementara di daerah lain, biaya sewa tempat ini akan dinegosiasikan kembali dengan kantor pusat. "Yang pasti, biaya sewa tempat tetap ada, cuma tergantung besar tidaknya biaya sewa tempat di suatu wilayah," ujarnya.

Untuk kriteria lokasi usaha, mitra wajib mencari tempat seluas 300 meter persegi, dengan luas bangunan cukup 6 meter x 6 meter saja. Konsepnya berupa warung dengan lahan yang luas, sehingga bisa diisi dengan kursi panjang seperti tipe warung angkringan. "Jadi sistemnya nanti outdoor, tapi ada atap dan pembatasnya," ujarnya.

Acie menjanjikan, mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 4 juta per hari dengan keuntungan bersih sekitar 40%.
Jika bisa beroperasi dengan lancar dan mendapatkan lokasi yang strategis, mitra bisa balik modal dalam waktu lima bulan hingga satu tahun.

Agar standardisasi produk sama di seluruh gerai, Acie mewajibkan mitra membeli bumbu dari pusat. Supaya target omzet tercapai, ia menyarankan membuka warung pukul 08.00 WIB sampai tengah malam.

Pengamat waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim menilai, kendati usianya sudah tua, brand usaha ini belum dikenal luas. Menurutnya, branding usaha sangat penting, apalagi makanan yang ditawarkan terhitung unik, yakni sup kacang merah. "Produk ini bukan berarti disukai orang karena belum banyak dikenal," ujarnya.

Menurut Erwin, pihak pusat wajib melakukan survei di luar lingkup pasarnya guna mengetahui apakah jenis makanan ini cukup digemari atau tidak. Selain itu, perlu kejelasan mengenai dukungan pemasaran dari pihak pusat."Harus jelas dukungan apa yang diberikan, sehingga mitra mendapat omzet sebesar yang ditargetkan," ujarnya. Erwin memperkirakan, untuk gerai baru, proses balik modal lebih dari setahun.     

Sop Kacang Merah Bu Maspa Griya Wirokerten Indah 
Jl. Manggis No. 149
Yogyakarta
HP: 08995047779

Sumber : Kontan 17 Januari 2013
   Noverius Laoli, Revi Yohana Simanjuntak


Wednesday, January 16, 2013

Bisnis Donat Masih Menjanjikan, lo


Donat sudah menjadi salah satu makanan favorit di Indonesia. Sebagai kudapan favorit, donat banyak dijajakan, baik di mal-mal maupun pinggir jalan. Sampai sekarang, masih banyak penjaja donat baru bermunculan. Mulai dari yang independen hingga yang ikut kemitraan atau waralaba dari merek-merek tertentu.

Di tengah ketatnya persaingan, pemilik gerai donat gencar melakukan inovasi dengan meluncurkan produk-produk baru. Tujuannya adalah, agar pelanggan tidak bosan dengan rasa dan bentuk donat yang itu-itu saja.  
Alhasil, gerai-gerai donat tetap ramai diserbu pembeli. Bisnis donat pun tetap bertumbuh. Hal ini terungkap dari sejumlah pewaralaba bisnis donat yang usahanya pernah KONTAN kupas  sebelumnya. Jumlah gerai dan mitra mereka kini semakin bertambah banyak. Nah,    berikut ini perkembangan bisnis donat mereka.

Donat Bakar

Donat Bakar alias Dokar sudah berdiri sejak April 2008. Ketika KONTAN mengulas kemitraan usaha donat ini pada Mei 2012, Donat Bakar sudah memiliki 50 gerai, dua di antaranya adalah milik sendiri. Kini, mitra Donat Bakar bertambah menjadi 60 orang. Sementara, total gerainya saat ini menjadi 63 unit, dua di antaranya milik sendiri. Pemilik Dokar Iwan Abu Shalih mengatakan, sepanjang tahun 2012 sebenarnya ada sekitar 10 gerai mitra yang tutup. Namun, mitranya juga bertambah sebanyak 10 orang yang buka gerai di Jabodetabek, Gresik, dan Blora.

Menurutnya, mitra yang menutup gerai ini biasanya mitra yang hanya coba-coba dalam berbisnis. Jadi, "Sekarang total ada 60 mitra yang sudah menunjukkan komitmen sejak awal bisnis," ujarnya.
Untuk menjadi mitra Donat Bakar, cukup merogoh kocek sebesar Rp 7 juta saja. Dengan biaya sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu unit booth, peralatan masak, bahan baku untuk 100 donat, dan aneka topping untuk donat.

Namun, jika membuka gerai di luar Pulau Jawa, Donat Bakar mewajibkan mitra membayar tambahan biaya sebesar  Rp 8 juta untuk pengiriman peralatan dan lain-lain.
Dulu, Iwan memberlakukan sistem koordinator wilayah untuk mitra yang berada di luar Jawa. Dengan membayar biaya Rp 30 juta, koordinator wilayah akan dibantu memproduksi sendiri donat.
Hanya, sistem koordinator wilayah kini sudah tidak dibuka lagi. Namun demikian, ada beberapa koordinator wilayah, seperti di Samarinda dan Kendari, tetap berjalan.

Sistem kordinator wilayah Iwan hentikan karena pernah menemui pengalaman tidak mengenakkan dengan koordinator wilayah di Aceh. Lantaran tidak bertanggungjawab, mitra-mitra yang ada di bawah pimpinan koordinator wilayah di Aceh tidak terurus dan menjadi beban pusat. Supaya bisnisnya terus berkembang, Iwan mengaku rajin melakukan inovasi produk. "Sekarang sudah ada 42 pilihan rasa donat yang saya buat, di antaranya adalah rasa oreo dan almond," ujarnya.

Tahun ini, Iwan juga menyiapkan satu variasi produk baru, yakni donat kukus. Namun, varian ini masih dalam proses penggodokan. “Dalam waktu dekat akan kami luncurkan," janjinya. Sedang untuk harga jual donat masih dibanderol Rp 2.500–Rp 5.000 per buah. Iwan mengatakan, meski kisaran harga masih sama, di beberapa gerai, harga donat dinaikkan Rp 500–Rp 1.000 untuk mengerek omzet.

Donat Madu Cihanjuang

Donat dengan campuran madu asli Sumbawa di dalamnya merupakan keunggulan dari merek donat yang satu ini. Usaha donat ini dirintis oleh Ridwan Iskandar bersama sang istri, Fanina Nisfulaily sejak Mei 2010.Donat Madu Cihanjuang mulai menawarkan kemitraan pada April 2011. KONTAN terakhir menulis kemitraan donat ini tahun lalu. Saat itu, Donat Madu Cihanjuang sudah memiliki 20 gerai. Sebanyak 14 di antaranya milik mitra dan enam lainnya milik pusat.

Perkembangannya hingga kini cukup baik. Sekarang telah ada 48 gerai Donat Madu Cihanjuang. "Milik mitra ada 38 gerai, selebihnya pusat," tutur Fanina. Dalam waktu dekat ini, Fanina mengklaim, total gerainya akan bertambah menjadi 70 outlet. Ia mengaku telah mengantongi sejumlah kemitraan baru yang akan segera buka. Jumlah mitranya bertambah pesat karena dia selalu menjaga kualitas produk. Sehingga, banyak yang tertarik membeli maupun bermitra. "Kami tidak berusaha mencari mitra, kebanyakan justru mitra yang datang sendiri ke kami," klaimnya. Selain kualitas, Donat Madu Cihanjuang juga terus mencoba menyajikan menu baru. Hingga kini telah ada sekitar 60 varian rasa donat yang tersedia di gerai mereka. Mengenai paket kemitraan, harganya telah meningkat. Sebelumnya, Donat Madu Cihanjuang menawarkan paket kemitraan Rp 20 juta untuk franchise fee dan perlengkapan operasional. Tapi, itu belum termasuk interior yang diperkirakan mencapai Rp 25 juta untuk tiap gerai.

Saat ini, paket kemitraannya naik menjadi Rp 56,5 juta. Biaya itu telah termasuk franchise fee selama lima tahun, resep serta pelatihan senilai Rp 20 juta. Sementara sisanya yang sebesar Rp 26,5 juta dipakai buat penyediaan perlengkapan produksi dan bahan baku awal donut. "Sedang interior dan tempat masih dari mitra," tambah Fanina. Jadi, mitra masih harus menambah biaya tergantung luas dan interior tempat yang diinginkan. Fanina hingga kini tetap tidak memungut royalty fee. Namun, bahan baku donat tetap harus berasal dari pusat. "Khususnya premix donatnya karena berkaitan dengan kualitas donat," jelasnya.

P-DO Donat Kentang

Usaha donat bernama P-DO, kepanjangan dari Potato Donut, berdiri tahun 2007. Tak lama berdiri, P-DO yang bermarkas di Pulogadung Trade Center, Jakarta Timur mulai menawarkan kemitraan. Tak dinyana, peminatnya ternyata cukup banyak. Terbukti, saat KONTAN mengupas tawaran kemitraan dari P-DO tahun lalu, mereka sudah mempunyai 50 gerai. Dari jumlah itu, sebanyak enam gerai milik pusat dan sisanya milik mitra. Sekarang, total gerai P-DO sudah bertambah menjadi 75 outlet. Dari jumlah itu, gerai pusat ada empat. Namun, gerai yang benar-benar aktif hanya berjumlah 60 unit.

Saat ini, mitra P-DO tersebar di Jakarta, Depok, Bekasi, Cibinong, Bogor, Tangerang, Cileungsi, dan Bandung. Fariko Ngantung, Kepala Marketing P-DO, mengatakan, nilai investasi yang ditawarkan sudah mengalami perubahan. Pada 2012 terdapat dua paket: paket Rp 6 juta  dan paket Rp 11 juta. Saat ini, paket investasi yang ditawarkan sebesar Rp 7 juta untuk booth indoor dan Rp 9 juta untuk booth outdoor. Namun, untuk harga produknya sendiri tidak mengalami kenaikan. "Masih di rentang Rp 2.500 hinggga Rp 5.000 per buah," kata Fariko.

Menurut Fariko, inovasi rasa sangat berperan penting dalam pengembangan bisnis ini. Terkait inovasi rasa, P-Do memiliki rasa buah mocca sebagai varian barunya. P-Do juga menargetkan akan terus melakukan kreasi rasa baru untuk donat kentang. Guna menjaring mitra, P-DO pun gencar melakukan promosi di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Selain itu, P-DO juga gencar memanfaatkan event-event tertentu semacam pameran sebagai sarana promosi. P-Do menargetkan sampai akhir tahun 2013 nanti bisa menjaring 50 mitra baru.      

Bidik Kelas Atas dengan Donat Berkualitas
PELUANG usaha donat di kelas menengah bawah masih cukup menjanjikan. Terbukti, gerai-gerai donat di segmen ini tetap ramai diserbu pembeli. Di level kemitraan atau waralaba, bisnis ini juga berkembang karena paket investasi yang ditawarkan para pewaralaba donat relative kecil.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting, menilai banyaknya pemain donat di kelas menengah bawah akan memacu kreativitas para pengusaha donat. Mereka dituntut melakukan diferensiansi, menonjolkan keunikan, dan mempertahankan kualitas produk. Beberapa merek donat di segmen ini, seperti Donat Bakar, P-Do, dan Donat Madu Cihanjuang, sukses melakukan ketiga hal tersebut.”Ketiganya memiliki keunikan dan menawarkan produk donat yang spesifik,” katanya.

Namun, tidak cukup berhenti di situ. Para pengusaha donat, Erwin menyarankan, juga harus memiliki tim marketing yang kuat. Dengan produk yang oke, ditambah tim marketing yang mumpuni, bisnis ini bisa semakin berkembang. Terutama, di daerah-daerah yang tingkat persaingannya belum begitu ketat. Soal pemilihan lokasi, harus berada di tempat-tempat keramaian. Erwin juga member saran, supaya para pemain bisnis donat tidak hanya fokus mengusung konsep booth. Menurutnya, perlu juga dipikirkan pengembangan usaha dengan konsep kafe. Konseo ini bisa mengerek kelas donat, dari kelas mengah bawah menjadi kelas menengah atas. Nah, setelah kelasnya naik, otomatis nilai paket investasi dalam sistem kemitraan atau waralaba juga akan meningkat.

Sumber : Kontan Sabtu, 16 Februari 2013
    Marantina, Revi Yohana, Pravita Kusumaningtias, Havid Vebri




Friday, January 11, 2013

Membedakan Tawaram Usaha Waralaba dan Kemitraan

PERTANYAAN :
Pak Erwin,
Saat ini, saya ingin membeli sebuah usaha waralaba (franchise) untuk istri saya. Namun, setelah banyak pilihan yang ditawarkan  dalam pameran, saya menjadi semakin ragu. Sebab, saya tidak dapat membedakan mana yang merupakan usaha franchise dan business opportunity. Saya piker, semua yang ditawarkan dalam pameran tersebut adalah franchise. Mohon bantuan bapak.
Sugianto,
Tanggerang
JAWABAN:
SAUDARA Sugiantom hal pertama yang perlu diperhatikan sebelum mengambil tawaran usaha adalah format pilihan usaha yang ingin Anda pertimbangkan : apakah bentuknya franchise, lisensi, atau business opportunity (BO)? Belakangan, BO popular dengan sebutan kemitraan.

Kalau Anda kurang kelas dengan istilah-istilah ini, mungkin saya bisa membantu secara singkat. Sebuah usaha franchise wajib mempunyai Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) yang dikeluarkan oleh Kementrian Perdagangan. Jika usaha tersebut tidak mempunyai STPW, tapi mempunyai sertifikat merek sebagai bukti Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), secara umum hal itu dapat dianggap lisensi. Jika tidak mempunyai keduanya, usaha itu dianggap business opportunityPenjelasan ini sebenarnya kurang lengkap. Namun, paling tidak Anda dapat dengan cepat mengetahui format tawaran bisnis yang akan Anda pilih. Untuk jelasnya, Anda dapat melihat tabel berikut.

Sistem
HaKI
Paket usaha
BO


Lisensi

Waralaba

Hal yang saya sebutkan tadi penting, sebab sebuah usaha franchise harus memiliki:

Pertama, ciri khas usaha. Yang dimaksud dengan ciri khas adalah suatu usaha memiliki keunggulan atau perbedaan yang tidak mudah ditiru oleh usaha lain sejenis, dan konsumen selalu mencari ciri khas yang dimaksud. Misalnya, sistem manajemen, cara penjualan dan pelayanan, atau penataan atau cara distribusi yang merupakan karakteristik khusus pemberi waralaba.

Kedua , terbukti sudah memberikan keuntungan. Hal ini didukung dengan usaha itu sudah berjalan selama lima tahun dan didukung dengan laporan keuangan. Ketiga, memiliki standar atas pelayanan barang dan jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis. Keempat, mudah diajarkan dan diaplikasikan. Artinya, jika Anda membeli usaha waralaba ini, usaha ini juga dapat Anda jalankan, bukan hanya pihak pemilik bisnis.

Kelima, adanya dukungan yang berkesinambungan. Artinya, penjual bisnis/pewaralaba tidak hit and go. Penerima waralaba (franchise) dibantu dan dibimbing sehingga dapat menjalankan usaha sama dengan standar yang disepakati. Keenam, hak dan kekayaan intelektual yang terdaftar. Umumnya, HaKI yang didaftarkan adalah merek dan hak cipta.

Umumnya, banyak penawaran bisnis yang mulanya mengaku franchise, lalu berganti kategori menjadi lisensi atau BO. Alasannya, selain karena HaKI yang belum terdaftar, bisnis belum mencapai lima tahun, atau bisa juga keberatan untuk membuka laporan keuangan kepada calon mitra, bahkan sebenarnya belum siap untuk di mitrakan. Namun, sebagai investor/calon mitra, Anda tidak mau pusing dengan segala istilah itu. Yang penting Anda beli sudah terbukti menguntungkan.

Tapi, Anda harus peduli dengan segala surat, sertifikat, atau dokumen lainnya. Saya pikir, jika memang ingin serius melakukan kerjasama dalam bentuk apapun, dokumen-dokumen yang diperlukan sebaiknya dilengkapi agar kedua belah pihak menjadi yakin dan jelas terhadap bisnis yang dijual atau akan dibeli oleh calon mitra.



Sumber : Kontan, 11 Januari 2013

Wednesday, January 9, 2013

Mencicipi Tawaran Bisnis Ayam Goreng

Tawaran waralaba dan kemitraan bisnis makanan olahan ayam tak ada habisnya. Tawaran terbaru datang dari Alexa Fried Chicken (AFC) di Bandung, Jawa Barat.
Lewat tawaran yang mulai dirilis Desember 2012 ini, AFC menjadikan ayam goreng tepung sebagai menu utama. Kendati mengusung brand baru, pemilik usaha ini sudah tak asing lagi dengan bisnis ayam goreng tepung.

"AFC ini anak usaha dari Rocket Fried Chicken (RFC) dan Jupe Fried Chicken (JFC) yang sudah saya dirikan sebelumnya," kata Dicky Satria, pemilik AFC.Saat ini, AFC telah memiliki tiga gerai yang seluruhnya milik pusat dan berlokasi di Sulawesi. Jika tertarik menjadi mitra, ada tiga jenis paket investasi yang ditawarkan.Paket termurah adalah, pertama, paket gerobak dengan biaya investasi Rp 10 juta.

Dengan biaya tersebut, mitra akan mendapatkan booth, perlengkapan, bahan baku awal, dan pelatihan. "Paket ini untuk pengusaha dengan modal minim," tutur Dicky.
Dicky mengestimasikan, mitra paket ini bisa memperoleh omzet Rp 6 juta per bulan, dengan laba bersih 30%. Mitra ditargetkan balik modal dalam waktu enam bulan.

Kedua, paket kios dengan nilai investasi Rp 45 juta. Syaratnya, mitra harus menyiapkan tempat seluas 24 meter persegi. Dalam paket ini mitra akan mendapat dekorasi tempat, perlengkapan, bahan baku awal serta pelatihan. Omzet yang diharapkan sebesar Rp 20 juta per bulan, dengan laba bersih 30%. Mitra diperkirakan balik modal dalam delapan bulan.Ketiga, paket resto dengan biaya investasi Rp 100 juta. Dalam paket ini, mitra harus menyediakan tempat seluas 40 meter persegi. Mitra akan mendapat dekorasi tempat, perlengkapan, bahan baku awal serta pelatihan.

Estimasi omzetnya sebesar Rp 40 juta per bulan, dengan laba bersih 30%. Target balik modalnya sekitar sembilan bulan sejak beroperasi.Lantaran kemitraan AFC ini masih baru, Dicky masih belum menetapkan royalty fee. "Royalty fee berlaku jika mitra sudah balik modal," tuturnya.Membidik segmen konsumen kelas menengah bawah, satu potong ayam goreng tepung di AFC dibanderol seharga Rp 6.000. Kehadiran AFC ini melengkapi RFC dan JFC yang cenderung membidik kelas menengah atas.
Pengamat waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim mengatakan, prospek bisnis makanan olahan ayam masih menjanjikan. Dengan harga jual yang terjangkau, perputaran uang di bisnis makanan olahan ayam cukup cepat.
Selain itu, modal membangun bisnis makanan olahan ayam juga tergolong murah.
Namun, jika usaha ayam goreng ini ditawarkan dalam bentuk kemitraan, sebaiknya pemain yang menawarkan kemitraan harus memberikan contoh gerai yang sudah sukses di bisnis ini.

“Sebaiknya, suatu bisnis kemitraan baru bisa menawarkan kerjasama jika sudah berumur di atas dua tahun sampai tiga tahun,” ujar Erwin.
Maka itu, Erwin menyarankan, AFC menahan diri dulu dengan memusatkan perhatian pada pengembangan usaha sampai berhasil. Setelah itu, baru menawarkan kemitraan.

CV. Alexa Fried Chicken
Graha DFI 2nd Floor - 
Grand Surapati Core Jl PHH Mustofa No 39, Bandung
HP: 087825455551

Sumber : Kontan, Rabu 9 Januari 2013
               Revi Yohana. S , Noverius Laoli

Wednesday, December 26, 2012

Peluang Cantik Klinik Perawatan Wajah


Merawat dan menjaga penampilan tubuh dan wajah kini sudah menjadi kebutuhan, baik bagi para wanita mau pun pria. Hal ini turut menggairahkan bisnis klinik kecantikan yang menawarkan jasa perawatan tubuh dan wajah.Terbukti, banyak pemain bisnis ini yang menawarkan waralaba dan kemitraan. Tawaran kemitraan ini salah satunya datang dari klinik kecantikan Estetiderma di Jakarta Selatan.

Klinik kecantikan yang berada di bawah naungan PT Estetika Dermanto Center ini menawarkan pelbagai jasa perawatan kecantikan wajah. Di antaranya ada laser, facial, mikroderma terapi, dan perawatan melalui obat-obatan merek Estetiderma.
Berdiri tahun 1997, klinik ini resmi menawarkan kemitraan tahun 1998. "Saat ini telah ada 24 gerai Estetiderma yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Bali, Balikpapan, dan Samarinda," kata Agung Suhardi, Marketing Manager Estetiderma. Dari 24 gerai itu, tiga di antaranya miliki pusat dan 19 lainnya milik mitra. Agung mengklaim, produk-produk kecantikan yang digunakan sudah teruji klinis dan dibawah pengawasan dokter spesialis kecantikan kulit. Dalam kerja sama kemitraan, Estetiderma mematok biaya investasi sebesar Rp 174 juta. Mitra akan memperoleh masa kerja sama dua tahun, pelatihan dokter dan terapis.

Selain itu, ada juga fasilitas alat-alat perawatan wajah, seperti alat microderma terapi, radio frekuensi untuk mengencangkan wajah, foto dinamik terapi, dan elektrokauster. Perlengkapan klinik seperti sprei, waslap, handuk, dan selimut, juga sudah termasuk dalam paket tersebut.Begitu juga dengan sarana promosi, seperti spanduk, neon box, dan poster. Namun, paket Rp 147 itu belum termasuk furnitur, dekorasi tempat, dan sewa tempat. Tenaga dokter juga wajib disediakan sendiri oleh mitra. Untuk tempat usaha, mitra perlu menyediakan tempat dengan minimal empat ruangan yang memiliki luas masing-masing 9 meter persegi.Sementara untuk tenaga dokter, mitra perlu merekrut dua orang dokter yang satu di antaranya adalah dokter spesialis kecantikan.

Agung menargetkan, omzet mitra dalam sebulan mencapai Rp 100 juta - Rp 140 juta. Dengan laba bersih 50%, mitra diharapkan bisa kembali modal dalam 15 bulan. Untuk pungutan royalty fee terdapat dua piihan. Yakni, 5% dari omzet atau membayar Rp 10 juta per tahun. Pengamat waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim menilai, kerjasama ini mestinya memasok dokter ke mitra-mitra. Bila diserahkan ke mitra, pasti mereka akan kesulitan mencari dokter sendiri. "Apalagi di Jakarta, izin praktik dokter dibatasi maksimal hanya tiga tempat saja," kata Erwin.Dari segi market, ia menilai sudah tepat bila Estetiderma membidik segmen pasar kelas menengah atas. Segmen pasar itu banyak terdapat di kota-kota besar.  
Dari segi eksistensi, Estetiderma juga sudah bertahan lama. Tinggal bagaimana membuktikan target balik modal selama 15 bulan bisa tercapai. "Jadi perlu ada contoh outlet yang sudah berjalan," ujarnya.

Rukan Permata Senayan Blok C No.25 
 Jl. Tentara Pelajar, Jakarta Selatan

Sumber: Kontan, Rabu, 26 Desember 2012
                Havid Vebri, Revi Yohana

Thursday, November 22, 2012

Mengincar Laba Dari Pendidikan Usia Dini


Bisnis pendidikan prasekolah atau pendidikan anak usia dini (PAUD) kian marak. Selain pemain lokal, bisnis PAUD juga diramaikan brand asing. Salah satunya adalah Bright Star International Preschool asal Inggris.

Lembaga pendidikan khusus anak ini dibawa masuk ke Indonesia oleh Dian Sukmawan yang berdomisili di Cengkareng, Jakarta Barat. Dian mulai menawarkan kemitraan Bright Star pada tahun ini.

Saat ini, Bright Star sudah memiliki tiga mitra yang berlokasi di Bandung dan Semarang. Namun, semua sekolah, termasuk milik pusat, baru memulai proses belajar-mengajar pada Juli 2013, sesuai jadwal tahun ajaran baru.

“Saat ini, semua sekolah sedang dalam tahap pendirian. Kami akan mematangkan semua proses agar tahun depan sudah mulai rekrutmen dan memulai pengajaran,” kata Dian.

Dian mengklaim, Bright Star menggunakan metode belajar unggul. Setiap materi yang diajarkan di PAUD ini didesain untuk diaplikasikan langsung oleh para siswa.

Selain metode belajar, kurikulum pelajaran juga mengadopsi yang dipakai Bright Star International Preschool di Inggris. Tenaga pengajarnya juga akan direkrut sesuai standar international, seperti keharusan mahir berbahasa Inggris.

Dian optimistis, metode tersebut dapat diterima masyarakat. Ia pun menargetkan, bisa menjaring delapan mitra baru hingga tahun 2014.

Bright Star menawarkan satu paket kemitraan dengan biaya investasi Rp 300 juta. Biaya itu sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 50 juta, kurikulum berbasis internasional, pengembangan usaha, rekrutmen guru, pelatihan guru setiap bulan, renovasi sekolah, dan fasilitas pendidikan lainnya.

Dian menargetkan mendapatkan omzet tiap sekolah Rp 800 juta hingga Rp 1,5 miliar dalam setahun, atau sekitar Rp 66 juta hingga Rp 125 juta per bulan. Sementara, laba bersihnya berkisar Rp 70 juta hingga Rp 700 juta per tahun.

Dengan demikian, mitra akan balik modal dalam jangka satu tahun hingga empat tahun. “Omzet minimal itu kami hitung dengan asumsi mitra bisa menekan biaya sekolah serendah mungkin,” ucap dia.

Bright Star memungut biaya royalti dari tiap mitra sekitar 5% - 10% dari omzet bulanan. Murid yang bersekolah di Bright Star akan dipungut biaya sekolah berkisar antara Rp 300.000 sampai Rp 1,5 juta per bulan.

Selain itu, ada juga uang pembangunan sebesar Rp 3 juta - Rp 6 juta per tahun. Biaya pembangunan itu mencakup seragam, buku, fasilitas pendidikan, dan ekstrakurikuler untuk anak-anak.

Setiap sekolah akan berisi delapan kelas yang dibagi dalam empat kurikulum, yakni nursery A, nursery B, kindergarten A, dan kindergarten B.  Setiap kelas maksimal berisi 20 siswa. Luas setiap sekolah minimal 300 meter persegi.

Pengamat waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim menilai, bisnis PAUD sangat kompetitif karena sudah banyak sekali pemainnya. Berhubung Bright Star mengusung kurikulum internasional, target pasarnya adalah kalangan menengah ke atas.

Jika ingin sukses, pemilihan lokasi tentu harus lebih tepat. “Kalau bisa, lokasinya jangan berdekatan dengan sekolah intenasional lainnya,” sarannya. Selain itu, sumber daya manusia atau tenaga pengajar di sekolah ini juga harus menjadi perhatian utama.

Erwin menyarankan, Bright Star harus melakukan seleksi ketat dan memberikan pelatihan khusus kepada tenaga pengajar, sehingga sumber daya manusia ini bisa menunjang bisnis sekolah.
Sumber : Kontan, 22 November
                 Marantina Napitu, Havid Vebri

Friday, November 2, 2012

Peluang bisnis steik harga kaki lima


Daging bakar alias steik (steak) sudah tak asing bagi lidah orang Indonesia. Selain di restoran-restoran mahal. Kini banyak kafe atau restoran yang menjajakan steik harga kaki lima. Salah satunya adalah Zuper Steak di Bandung, Jawa Barat. Usaha steik milik aktor Hengky Kurniawan ini berada di bawah naungan PT Bandung Era Sentra Waralaba (Best Waralaba).Berdiri Januari 2012, Zuper Steak resmi menawarkan kemitraan sejak Agustus lalu. Reno Syafudin, Executive Marketing PT Best Waralaba, mengatakan saat ini Zuper Steak belum memiliki mitra. "Saya optimistis Zuper Steak bakal sukses," ujarnya.

Menu-menu yang ditawarkan di Zuper Steak terdiri dari chicken steak, sirloin, tenderloin, burger, hotdog, dan spagheti. Harga menu-menu itu berkisar antara Rp 6.000 hingga Rp 30.000 per porsi. Beragam menu itu disajikan dengan minuman ringan, seperti jus dan iced blended.Dalam kerjasama kemitraan ini, Zuper Steak menawarkan empat paket investasi. Pertama, tipe kios dengan biaya investasi Rp 65 juta. Mitra yang mengambil paket ini diperkirakan bisa meraup omzet Rp 18 juta per bulan. Dengan laba 40%, mitra bisa balik modal setelah 10 bulan.
Syarat menjadi mitra harus menyediakan kios dengan luas minimal 20 meter persegi. Kedua, tipe ruko dengan biaya investasi Rp 105 juta. Estimasi omzet dalam sebulan Rp 45 juta. Dengan laba 40%, mitra balik modal dalam jangka sembilan bulan. Dalam paket ini, mitra wajib menyiapkan ruko seluas 40 meter persegi.

Ketiga, tipe mini cafe senilai Rp 165 juta. Mitra bisa meraup omzet Rp 60 juta per bulan, dan balik modal setelah delapan bulan. Asumsi laba bersihnya sama, yakni 40%. Dalam paket ini, luas ruangannya 80 meter persegi.
Keempat, tipe resto dengan biaya investasi Rp 225 juta. Mitra bakal mendapat omzet Rp 120 juta per bulan dan diperkirakan balik modal setelah tujuh bulan. Mitra wajib menyiapkan ruangan dengan luas 120 meter persegi. "Laba bersihnya juga 40%," ujarnya.Dalam setiap paket, mitra akan mendapatkan perlengkapan masak, perlengkapan makan dan minum, dekorasi ruangan, promosi, dan bahan baku awal. Hanya jumlahnya saja yang berbeda-beda di setiap paket. Untuk biaya royalti dikenakan 5% dari omzet bulanan.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting mengatakan, tawaran kemitraan makanan steik memang masih menjanjikan. Namun, calon mitra tetap harus jeli dalam mencermati setiap tawaran kemitraan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Diantaranya, mitra harus melihat sejauh mana si pemberi tawaran kemitraan sudah sukses dalam menjalankan usaha ini.Ukuran kesuksesan itu bisa dilihat dari laporan keuangan selama satu tahun beroperasi. Selain itu, sudah berapa gerai yang dimiliki dan bagaimana kinerjanya. "Jadi jangan sampai, laporan keuangan belum ada, dan belum terlihat apakah usaha itu menguntungkan apa tidak,,” ujar Erwin.
Erwin menyarankan, agar Zuper Steak memperbanyak gerai milik sendiri dulu. Bila gerai-gerai itu sudah terbukti sukses, maka bisa menggandeng mitra. Selain itu, Zuper juga harus memiliki standard operational procedure (SOP), sehingga bisa menjawab hal-hal penting yang ditanyakan mitra.

Zuper Steik
Graham DFI 2nd floor-Grand
Surapati Core Jl PHH Mustofa
No 39, Bandung 40192
Hp : 088 1166 7121

Sumber : Kontan, Jumat  2 November 2012
               Noverius Laoli, Marantina